Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Kehidupan Anista jauh lebih baik sekarang. Sudah satu minggu lebih dia berada di Ibu kota sejak pulang dari kampungnya. Dia sudah tidak dalam keadaan berduka. Anista sudah mengikhlaskan Ayahnya. Saat ini Anista hanya perlu mendo'akan Ayahnya.


Selama seminggu ini keduanya tidur bersama. Di kamar dan ranjang yang sama, namun masih belum ada yang terjadi di antara keduanya.


Yudha ingin memberi dulu waktu untuk istrinya. Apalagi dia tahu bagaimana perasaan istrinya setelah di tinggalkan keluarga satu satunya yang dia miliki.


"Mulai besok ada pengasuh baru yang akan bekerja disini" kata Yudha


Anista yang sedang memasangkan dasi di leher Yudha langsung mendongak menatap wajah suaminya "Kenapa?"


"Aku hanya ingin Fira tidak terlalu ketergantungan sama kamu. Apalagi dia terlihat begitu manja sama kamu, Evan saja tidak srbegitu manjanya sama kamu" jelas Yudha


Anista megerti apa maksud Yudha, pria itu memang sedikit keras pada anak anaknya. Tapi, dia tentu sangat menyayangi mereka.


"Yaudah si Mas, kan Safira juga anak aku" kata Anista


Iya, tapi kalo kamu terus terusan sama anak anak. Terus kapan waktunya sama aku.


Benar, sebenarnya inilah alasan Yudha yang utama untuk mencarikan pengasuh baru untuk anak anaknya. Dia merasa cemburu pada anaknya sendiri saat Anista lebih banyak waktu untuk kedua anaknya.


Aneh memang, tapi Yudha tetap saja ingin perhatian Anista lebih banyak untuknya. Entahlah apa yang ada di fikiran Yudha sehingga dia bisa bisa kekanak kanakan seperti ini.


"Tapi Sayang, aku tetap ingin ada pengasuh untuk anak anak kita" kata Yudha sedikit memaksa


Anista menghela nafas "Yaudah terserah kamu aja"


Yes....


Yudha begitu bersorak bahagia dalam hatinya "Nanti siang pengasuhnya akan datang"


Anista mengangguk mengerti "Yaudah sekarang ayo kita turun untuk sarapan"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Anista begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang. Melihat bagaimana anak anaknya akur seperti itu membuat Anista bahagia melihatnya.


Pengasuh yang Yudha katakan sudah datang sejak tadi siang. Sekarang anak anaknya terlihat nyaman bermain dengan pengasuh barunya yang bernama Isni itu.

__ADS_1


Anista tersenyum saat mengingat bagaiamana dia membayangkan jika pengasuh anak anaknya akan seperti dirinya yang masih muda. Ternyata Yudha memilih pengasuh yang sudah cukup umur tapi belum terlalu tua.


Malam harinya Yudha pulang ke rumah setelah melewati hari melelahkan dengan segala urusan pekerjaan nya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Anista segera menghampiri suaminya yang berjalan masuk ke dalam rumah. Mengambil tas kerja juga jas yang sudah Yudha lepas dari tadi.


"Mau mandi dulu atau makan dulu?" Anista mencium telapak tangan Yudha lalu punggung tangannya.


Yudha mencium kening istrinya "Mandi dulu saja"


Anista mengangguk lalu segera mengajak Yudha ke lantai atas,menuju kamar mereka.


"Aku siapin airnya dulu" kata Anista berlalu ke kamar mandi setelah mereka berada di dalam kamar.


Yudha membuka kemejanya sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Inilah yang aku dambakan dari dulu. Tidak perlu mempunyai istri berkarir dan terkenal yang terpenting aku bisa merasakan perhatiannya.


Yudha tersenyum "Terimakasih Sayang"


Anista mengangguk dan berjalan menuju pintu kamar "Aku siapin makan malam dulu ya, nanti kalo udah Mas langsung turun"


Yudha mengangguk lalu masuk ke ruang ganti dan menuju kamar mandi. Sementara Anista menyiapkan makanan yang sudah di masakan oleh Pak Danu. Anista memang jarang memasak, hanya jika Yudha meminta saja karena Yudha juga melarang Anista untuk tidak terlalu kelelahan.


Selesai makan malam, Yudha dan keluarga kecilnya berkumpul di ruang keluarga. Melihat bagaimana Evan begitu menyayangi adiknya. Bahkan Evan tidak marah saat susunan lego yang telah di rangkainya malah di hancurkan kembali oleh Safira.


Yudha begitu bahagia dengan semua ini, keluarga harmonis ini kini bukanlah hanya pura pura semata. Keluarga bahagia yang Yudha ciptakan hanya di depan publik saja, kini menjadi kenyataan di dunianya.


Terimakasih Tuhan, telah mengirimkan perempuan sehebat istriku ini


"Sayang" panggil Yudha


Anista yang sedang terfokus pada kedua anaknya yang bermain di atas karpet berbulu itu langsung menoleh saat mendengar panggilan dari suaminya.


"Iya?"

__ADS_1


"Aku mau melanjutkan rencana pernikahan kita yang tertunda itu" kata Yudha


Anista berdiri dan duduk di sofa, samping suaminya "Maksudnya? Kamu mau menikah lagi gitu?"


Yudha menggeleng pelan melihat kebodohan istrinya ini. Bagaimana mungkin aku mempunyai istri bodoh seperti ini. Tapi, aku begitu mencintainya.


"Dasar bodoh. Maksud aku kita akan mengadakan resepsi pernikahan yang kita rencanakan dulu" jelas Yudha merasa gemas juga melihat mimik wajah bodoh istrinya


Anista mengangguk kecil "Ouhhh.. Terserah kamu saja Mas, lagian Nist mah gak ada acara resepsi juga gak papa. Lagian kita juga menikah bukan dalam keadaan suci"


Yudha menatap tidak suka pada wanitanya itu "Apa maksudmu dengan tidak suci?"


Anista menghela nafas berat "Mau menutupi sampai mana pun, tetap saja Nist ini bukan wanita suci. Nist bukan lagi perawan dan juga mempunyai anak di luar nikah. Takutnya nanti akan menjadi masalah sama reputasi kamu kalau semua orang tahu tentang ini"


Pletak...


Yudha menyentil kening Anista sampai gadis itu mengaduh kesakitan "Apaan si Mas, kok malah menyentil dahi Nist? Sakit tahu"


"Kau ini pura pura bodoh atau emang benar benar bodoh. Keadaan mu seperti ini karena siapa? Karena aku'kan? Itu artinya aku yang salah, aku yang membuatmu seperti ini. Bahkan aku bangga karena saat itu aku mendapatkan kamu dalam keadaan suci"


"Aku tidak peduli dengan reputasiku dan apa yang akan orang orang fikirkan tentangku. Aku hanya tidak ingin pernikahanku seolah olah di sembunyikan dari publik" kata Yudha


Anista terdiam mendengar penuturan Yudha barusan. Begitu beruntungnya dia mendapatkan suami seperti Yudha. Merasa terharu dengan ucapan Yudha barusan, Anista langsung memeluknya dengan erat.


"Terimakasih Mas, kamu sudah menerima Nist apa adanya" lirih Anista, matanya sudah berkaca kaca


Yudha mencium puncak kepala Anista "Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau sudah menerima pria berengsek ini"


Anista menggeleng cepat "Kamu itu bagaikan malaikat yang di kirim Tuhan untuk melindungiku dan Evan"


Keluarga bahagia yang di dambakan oleh semua orang termasuk Yudha dan Anista. Dan kini kebahagiaan itu telah mereka dapatkan. Meskipun tidak menampik kemungkinan jika rintangan dan cobaan ke depannya akan terus datang menimpa keluarga mereka.


Namun, Anista dan Yudha akan selalu berpegangan tangan menghadapi semua rintangan dan cobaan itu. Tidak ada yang boleh meninggalkan salah satunya apapun yang terjadi.


Bersambung


Jangan lupa Like, komen dan kasih hadiahnya ya.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2