
Pagi ini Bima akan mulai menyelesaikan satu persatu masalah yang selama ini sangat sulit untuk dia selesaikan. Meskipun saat ini juga Bima masih bertanya tanya siapa wanita yang menjadu korban di masa lalu Tuannya ini.
"Siapa gadis itu? Apa kau mengenalnya?"
Hasna menggeleng "Saya juga baru saja bekerja satu bulan waktu itu. Jadi saya belum terlalu mengenal siapa siapa, termasuk gadis itu"
Begitulah, jawaban Hasna setelah selesai menceritakan semuanya. Cerita masa lalu yang selalu menghantuinya dengan rasa bersalah karna tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong gadis itu.
Hah....
Bima menghela nafas berat, menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran nya.
Sudah saatnya aku mencari tahu siapa wanita itu. Aku takut jika prasangka ku salah. Bagaimana jika wanita di masa lalu Yudha akan muncul saat Yudha telah bersama Anista seutuhnya.
Bima berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya. Dia ingin menemui kembali Hasna untuk menemui orang orang manager hotel milik Walton.Corp
Hasna telah menunggunya di depan gang kecil menuju kosan nya. Dia menunggu dengan harap harap cemas.
Tidak pernah terpikirkan olehnya jika kejadian 4 tahun lalu yang dia ketahui akan berdampak seperti ini. Bahkan Hasna harus di hadapkan dengan laki laki menyeramkan seperti Bima.
Bima membuka kaca jendela mobilnya, menatap datar pada Hasna "Masuk"
Hasna mengangguk dan segera masuk dengan kepala menunduk takut. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Jadi, apa kau sudah siap untuk ikut aku ke ibu kota. Aku ingin kau menjelaskan semuanya di depan Tuan Muda" kata Bima dingin
Hasna menoleh "Tapi, apa saya harus pindah Tuan? Apa saya tidak bisa pergi ke sana lalu kembali lagi ke sini setelah menjelaskan semuanya"
Bima menatap lurus jalanan di depan nya "Jika seperti itu aku takut kau akan kabur tanpa bisa memberi tahu Tuan Muda siapa gadis itu"
Hasna menghela nafas "Saya mempunyai adik yang masih kecil disini Tuan. Tidak mungkin saya meninggalkan nya sendirian disini"
"Ya kau bawa saja adikmu itu, apa kau bodoh sampai ingin meninggalkan adikmu sendiri disini" kata Bima tajam
"Saya hanya akan mengambil cuti saja, dan tidak akan tinggal di ibu kota. Saya akan menitipkan dulu adik saya pada tetangga" kata Hasna
Sepertinya Hasna yang awalnya akan membawa adiknya untuk ikut ke ibu kota, harus dia batalkan. Mengingat kota itu adalah kota dengan awal kehancuran hidupnya dan adiknya.
"Baiklah, aku hanya ingin kau menjelaskan semuanya dan bisa membantuku untuk menemukan gadis itu" kata Bima datar
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Hari weekend ini Anista harus kembali mencari alasan agar Yudha tidak ingin ikut pulang ke rumah Ibu Nina. Namun, sepertinya saat ini akan sulit mengingat bagaimana sikap Yudha yang sudah mulai jengah dengan semua alasan yang di berikan oleh Anista.
__ADS_1
"Poknya aku mau ikut, emang kenapa si kalo aku ketemu sama Ibu kamu itu. Emangnya gak boleh kalo aku menemui calon mertuaku sendiri" kata Yudha kekeuh
Aduh gimana ini teh? Nist kudu kumaha°?
(Nist harus gimana?°)
"Tapi kan sekarang Safira lagi di rumah Omanya, Nist teh mau langsung ajak Fira biar bisa langsung ketemu sama Ibu" kata Anista mulai mencari alasan lain
Yudha menggeleng tegas "Safira bisa ikut kapan kapan lagi, pokoknya aku ingin ikut"
Hah.. Sudahlah sepertinya kali ini percuma mencegahnya. Mungkin memang sudah saatnya dia tahu tentang Evan. Aku harus siap menerima apapun yang mungkin akan terjadi nanti.
Akhirnya Anista tidak bisa lagi menolak dan mencegah Yudha dengan beberapa alasan yang di berikan. Sepertinya Yudha sudah tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari Anista.
Di sepanjang perjalanan, Anista begitu tegang. Tangan nya saling bertaut untuk, dia terlihat begitu cemas dan gugup. Itu semua telah di sadari oleh Yudha yang dari tadi duduk di sampingnya.
Lihatlah apa yang sedang kau sembunyikan dariku.
Sepertinya Yudha mulai menyadari sikap aneh Anista. Yudha mulai mangira jika Anistanya tengah menyembunyikan sesuatu hal darinya.
"Berhenti disini Pak" kata Anista pada supir pribadinya Yudha.
Pak supir mengangguk lalu menghentikan mobilnya tepat di depan gang menuju rumah Bu Nina. Bukan perumahan mewah, namun komplek di pinggir kota dengan segala kesederhanaan di sana.
Melewati tiga rumah akhirnya Anista sampai di depan pagar kayu berwarna merah. Membuka pintu pagar dan berjalan masuk ke pekarangan rumah sederhana itu.
Anista diam mematung saat belum juga mereka sampai di teras rumah, pintu rumah telah terbuka di susul bocah laki laki yang berlari kegirangan ke arahnya.
"Bundaaaaa" teriaknya sambil memeluk kaki Anista.
Deg
Bunda??
Yudha menatap bingung pemandangan di depan nya. Siapa bocah laki laki ini? Kenapa memanggil Anistaku Bunda?
"Evan, ajak Bundanya masuk dulu" teriak Bu Nina seolah tahu dengan keadaan yang sedang terjadi saat melihat seorang pria di belakang Anista.
Evan?? Bukan kan itu keponakan Anistaku yang pernah dia ceritakan? Tapi, kenapa dia memanggil Anistaku Bunda?
Anista berjalan dengan tangan menuntun Evan. Perasaannya sudah benar benar campur aduk sekarang. Takut, cemas, bingung.
"Duduklah Nak, biar Ibu buatkan dulu minum" kata Bu Nina
__ADS_1
Anista mengangguk lalu duduk di sofa sederhana yang berada di ruangan itu. Yudha pun ikut duduk dengan menyimpan paper bag yang di bawanya di atas meja.
Evan duduk di pangkuan Anista, bocah kecil itu menatap Yudha. Tatapan mereka bertemu.
Deg Deg Deg
Siapa bocah laki laki ini? Kenapa aku seperti melihat.....
"Silahkan di minum" Bu Nina datang dan menyimpan minuman yang di bawanya di atas meja.
"Ahh iya Bu, terimakasih. Oh ya, ini ada sedikit buah tangan untuk Ibu" kata Yudha
"Ah, terimakasih banyak Nak...."
"Yudha Bu, ini Mas Yudha yang sering Nist ceritakan" kata Anista yang mengerti jika Bu Nina tidak tahu nama Yudha
"Ahh. Iya Nak Yudha" kata Bu Nina tersenyum tulus
Ternyata Anistaku sering menceritakan tentang aku. Apa saja ya yang dia ceritakan.
"Baiklah ayo kita main dulu di belakang Evan, kita akan panen tomat sekarang. Biarkan Bunda bersama Om Yudha dulu" ajak Bu Nina
"Mau sama Bunda"
Tidak seperti biasanya, tapi Evan sangat manja saat ini. Dia memeluk Anista dengan erat seolah takut jika Bundanya akan pergi.
"Bunda tidak akan kemana mana Nak, Evan bersama Oma dulu ya, nanti kita main bareng lagi" bujuk Anista
Setelah Evan berhasil di bujuk dan pergi ke belakang bersama Bu Nina. Anista sekarang di hadapkan dengan kegelisahan dan rasa gugup yang tiba tiba menyerangnya.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
"Siapa Evan itu? Kenapa dia memanggilmu Bunda?" Tanya Yudha menatap intens pada Anista
Glek...
Anista menelan ludah kasar, terlalu bingung harus mulai dari mana untuk berkata sejujurnya pada Yudha.
"Evan adalah anaku"
Deg...
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga dong biar akunya semangat. 🤗🤗