
"Semuanya demi kebahagiaan Evan, Bah. Neng teh siap menerima kembali Mas Yudha demi kebahagiaan anak Eneng, Bah. Bagaimana pun Neng bisa melihat bagaimana Evan membutuhkan dan merindukan sosok seorang Ayah" jelas Anista
Sumintar mengangguk dan mengelus sayang kepala putrinya "Abah bangga sama Neng, Eneng teh bisa mengambil keputusan sebijak ini"
Anista mendongak dan menatap langit senja di sore hari ini. "Karna Neng ingin memberikan yang terbaik untuk Evan Bah. Do'akan selalu kebahagiaan untuk Neng dan semoga keputusan yang Neng ambil adalah yang terbaik untuk kita semua"
Sumintar mengangguk "Selalu Nak, Abah selalu mendo'akan yang terbaik untuk Neng"
Anista memeluk Ayahnya yang berdiri di sampingnya "Terimakasih Bah"
Sumintar hanya mengangguk dengan tangan mengelus kepala anaknya. Ya Allah berilah kebahagiaan untuk anaku dan cucuku.
"Bundaaa... Abahh..." teriak Evan yang baru pulang habis bermain dengan anak tetangga.
Anista menoleh dan tersenyum melihat anaknya "Iya Nak"
"Bunda kapan Daddy datang kesini lagi?" Tanya bocah itu
Anista mengelus kepala anaknya lalu dia berjongkok, mensejajarkan tinggi tubuhnya "Nanti ya, Daddy masih banyak kerjaan di kota"
Evan menghela nafas dan memberengut kesal "Daddy gak sayang lagi sama Evan ya Bunda? Dia bakal pergi ninggalin Evan lagi ya?"
Anista menggeleng cepat "Tidak Sayang, Daddy sedang banyak pekerjaan disana kan buat beliin Evan mainan lagi. Jadi, Evan gak boleh sampai berfikir seperti itu"
"Abisnya teman teman Evan selalu bilang kalo Evan bohong saat Evan bilang kalo Evan juga punya Ayah"
Deg
Hatinya tersayat saat mendengar apa yang di ucapkan oleh anaknya. "Iya Nak, nanti kalo Daddy sudah kembali kesini Evan kasih tahu teman teman kalo Evan juga mempunyai Ayah"
"Sudah, berteman baik baik. Jangan dengarkan ucapan teman teman Evan" kata Sumintar
Evan mengangguk "Iya Abah, Bunda"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Nist, si Evan teh bilang sama anak saya kalo katanya dia teh punya Ayah? Siapa? Jangan suka membohongi anak sendiri"
Anista menghela nafas pelan mendengar cerocosan tetangganya itu. Saat ini dia sedang berbelanja sayur di penjual sayur keliling di kampung ini.
"Iya Bu, memang anak Nist teh punya Ayah" jawab Anista tenang
"Cih. Ayah hayalan kali, mana mungkin anak haram itu mempunyai Ayah. Bukannya kamu juga gak tau siapa yang menghamili kamu" kata si Ibu nyinyir berbaju merah cerah
__ADS_1
"Iya, saking banyaknya pria yang meniduri kamu sampai kamu aja gak tau siapa Ayahnya Evan" kata si Ibu berambut pendek
Huhh...
Anista membuang nafas kasar, mencoba mengendalikan emosinya. Dia tidak ingin bertengkar di tempat seperti ini, apalagi dengan orang orang yang lebih tua darinya.
"Eh Nist, saya teh sebenarnya tidak suka kalo Evan selalu main sama anak saya. Tahu sendiri'kan kalau anak kamu itu bisa membawa pengaruh buruk untuk anak anak di kampung ini. Secara anak tanpa didikan seorang Ayah si" Ibu berbaju merah kembali berbicara
Kuatkan Nist Ya Allah..
"Berapa semuanya Mang?" Tanya Anista setelah selesai memilih belanjaan yang di butuhkan nya
"30 ribu Neng, tidak ada lagi tambahan?"
Anista menggeleng lalu memberikan uang selembar berwarna biru, menunggu si penjual sayur mengambil kembaliaan nya dengan gelisah. Apalagi saat Ibu Ibu itu menjadi diam dan menatap ke arahnya dengan tatapan sulit di artikan.
Mereka kenapa?
"Ini Neng, kembaliannya 20 ribu" si penjual sayur menyerahkan selembar uang berwarna hijau yang langsung di terima oleh Anista
"Nuhun Mang"
(Terimakasih Mang)
Yudha berdiri dengan bersidekap dada, tatapan nya tajam menghunus pada Ibu Ibu yang sedang memilih sayur mayur.
Kakinya melangkah tegap melewati Anista yang masih berdiri mematung melihat dia tiba tiba datang tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.
Anista tersadar, dia langsung berbalik dan berdiri di samping Yudha. Tangannya memegang tangan Yudha, takut jika calon suaminya tidak bisa lagi menahan emosinya. Mengingat bagaiaman sifat Yudha yang sangat sulit menahan emosinya.
"Mas ayo kita ke rumah, ngapain Mas disini?" Bisik Anista menarik ujung lengan kemeja yang di pakai oleh Yudha
Yudha tidak bergeming sama sekali, tatapan nya tetap lurus dengan tatapan yang sangat tajam "Siapa yang berani menghina anaku?"
Suara dingin dan penuh dengan penekanan itu langsung membuat semua yang barada di sana merinding. Si Ibu berbaju merah yang tadi begitu berani, kini hanya diam menunduk dengan tangan gemetar.
"Perlu kalian ketahui, disini sayalah yang salah, sayalah yang berdosa. Jangan sekali kali kalian semua menghina anaku dan Bundanya. Mereka tidak salah apapun" tekan Yudha
Yudha langsung menarik tangan Anista dan pergi dari sana. Dadanya naik turun menahan emosi dan sedih yang begitu memuncak. Perasaan bersalah terus menghantuinya, mengingat kembali apa yang di katakan oleh Ibu Ibu tadi membuat Yudha merasa sesak.
"Mas"
Anista mengelus tangan kekar Yudha, dia tahu jika calon suaminya itu sedang emosi. Yudha menoleh, mata teduh dari Anista membuat Yudha bisa lebih tenang.
__ADS_1
"Apa mereka sering seperti itu?" Tanya Yudha, meskipun dia tahu jawabannya. Sumintar sudah pernah bercerita padanya.
Anista tersenyum "Enggak kok, baru tadi saja"
Tuhkan bohong lagi, kenapa si selalu saja menutupi kesalahan orang lain. Kamu memang terlalu sempurna untuk ku Nist.
Yudha memicingkan matanya "Beneran?"
"Sudahlah Mas, kenapa malah bahas mereka si. Lagian Mas datang ke sini kok gak kabarin aku dulu?" Kata Anista mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya kenapa kalo aku datang tiba tiba dan tidak memberi tahumu dulu? Takut ketahuan lagi berduaan sama si Lampu?" Tanya Yudha dingin
Loh kok malah kesitu si?
"Bukan gitu Mas, Nist kan gak siap siap dulu. Malah belum masak lagi, sayuran yang tadi Nist beli malah jatuh di sana" jelas Anista menghela nafas
Yudha mengelus rambut Anista lalu mengecupnya "Kita beli aja, sekalian kita jalan jalan. Ajak Evan sekalian"
"Hmmm. Baiklah"
Akhirnya calon keluarga bahagia ini pergi jalan jalan bersama Yudha. Perjalanan cukup jauh untuk bisa sampai di mall yang ada di dekat kampungnya Anista.
"Evan mau beli mainan Daddy" rengek bocah kecil itu sambil menggoyangkan tangan Ayahnya
"Kan di rumah sudah ada Nak, kenapa harus beli lagi si?" Kata Anista lembut
Evan menghela nafas, dia tidak berani membantah ucapan Bundanya. Yudha yang melihat itu tersenyum, merasa bangga pada Anista yang bisa membuat anaknya begitu nurut padanya.
"Gak papa Bun, ayo kita beli mainan yang banyaaakkkk buat Evan" kata Yudha
Evan langsung mendongak dan tersenyum cerah "Beneran Dad? Boleh beli yang banyak?"
Yudha mengangguk sambil tersenyum "Iya Sayang"
Anista menghela nafas, sepertinya Yudha akan selalu memanjakan Evan "Mas, jangan terlalu di manjain deh"
Yudha tersenyum "Gak papa Sayang, kan gak tiap hari juga"
Akhirnya Anista hanya bisa mengalah dan membiarkan Yudha membeli apa yang anaknya inginkan. Setelah cukup apa yang mereka beli, akhirnya mereka makan di restaurant yang ada di mal itu.
Bersambung
Hai semuanya.. aku cuma mau tanya aja? Gak papa kalo part novel Light Of My Life bakal agak panjang.. kaya novel KCS sama KIBS gitu. soalnya masih banyak hal hal yang belum di bahas.. ya paling sampe seratus episode.. gimana nih menurut kalian??
__ADS_1