Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Cemburu Buta


__ADS_3

"Mas, kamu mau memberi nama siapa anak kedua kita?" Tanya Anista menoleh ke arah suaminya


Bayi mereka tengah terlelap di dalam box bayi. Yudha duduk di samping istrinya, dia peluk tubuh wanita hebat yang begitu berharga untuknya. Duduk berdampingan sambil berpelukan di ranjang pasien.


"Aku sudah menyiapkan nama dari jauh-jauh hari. Tapi, kalo kamu gak cocok kamu bisa ganti ya" kata Yudha, mengelus lembut pipi istrinya yang sedikit berisi


"Kamu'kan tau kalo aku gak kreatif dalam memberi nama anak aku. Hehe.. Evan aja Abah yang kasih nama bukan aku" kata Anista


Yudha mencubit gemas pipi istrinya itu "Iya kamu emang gak kreatif bikin nama anak kita. Tapi, kamu kreatif di atas ranjang loh Sayang"


Ishh.. Apaan dia ini?


Anista bergidik melihat tatapan nakal dari suaminya itu "Aku baru aja lahiran Mas, jangan aneh-aneh!"


"Apasi Sayang, siapa yang aneh-aneh? Aku bicara jujur kok" kata Yudha santai


"Ish, udah cepetan siapa nama anak kita? Malah bahas yang gak penting" kesal Anista


Yudha terkekeh, lalu dia mengecup pipi istrinya dengan gemas "Bagiku hal itu sangat penting Sayang"


Anista hanya berdecak malas, suaminya ini memang benar-benar mesum. Dia seolah tidak ada puasnya dengan permainan yang sering mereka lakukan di dalam kamar hingga menghasilkan buah hati yang begitu menggemaskan.


"Cepetan Mass" kesal Anista saat suaminya malah terus menciumi pipi dan pundaknya.


"Hmm. Aku si mau kasih nama putra kedua kita ini Hervinza Walton. Kita bisa panggil dia Hervin" kata Yudha tersenyum menatap istri kesayangannya


Anista tersenyum "Hervin, Hervan.. Bagus Mas, kamu emang kreatif memberi nama untuk anak-anak kita"


"Iyalah, jangan ragukan lagi kecerdasan Yudha Abimana Walton" kata Yudha santai


"Hih.. Sombong, tetep aja si genius Walton.Corp adalah Bima" kata Anista yang langsung melunturkan senyum penuh kesombongan di wajah Yudha.


"Biarin, yang jelas Bima tetap aku yang gaji"


Anista mencebikan bibirnya, mengejek suaminya "Tapi tetep aja kamu gak akan jadi seperti sekarang kalo gak ada pria sehebat Bima di sampingmu"


Kali ini tatapan Yudha sudah berubah dingin. Dia tidak ingin terus terusan membiarkan istrinya memuji pria lain di depannya.


"Kau berani ya!"

__ADS_1


Anista terkejut mendengar nada dingin dari suaminya. Dia menoleh dan mendapatkan tatapan yang begitu tajam, menusuk relung hatinya.


Ada apa ini? Kenapa marah? Salah bicara apa ya aku?


"Berani memuji pria lain di depan suamimu sendiri? Kau menyukai Bima? Atau kalian bermain gila di belakangku? Iya?" Tanya Yudha dengan tatapan semakin menajam ke arah istrinya


Hah? Gila apa ya? Kenapa malah jadi ke situ berpikirnya si.


"Gak gitu Sayang, aku cuma kagum aja sama kecerdasan Bima yang...."


"DIAM Anista!! Kau mengaguminya? Iya Hah?" teriak Yudha frustasi


Hah.. Makin menjadi deh, lagian nih bibir suka asal ceplos aja deh.


"Dengerin aku dulu Sayang, aku cuma mau bilang kalo kamu itu beruntung bisa dapat asisten seperti Bima"


"Bukan maksud kagum yang kayak gimana, aku cuma mau berterimakasih aja karena Bima sudah berada di samping suamiku selama ini. Dalam keadaan suka dan duka" jelas Anista sambil mengelus pipi suaminya yang masih termakan api cemburu.


Yudha memalingkan wajahnya, dia juga mengakui apa yang di katakan Anista memang benar. Tidak tahu bagaimana hidupnya selama ini, jika tanpa seorang Bima. Namun, Yudha tetap tidak suka jika istrinya memuji pria lain selain dirinya.


"Masss"


"Jangan marah lagi ya, Nist itu cuma milik Mas Yudha seorang. Lagian, Nist gak akan pernah berpaling ke lain hati sementara suami Nist aja sudah sebesar ini mencintai dan menyayangi Nist" kata Anista


Semua yang di katakannya bukanlah hanya rayuan semata agar suaminya luluh dan tidak marah lagi. Tapi, apa yang barusan di ucapkannya adalah kenyataan.


Anista tidak akan pernah berpaling dari seorang Yudha Abimana Walton. Sudah begitu terasa bagaimana tulusnya cinta Yudha padanya.


Anista akan selalu bertahan bersama Yudha dalam kondisi apapun. Sifat arogan dan seenaknya, emosionalnya, semua sikap buruk Yudha akan Anista terima. Dia menerima suaminya apa adanya, semua kekurangan dan kelebihannya.


Tidak peduli apa yang dikatakan orang dan (para readers) jika dirinya terlalu lebay atau apalah itu. Yang jelas cinta Anista untuk Yudha tidak akan luntur dengan kesalah fahaman yang ada.


Hah...


Yudha menghela nafas pelan "Iya, aku juga begitu beruntung mempunyai asisten seperti Bima. Dia sudah seperti saudara untuk ku, dia seorang Kakak untuk ku"


"Selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkan nya, aku selalu memerintah dia dalam hal apapun. Termasuk saat aku terikat permasalahan denganmu"


"Sekarang aku mulai membebaskan dia, aku tidak terlalu membebankan pekerjaan padanya. Aku juga ingin melihat dia bahagia. Menemukan cinta sejatinya yang akan menjadi pendamping hidupnya"

__ADS_1


Anista tersenyum mendengar penuturan suaminya. Dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya "Kita do'akan saja yang terbaik untuk orang-orang yang berjasa dalam kisah cinta kita"


Yudha mengecup puncak kepala istrinya dengan tangannya yang mengelus punggungnya. Anista begitu nyaman saat berada di pelukan Yudha seperti ini.


"Iya Sayang"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Selama tiga hari sejak kepulangannya dari Rumah Sakit. Yudha masih membatasi gerak Anista, istrinya itu tidak boleh keluar kamar. Jika tidak ingin ke kamar mandi atau baby Hervin menangis dan ingin menyusu, maka Anista di larang turun dari tempat tidur.


Bahkan untuk sarapan dan makan pun akan di antarkan pelayan ke kamarnya. Meski terasa berlebihan, namun Anista begitu menikmati kasih sayang dan perhatian dari suaminya.


"Mau kemana Sayang?" Tanya Yudha yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya sudah menurunkan kedua kakinya ke lantai kamar.


Anista menoleh dan tersenyum "Ke kamar mandi Mas, kamu sudah beres kerjanya?"


Sejak Anista melahirkan, Yudha memang belum kembali bekerja seperti biasanya. Dia akan bekerja dari rumah, memeriksa beberapa laporan yang di kirimkan Bima.


"Sudah, yaudah ayo aku antar"


Yudha menghampiri istrinya dan langsung membantu istrinya berdiri dan menggendong istrinya ke kamar mandi.


"Mas, aku udah baik-baik aja. Gak perlu di gendong kayak gini juga" kata Anista menatap wajah suaminya yang menggendongnya


"Lihat jalan kamu aja masih kayak gitu, sudah deh jangan bandel. Kamu itu habis melahirkan anak ku dan mempertaruhkan nyawamu. Jadi, biarkan aku memanjakanmu sekarang. Bidadari dalam hidupku" kata Yudha menatap wajah istrinya


Mata Anista berkaca kaca, dia merasakan haru dan begitu bahagia mendengar setiap kata yang terucap dari bibir suaminya.


Anista merasa jika dirinya adalah wanita paling beruntung karena bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang Yudha yang begitu besar.


"Aku mencintaimu Mas" bisik Anista di telinga suaminya


Yudha tersenyum, ini pertama kalinya Anista mengatakan cinta terlebih dahulu. Sungguh kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Bersambung


Masih belum rela nulis kata 'END' di novel ini. Masih pada suka bacanya gak? Kalo masih, aku kasih bonus chapter lagi.


Kalo udah pada bosen, aku sudahi sampai disini.. Eaa... Di mohon komennya ya..

__ADS_1


Ditunggu juga dukungan kalian di novel You Are My Life.. cerita Bima dan Hasna..


__ADS_2