Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Perdebatan


__ADS_3

Selesai makan siang, mereka masih berada di restaurant itu. Mereka ingin rehat sejenak sebelum pulang.


"Kenapa Abah tadi gak ikut aja? Kamu udah beliin makanan buat Abah?" Tanya Yudha


Hati Anista menghangat, merasa Yudha begitu menghargai Ayahnya "Sudah, tadi Abah sudah Nist ajak tapi gak mau"


Yudha mengangguk mengerti "Hmm. Aku ingin kita segera menikah. Tapi, sepertinya kalian harus bertemu dulu dengan orang tuaku"


Tidak peduli dengan hubungan Yudha dengan keluarganya. Namun, dia tetap menghormatinya dan ingin menikah atas restunya.


Anista tersenyum "Iya Mas, aku mau ketemu sama orang tuamu"


Meski aku sudah pernah bertemu dan Nyonya Varinda terlihat tidak menyukaiku.


Yudha tersenyum dan mengelus tangan Anista yang berada di atas meja "Kalo besok bisa?"


"Besok ya??" Aku takut si, tapi kalo di tunda tunda juga percuma. Nanti juga pasti akan bertemu kan.


Anista mengangguk "Iya, besok bisa kok sekalian aku juga ingin ketemu sama Safira"


Yudha mengangguk dan tersenyum "Mumpung Mami masih berada di sini, soalnya lusa dia sudah kembali ke luar negara"


Anista mengangguk mengerti "Yaudah sekarang kita pulang, Evan sudah lemah tuh. Lihat dari tadi hanya diam, hahaha... Matanya tinggal sepuluh persen lagi"


Yudha ikut tertawa melihat anaknya yang menyandarkan kepalanya di atas meja. Pipinya menempel di meja kayu itu, matanya sudah sangat mengantuk.


"Mau Daddy gendong aja Van?" Tanya Yudha


Evan hanya mengangguk lucu, sepertinya bocah itu sudah sangat lelah. Sampai tidak mampu menjawab membuat Yudha kembali tertawa melihat mimik wajah anaknya itu.


"Yaudah yuk kita pulang" kata Anista setelah membawa barang belanjaan mereka


Yudha mengangkat Evan dan di gendongnya. Pipi Evan menempel di bahu Yudha, matanya sudah mulai terlelap.


Anista berjalan di belakang Yudha sambil tersenyum haru. Rasanya seperti mimpi saat bisa melihat Evan di gendong oleh Ayah kandungnya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Jadi kalian akan pergi ke kota?" Tanya Sumintar setelah mendengar cerita dari Yudha dan Anista


"Iya Bah, Neng teh harus menemui keluarganya Mas Yudha dulu" jelas Anista


Sumintar mengangguk mengerti "Iya, itu harus karna kalian mau menikah. Pernikahan itu harus adanya restu orang tua dan keluarga"

__ADS_1


"Iya Bah"


"Jadi, kapan kalian akan pergi?" Tanya Sumintar


"Besok Bah, teu nanaonΒ° kalo Abah Neng tinggal lagi?" Tanya Anista sedikit cemas


"Teu nanaon Neng"


(Gak papaΒ°)


Akhirnya besok paginya Anista, Yudha dan Evan berangkat ke kota. Setelah cukup lama Anista memberikan omelan panjang lebar pada Ayahnya agar selalu menjaga kesehatan saat mereka berada di kota.


Yudha sampai menggelengkan kepala saat melihat bagaiaman cerewetnya calon istrinya ini.


"Bunda, nanti Evan bakalan ketemu sama adik Evan itu ya?" Tanya Evan yang duduk di kursi belakang sendirian


Anista menoleh dan mengangguk "Iya, Evan seneng'kan bisa ketemu sama adik. Nanti Evan jadi ada temannya"


"Iya Bunda Evan seneng"


Yudha mengelus rambut Anista dengan lembut "Terimakasih karna sudah menerima Safira, Sayang"


Anista tersenyum "Aku udah terlanjur sayang sama Safira Mas"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Gak papa, ayo" kata Yudha seolah mengerti jika wanitanya sedang di landa takut dan gelisah


Yudha membuka pintu rumah itu dan langsung masuk ke dalam. Anista hanya mengikutinya dari belakang. Tatapan matanya berkeliling menatap setiap sudut ruangan.


"Kamu tunggu di sini sebentar, aku mau tidurin Evan dulu di kamar" kata Yudha menunjuk sofa dengan dagunya


Anista mengangguk lalu dia duduk di sana. Menunggu dengan harap harap cemas, bahkan tangannya sudah berkeringat dingin sekarang.


"Sudah datang rupanya"


Suara itu membuat Anista langsung menoleh ke arah tangga. Di sana ada Nyonya Varinda dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengannya. Anista langsung berdiri dan menundukan kepalanya.


"Dimana anaku?" Tanya Nyonya Varinda


"Mam, jangan terlalu kasar" bisik si pria di sampingnya


Nyonya Varinda duduk di sofa dengan si pria tadi di sampingnya "Mau sampai kapan kau berdiri terus?"

__ADS_1


Ternyata sifat dingin Mas Yudha menurun dari Ibunya ya.


Anista pun duduk tanpa bisa membantah, menundukan kepalanya dengan tangan saling bertaut. Ya Allah, kenapa suasananya sangat menakutkan.


Tatapan tajam dari Nyonya Varinda membuat Anista merasa terintimidasi. Mas Yudha kenapa lama sekali, aku takut.


"Aku dengar kau mempunyai anak bersama Yudha? Bagaimana bisa? Kau tahu'kan jika dia mempunyai istri dan anak? Kenapa kau tega menghancurkan masa depan balita sekecil Safira yang harus menghadapi kenyataan jika orang tuanya telah berpisah sejak dia balita"


Deg


Tidak!!


Anista tidak melakukan itu, dia juga tidak tahu jika majikannya masih mempunyai istri dan dia juga tidak menyangka jika pria yang di cintainya ternyata adalah ayah kandung dari anaknya.


Tapi, entah kenapa Anista merasa sakit mendengar ucapan Nyonya Varinda. Jujur saja dia juga tidak tega dengan keadaan Safira nantinya.


Safira akan mendapatkan kenyataan orang tuanya yang berpisah sejak dia balita juga harus menerima seorang saudara laki laki dari rahim wanita lain atas kesalahan Ayahnya.


Anista sudah meneteskan air mata mengingat bagaimana rumitnya kehidupan dia.


Bahkan sampai sekarang dia sudah menemukan pria yang di cintainya juga ayah dari anaknya. Tetap saja hidupnya selalu rumit dan di kelilingi masalah demi masalah.


Tuhan, bolehkah aku menyerah saja. Nist capek dengan semua ini.. Hiks...


"Kenapa tidak menjawabnya? Benar'kan jika kamu menggoda Yudha dan mengincar harta anak saya?" Kata Varinda sinis


"Varinda"


"Mam!!"


Teriakan Yudha dan pria di samping Nyonya Varinda membuat wanita paruh baya itu terdiam. Dia menoleh dan menatap anaknya yang berjalan menghampiri mereka.


Yudha duduk di samping Anista dan merangkul bahu wanita itu "Mami mikir gak sih apa yang udah Mami ucapkan barusan? Mami belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, jangan seenaknya mengambil pemikiran sendiri"


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kau yakin jika anak yang di bawa wanita ini adalah anak kandungmu? Bisa saja dia berbohong hanya untuk mendapatkan hartamu"


"Mam, Cukup!! Aku tahu siapa wanita pilihanku. Aku yakin dengan pilihanku, wanita pilihanku tidak seperti wanita pilihan Mami yang bahkan tidak mau mengurus anak kandungnya sendiri" Yudha berkata dengan amarah memuncak.


"Lihatlah dia Mam, bahkan dia merawat anaku, membesarkannya dan mendidiknya sendiri tanpa kehadiran suami di sampingnya" lanjut Yudha lagi


Anista menggenggam tangan Yudha yang mengepal erat. Benar, Yudha langsung menggenggam tangan Anista dan mengelus jari jarinya.


"Perlu Mami ketahui ada satu hal yang Mami tidak tahu. Mungkin siapapun tidak tahu kecuali aku dan Bima. Aku memperk*osa gadis di hotel kita di luar kota" kata Yudha dengan penuh penekanan

__ADS_1


Deg


Bersambung


__ADS_2