Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Belum Siap Kecewa


__ADS_3

Hari weekend telah tiba, sudah waktunya Anista menemui Evan. Namun saat ini dia merasa ragu untuk meminta izin pada Yudha. Mengingat setatus mereka sekarang.


"Aku izin pulang ke rumah Ibu ya" kata Anista


Saat ini mereka sedang sarapan bersama tanpa Safira karna balita kecil itu kembali di bawa oleh Neneknya. Kemarin sore Yudha mengantarkan Safira ke rumah Neneknya.


"Aku ikut" jawab Yudha begitu enteng, tidak tahukah jika jawaban nya itu bagaikan bom yang meledak di depan Anista.


Mungkin saatnya dia tahu soal Evan.


"Kenapa? Tidak boleh? Aku hanya ingin tahu Ibumu dan ingin meminta restu untuk segera menikahimu" kata Yudha saat melihat Anista terdiam


"Bu..bukan begitu, aku hanya belum siap untuk mempertemukan Mas dengan Ibu. Karna keadaan keluargaku yang tidak punya, sangat tidak sebanding dengan keadaanmu" jelas Anista memberikan alasan paling logis


"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak peduli bagaimana keadaanmu dan setatus keluargamu. Bagiku kamulah yang paling pantas untuk ku" tegas Yudha


Mungkinkah apa yang kau ucapkan itu masih sama saat tahu keberadaan Evan?


"Tapi tidak sekarang, nanti kalau aku sudah siap. Aku pasti akan mempertemukan kamu dengan keluargaku" kata Anista


Rasanya aku belum siap untuk kecewa. Evan adalah segalanya untuku, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku yang semakin besar pada pria di depanku ini.


Benar.. Itulah yang Anista rasakan sekarang, kebimbangan yang melanda hatinya. Yudha adalah pria pertama yang berhasil membuatnya benar benar jatuh cinta.


Sementara di sana ada Evan yang harus dia lindungi dan tidak mungkin bagi Anista untuk mengorbankan perasaan anaknya hanya demi cintanya pada Yudha.


"Kenapa? Aku ingin sekarang bertemu denga....."


Drettt...Drett


Suara ponsel Yudha berhasil menghentikan percakapan mereka. Yudha mengambil ponselnya "Aku angkat telpon dulu"


Anista mengangguk dan sedikit bisa bernafas lega. Aku belum siap kecewa, Evan adalah hidupku. Namun Mas Yudha juga pemilik hatiku saat ini. Ya Allah Nist harus bagaimana?


Satu sisi Anista ingin segera jujur pada Yudha. Namun, dia terlalu takut dengan kenyataan yang akan dia terima nantinya. Dia takut akan penolakan Yudha terhadap Evan.


Tak lama kemudian Yudha kembali ke meja makan setelah mengangkat telpon tadi. Wajahnya terlihat kesal.


"Aku ada kerjaan sebentar, kau pergilah duluan ke rumah Ibumu. Nanti aku akan menjemputmu, sharelock alamatnya" kata Yudha


Anista hanya mengangguk mengiyakan. Apa dia lupa kalo hp Nist teh masih hp jadul.


Mungkin memang Yudha tidak tahu jika ponsel Anista masih ponsel jadul. Karna selama ini Anista jarang sekali memainkan ponselnya di depan Yudha. Bahkan sampai tidak pernah memainkan ponselnya di depan Yudha.

__ADS_1


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Evan jadi anak baik kan? Gak nakal?"


Saat ini Anista sedang duduk di teras depan rumah Bu Nina bersama Evan. Sementara Bu Nina sedang pergi ke tokonya.


"Iya Bunda, Evan jadi anak baik. Gak nakal kok, nurut sama Oma Nina" kata bocah kecil itu


Anista mencium puncak kepala Evan dengan penuh kasih sayang "Anak Bunda memang pintar ya"


"Iya dong Bunda"


"Assalamualaikum" Bu Nina datang dari tokonya


"Waalaikumsalam, sudah pulang lagi Bu?" Tanya Anista


"Iya Nist, Ibu cuma mau beresin barang yang kemarin datang. Kan kalo hari minggu gak buka toko" jelas Bu Nina


Bu Nina ikut duduk di samping Evan "Nist, Evan udah Ibu daftarin sekolah Paud di depan sana"


Anista menoleh "Padahal tunggu umurnya 5 tahun saja Bu. Langsung masuk TK saja"


"Evan sudah ingin sekolah, lagian anakmu ini sangat cerdas. Guru yang ngajar disana terus datang sama Ibu dan mengajak Evan untuk ikut bergabung sekolah Paud bersama anak anak lainnya disini" jelas Bu Nina


Anista menghela nafas "Baiklah, Evan harus rajin rajinlah belajar ya"


Evan mengangguk penuh semangat "Baik Bunda"


"Ayo kita masuk Nak, di luar gelap sekali sepertinya akan hujan" kata Bu Nina


Anista mengangguk dan menuntun Evan untuk masuk ke dalam rumah "Bu Nist mau istirahat bentar ya"


"Iya, kamu tidur aja sana di kamar"


"Evan mau ikut Bunda tidur?" Tanya Anista pada putranya


Evan menggeleng "Gak ah, Evan gak ngantuk. Evan mau sana Oma saja"


Anista mengangguk "Baiklah, Bu nanti tolong bangunin Nist pas ashar ya"


Bu Nina mengangguk mengiyakan, Anista pun masuk ke dalam kamar yang biasa dia tempati jika sedang di rumah Bu Nina.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...

__ADS_1


Rintik hujan mulai membasahi bumi, seorang pria tampan berdiri gelisah di depan jendela kamarnya. Sudah hampir gelap, namun wanitanya belum juga kembali.


Yudha menjadi kesal sendiri saat tadi pagi menyuruh Anista untuk mengirimkan alamat rumah ibunya. Namun, sampai saat ini bahkan Anista tidak mengirimkannya.


Kejadian seperti ini bukan baru sekali, dia selalu saja membuatku khawatir.


Yudha jadi ingat pada saat Anista yang pulang dengan keadaan basah kuyup waktu itu.


Benar saja, sebuah taxi berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Gadis yang dia tunggu tunggu dari tadi terlihat keluar dari taxi dan berlari menuju gerbang.


Setelah gerbang terbuka, Anista langsung berlari menuju pintu utama. Menaiki tangga satu persatu sampai dia sampai di depan pintu utama rumah mewah ini.


Ceklek


Pintu terbuka bahkan sebelum Anista mengetuk atau menekan bell. Mati aku, kenapa bisa dia si yang membukakan pintu.


Yudha berdiri dengan bersidekap dada, menatap tajam pada wanitanya "Bagus, kenapa tidak memintaku menjemputmu? Apa kau takut aku mengetahui rumah Ibumu itu?"


"Maaf Mas, aku lupa"


Anista juga bingung harus memberi alasan apa saat ini, mengingat sebenarnya dia belum siap untuk mempertemukan Evan dan Yudha.


"Lupa? Kau melupakanku? Jadi, selama dua minggu ini kau anggap aku apa? Sampai kau tega melupakanku?" Tanya Yudha dengan penuh emosi


Aduh kenapa jadi begini si?


"Bukan gitu Mas, aku memang tidak bisa mengirimkan alamatnya sama kamu. Hp aku kan masih hp jaman dulu" jelas Anista


Deg


Ada rasa nyeri di dadanya saat mendengar penjelasan Anista. Tuhan, bahkan aku tidak tahu soal itu. Bodohnya aku tadi pagi meminta dia untuk sharelock padahal ponselnya tidak bisa untuk itu.


Yudha langsung menggendong Anista membuat gadis itu terkejut bukan main. Anista langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Yudha.


"Maaf, aku tidak tahu. Besok kita beli ponsel baru untukmu. Sekarang kau harus segera bersih bersih, aku tidak mau kau sakit"


Yudha terus berjalan menuju kamar Safira karna sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Yudha menyuruh Anista untuk pindah di kamar Safira karna Anista tidak mau saat Yudha menyuruhnya tidur di kamar yang masih kosong di rumah ini.


"Tidak perlu Mas, Nist gak perlu kok. Hp Nist ini juga masih bisa di gunakan" kata Anista merasa tak enak hati


"Tidak perlu membantah"


Bersambung

__ADS_1


like, komennya jangan lupa ya.. kasih hadiah juga sama votenya.. 😁🤗🤗


__ADS_2