Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Belanja


__ADS_3

Yudha terus merangkul pinggang istrinya, melihat banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Sebenarnya dialah yang menjadi perhatian banyak orang. Ketampanan di tambah dengan balutan jas mahal yang di kenakannya.


Namun, dirinya merasa jika tatapan-tatapan itu tertuju pada istrinya. Apalagi jika laki-laki yang menatap ke arah mereka. Wahh.. Semakin eratlah dia memeluk pinggang istrinya. Seolah ingin menunjukan pada semua orang jika wanita hamil ini adalah istrinya, wanitanya.


"Mas, lepasin ihh. Malu" lirih Anista melihat banyak tatapan iri dan dengki padanya


"Apa? Kita pulang saja, biarkan Bima yang mengurus semua keperluan untuk bayi kita. Lihatlah bagaimana tatapan mereka, ingin rasanya aku mencolok mata para pria sialan itu" kesal Yudha


Apasi? Mereka itu menatap kamu, bukan aku. Hey sadarlah Tuan Muda.


"Yaudah biarin aja, kita ke sini'kan mau jalan-jalan sambil belanja beberapa keperluan bayi kita. Gak usah pedulikan mereka, Mas" kata Anista dengan nada lembut sambil mengelus tangan suaminya.


Sudahi sikapmu ini, sebelum reputasimu hancur.


Anista benar-benar bingung dengan sikap suaminya saat ini. Terlalu posesif sehingga tidak sadar jika yang di lakukannya terlalu berlebihan.


"Sudah, ayo kita cari perlengkapan untuk bayi kita. Jangan pedulikan mereka" bisik Anista di akhiri dengan kecupan di pipi suaminya.


Meski malu, tapi Anista harus melakukan ini agar suaminya tidak bertingkah seperti ini terus. Seolah Anistanya akan di ambil oleh pria lain. Hal yang tidak mungkin terjadi.


Benar saja, Yudha langsung tersenyum tipis. Wajahnya sudah berubah lebih cerah, dia menatap istrinya dengan binar penuh kebahagiaan.


"Ayo lagi Sayang.." kata Yudha dengan senyuman penuh arti


Anista mengerutkan keningnya, bingung "Lagi? Maksudnya?"


Cup


Yudha mencuri kecupan singkat bibir istrinya itu, membuat Anista begitu terkejut dengan tindakan suaminya itu.


Anista langsung melihat ke sekitarnya, semua orang menatap ke arah mereka. Ada juga yang sampai memotret adegan itu dengan ponselnya. Aaa.. Anista sangat malu sekarang.


"Mas, malu ihh" kesal Anista sambil mencubit perut suaminya.


"Kenapa? Aku hanya menunjukan lagi jika kau adalah miliku" kata Yudha santai

__ADS_1


Anista hanya mendengus kesal, dia semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Yudha melanjutkan langkahnya dengan sang istri berada di pelukannya.


"Malu ihh, semua orang lihatin kita" kesal Anista, lagi-lagi mencubit perut Yudha dan memukul dadanya


Yudha malah semakin mengecupi puncak kepala istrinya itu, tangan kanannya semakin mengeratkan rangkulannya di bahu Anista. Sementara tangan kirinya sesekali mengelus perut buncit sang istri.


"Kan kamu sendiri yang bilang untuk tidak memperdulikan mereka" kata Yudha santai


Anista ingin melepaskan diri dari rangkulan suaminya. Namun, hal itu langsung di tahan oleh suaminya.


"Mau kemana hmm?"


"Mas, aku engap. Mau cari perlengkapa bayi kan? Yaudah ayo, malah peluk aku erat banget kayak gini si" kata Anista melepaskan paksa tangan suaminya yang merangkul bahunya


Anista langsung menggandeng tangan suaminya saat melihat tatapan dinginnya "Gandengan aja ya"


Akhirnya mereka berada di tempat penjualan segala kebutuhan bayi yang berkualitas, tentunya. Anista begitu asyik memilih barang-barang untuk bayinya nanti. Sesekali tangannya mengelus perutnya seolah menunjukan barang-barang yang akan dia beli kepada bayi di dalam perutnya.


Yudha hanya diam memperhatikan apa yang di lakukan istrinya. Dia duduk di atas sofa yang berada di tempat itu. Tidak ada pelanggan lain di sana selain mereka berdua.


Yudha telah meminta pemilik toko ini untuk tidak melayani pelanggan lain selain istrinya. Tentu saja dengan nama yang tersemat di belakangnya, semuanya begitu bisa dia lakukan.


Namun, saat di perlukan seperti ini. Namanya benar-benar berguna, setelah menunjukan kartu identitas dan bukti lainnya tentang dirinya yang menyimpan saham terbesar di mal ini. Maka pemilik toko ini pun langsung menyanggupi keinginan Yudha.


Selama ini wajah Yudha hanya terkenal sebagai suami dari model terkenal, Eliana Merlina. Hanya beberapa orang yang tahu jika Yudha adalah seorang pengusaha muda. Wajahnya lebih sering muncul di majalah bisnis, membuat hanya beberapa orang yang dapat melihatnya.


"Beli saja tiga-tiganya Sayang" kata Yudha saat melihat istrinya sedang bingung memilih tiga barang yang sama dengan warna dan model yang berbeda.


Anista menoleh "Kebanyakan Mas, lagian kita cuma butuh satu aja"


"Dari pada bingung gitu, beli aja semuanya. Biar nanti bisa ganti-ganti, anak kita pakenya" kata Yudha lagi


"Mubazir Mas, udah kamu diem aja deh. Biar aku yang milih" kata Anista


Yudha langsung terdiam, dia biarkan saja istrinya memilih barang yang dia mau untuk keperluan bayi mereka nanti.

__ADS_1


Melihat wajah Anista yang serius dan membandingkan satu barang dengan barang yang lainnya. Membuat Yudha tersenyum gemas dengan ekspresi istrinya itu.


Si pelayan toko hanya diam melayani dengan sebaik mungkin. Menjawab segala pertanyaan dari pelanggan sepesialnya ini.


Bahagia banget jadi Nona ini, bisa dicintai dengan sebesar itu oleh suaminya yang kaya. Hah.. Padahal melihat penampilan dan wajahnya, sangat jauh sekali dengan model terkenal, mantan istrinya Tuan Yudha itu.


Tapi, percuma cantik tapi kelakuan dan hatinya tidak secantik wajahnya. Buktinya sekarang malah di penjara sama pacar gelapnya.


"Yang ini ada warna lainnya?" Tanya Anista menunjukan satu baju bayi yang begitu menggemaskan.


Suara Anista berhasil menyadarkan pelayan toko itu dari lamunannya. Dia tersenyum dan melayani Anista, mengambil beberapa warna yang berbeda dengan model yang sama dengan yang di tunjukan oleh Anista.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Baik Tuan, nanti semua barangnya akan langsung di antarkan oleh pekerja kami ke rumah anda" kata si pemilik toko itu


"Terimakasih" kata Anista dengan senyuman ramahnya, sementara suaminya hanya diam dengan wajah datar.


Selesai belanja semua keperluan bayi yang mereka butuhkan. Yudha membawa Anista ke restaurant di dalam mal itu.


Dia melihat istrinya begitu antusias memilih banyak barang untuk calon bayi mereka. Sampai saat Yudha mengajaknya untuk makan siang pun, dia terus menolaknya.


"Nanti saja Mas, selesai ini baru makan siang"


Begitulah jawaban Anista setiap Yudha mengajaknya untuk makan siang terlebih dahulu. Sehingga Yudha harus memaksa istrinya untuk segera menyelesaikan belanjanya.


Tidak lagi ada pilih memilih seperti barang-barang yang sebelumnya. Untuk beberapa barang terakhir, Yudha memilih untuk membeli semuanya tanpa harus memilih seperti yang di lakukan oleh istrinya.


Jika tidak seperti ini, maka istrinya akan melewatkan makan siang dan Yudha tidak mau itu terjadi.


"Lelah? Makanya kalo suami bicara itu di dengerin dong Sayang. Gimana si? Kamu itu lagi hamil, perut udah besar gitu masih saja mengabaikan kesehatanmu"


"Kalo tadi aku gak lakuin itu, kamu pasti akan melupakan makan siangmu. Tahu akhirnya akan kayak gini, mendingan aku gak turutin kemauanmu dan menyuruh Bima untuk mengurus semuanya"


Begitulah omelan Yudha yang begitu panjang. Anista hanya menunduk dan mengucapkan 'maaf' saja. Di saat seperti ini, suaminya tidak akan bisa di rayu apalagi di bantah. Dia hanya perlu menuruti apa yang di katakannya.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya..


__ADS_2