
Sepertinya Anista masih terlalu shock dengan yang terjadi tadi siang. Bahkan dia tidak lagi keluar kamar sejak tadi, membuat Yudha benar benar di landa khawatir. Bahkan Anista juga sampai melewatkan makan malam.
"Kenapa selalu membuatku cemas dan khawatir seperti ini si" gumam Yudha
"Tolong siapkan makan malam untuk gadis itu, dan antarkan ke kamarnya" titah Yudha pada Pak Danu
"Baik Tuan"
"Ingat! Jangan kau yang mengantarkan ke kamarnya. Suruh pelayan wanita yang mengantarkan nya" kata Yudha dingin
Pak Danu mengangguk. Sebenarnya apa yang telah terjadi. Setelah Tuan Muda keluar dari kamar Anis, kenapa gadis itu tidak keluar kamar lagi. Apa jangan jangan mereka telah...
Pak Danu langsung menggelengkan kepalanya, mengusir fikiran kotor dalam otaknya. "Tidak mungkin"
"Apa yang tidak mungkin?" Hardik Yudha menatap tajam pada kepala pelayan itu
Pak Danu menggeleng cepat "Tidak Tuan, saya akan segera menyiapkan makan malam untuk Anista"
Kenapa harus keceplosan si.
"Hmmm"
Yudha langsung berlalu ke kamarnya, sikap Anista tadi siang benar benar mengganggu fikirannya.
Apa sebenarnya yang telah terjadi padanya. Sepertinya dia mempunyai hal atau masa lalu yang dia sembunyikan.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Setelah semalaman berdiam diri di dalam kamarnya. Anista mencoba menetralkan perasaan nya. Dia tidak boleh terlihat depresi seperti ini. Dia harus bisa mengendalikan emosinya.
Ingatan masa lalunya kembali hadir, ingatan yang ingin Anista hilangkan seutuhnya dari fikirannya itu. Bahkan Anista pernah berharap amnesia hanya untuk tidak mengingat kejadian itu.
Anista mulai aktfitasnya dengan wajah muaram, tidak seperti Anista yang selalu ceria. Dia menyiapkan sarapan untuk Tuannya. Masalah menyiapkan pakaian ganti dan air untuk mandi Yudha, Anista sudah tidak berani.
"Pak sarapannya sudah siap, Pak Danu saja yang memanggilkan Tuan Muda" kata Anista
Pak Danu mengangguk, dia cukup mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini "Iya Nist"
Tok tok tok
"Tuan Muda, sarapannya sudah siap" teriak Pak Danu dari balik pintu kamar
__ADS_1
Yudha yang memang sudah siap untuk pergi ke kantor langsung keluar dari kamar. Dia melihat Pak Danu berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kemana dia?" Tanya Yudha
"Anista sudah memasakan sarapan untuk Tuan Muda, tapi dia langsung kembali ke rumah belakang" jelas Pak Danu
Apa dia takut padaku? Arghh... kenapa jadi kayak gini si.
"Ya sudah, aku akan sarapan dulu. Tolong perhatikan dia sarapan atau tidak?" Yudha berjalan di ikuti Pak Danu di belakangnya.
Yudha tiba tiba menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Pak Danu "Apa semalam dia makan malam?"
Pak Danu mengangguk "Menurut pelayan yang saya suruh untuk mengantarkan makan malam untuk Anista, dia memakan nya, tapi tidak sampai habis"
Yudha mengangguk "Baiklah, setidaknya dia memakan makanannya"
Selesai sarapan Yudha langsung bersiap untuk berangkat ke kantor. Beberapa kali dia menoleh ke arah pintu rumah belakang sebelum memasuki mobilnya. Berharap wanita yang di tunggunya bisa muncul di sana.
Baiklah, mungkin dia memang butuh waktu. Tapi apa yang sebenarnya terjadi padanya sampai dia sebegitu takutnya hingga sekarang aja tidak mau menemuiku.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
4 tahun lalu, gadis kampung yang baru berumur 17 tahun terkurung di kamarnya. Tatapan terlihat sangat gelisah dan ketakutan. Bola mata itu terus melirik ke kiri dan kanan.
Gadis manis itu terus berteriak histeris, tangannya terus meremas bantal dan seprei di tempat tidurnya.
"Tidak.. Jangan lakukan itu, jangan"
Ibunya masuk ke dalam kamar dengan tergesa gesa. Dia menatap nanar anak gadisnya yang terbaring sambil mencengkeram seprei dan menendang nendangkan kedua kakinya seolah ada seseorang di atasnya.
"Tidak.. Jangan lakukan itu"
Masih terus berteriak histeris. Ibunya menghampirinya dan menahan tubuhnya yang terus memberontak. Di peluknya erat tubuh anak gadisnya ini.
"Tenang Nak, ini Ibu. Kamu bakal baik baik saja, percaya pada Ibu"
Gadis itu mulai tenang, dia menoleh ke arah Ibunya dan tersenyum lirih. Dia langsung memeluk tubuh Ibunya dengan erat. Tangisnya pun pecah.
"Takut Bu"
"Tidak usah takut, kamu masih ada Ibu dan Abah. Anista anak yang kuat"
__ADS_1
Meski berkata seperti itu, namun hati seorang Ibu tentu hancur melihat anak gadisnya harus menderita seperti ini.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Anista mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Hah... Dia menghembuskan nafas kasar. Anista harus mengakhiri semua ini, dia harus bangkit dan tidak boleh terus terpuruk dalam kesedihan ini.
Anis kangen Ibu..
Malam ini Anista memilih duduk di taman belakang. Tempat dulu dia sering membawa main Safira di pagi hari dan mengusapkan air embun pagi di kaki balita itu.
Cahaya bulan dan lampu taman membuat bunga bunga yang mulai bermekaran terlihat indah.
Hah...
Lagi lagi Anista menghembuskan nafas kasar "Ayolah Nist, kamu teh pasti bisa melawan semua ketakutan dan trauma itu selama 4 tahun ini"
Seseorang yang baru saja akan menghampiri Anista, menghentikan langkah kakinya saat mendengar perkataan Anista barusa.
Trauma? 4 tahun lalu?
Anista berdiri dan berbalik, dia terkejut melihat asisten dari Tuannya berdiri di belakangnya.
"Tuan Bima" kata Anista
Bima tersadar dari lamunannya, dia menoleh ke arah Anista "Sudah malam, kenapa kau masih berada di luar?"
"Cuma cari angin segar saja, Tuan. Ini juga mau masuk kok" jelas Anista
Sebenarnya Bima menghampiri Anista karna di suruh oleh Yudha. Tadi mereka baru saja pulang dari kantor setelah melewati beberapa pertemuan dengan client.
Yudha yang tidak sengaja melihat Anista sedang duduk sendirian di taman, menyuruh Bima untuk menyuruh Anista segera masuk ke dalam. Karna angin malam tidak sehat dan Yudha takut jika Anistanya sakit.
"Cepatlah masuk" kata Bima datar
Anista mengangguk "Iya Tuan"
Anista pun berlalu masuk ke rumah belakang. Semenatara Bima kembali ke parkiran menuju mobilnya. Dia masih memikirkan ucapan Anista tadi.
Trauma? 4 tahun lalu?
Dua kalimat itu terus terngiang ngilang di telinga Bima. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati dan fikirannya.
__ADS_1
Bersambung