
Anista berhenti tepat di depan pintu kamar Safira "Tadi katanya Fira bersama dengan Nyonya besar. Itu artinya bersama Ibunya Tuan Yudha dong. Aduhh gimana ya?? Kok aku jadi deg degan gini"
Anista tiba tiba saja merasa takut untuk masuk ke kamar anak asuhnya. Dia takut untuk bertemu dengan Nyonya besar keluarga Walton.
"Masuk gak ya?? Kalo gak masuk nanti Fira nangis lagi pengen ketemu aku. Lagian aku juga kangen banget sama dia"
Ceklek
Akhirnya Anista memutuskan untuk masuk ke kamar anak asuhnya. Dia berjalan dengan perlahan menghampiri Nyonya Varinda yang duduk memangku Safira.
Tatapan matanya terlihat angkuh dan tajam membuat Anista takut sendiri. Kalau saja bukan karna Safira yang terus memanggil namanya mungkin Anista memilih kabur dari ruangan ini.
"Tehh.. teh Nis.. nis" begitulah celotehan bocah kecil itu sambil merentangkan tangannya ingin di gendong oleh Anista.
Anista berjalan mendekati Varinda yang sedang memangku Safira "Mau di gendong sama Teteh ya"
Anista mengambil alih Safira dari gendongan Neneknya. Safira langsung memeluk erat leher Anista, sepertinya balita itu merindukan pengasuhnya ini.
"Teh.. teh Nis." Celotehan nya
"Iya ini Teteh, yuk kita main sama Teteh. Fira udah makan belum?" Tanya Anista
Varinda langsung berdiri dan berkacak pinggang, menatap tidak suka pada Anista "Berani sekali kau memanggil cucuku dengan panggilan tidak sopan seperti itu. Kau harus sadar diri siapa dirimu dan posisimu sekarang"
Anista sangat terkejut dengan bentakan dari Nyonya besar keluarga Walton ini. Anista langsung menunduk takut "Maafkan Saya, Nyonya besar"
Varinda tersenyum sinis "Panggil cucuku Nona, jangan kurang ajar kau!!"
Anista langsung mengangguk cepat "Baik Nyonya"
"Dasar orang kampung"
Varinda berlenggang pergi dengan sengaja menabrakan bahunya dengan bahu Anista sampai gadis itu hampir terjatuh.
Ya Allah kenapa keluarga ini semuanya menyeramkan sekali. Evan, demi Evan dan Safira Nist. Kamu harus kuat menghadapi keangkuhan mereka.
"Nona ayo kita makan dulu ya, biar teteh siapkan makanan buat Nona" kata Anista
Balita itu mengangguk dengan sangat menggemaskan membuat Anista tidak tahan untuk menciumi pipi gembulnya itu.
"Emuachh.. emuachh.. gemess ihh"
__ADS_1
Anista terus mencium gemas pipi Safira sampai balita itu tertawa terpingkal pingkal karna merasa geli.
Sementara itu sepasang mata yang mengintip di balik pintu kamar yang sengaja tidak dia tutup rapat meneteskan air mata. Tatapan nya begitu sendu pada pemandangan yang dia lihat.
Seandainya Eliana juga seperti ini, mungkin aku tidak akan terus merasa bersalah pada anaku. Namun, aku juga tidak mau rumah tangga anaku hancur dan Safira akan menjadi korbannya.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Malam harinya Yudha pulang dari kantor, dia langsung di sambut oleh pemandangan yang belum pernah dia lihat setiap pulang ke rumahnya.
Anaknya sedang bermain bersama pengasuhnya. Tertawa dan tersenyum ceria, gadis kecilnya telah menemukan keceriaan itu. Dia tidak lagi murung hanya karna ingin di gendong oleh ibu kandungnya sendiri.
Seandainya El bisa seperti ini, mungkin aku akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini. Kenapa? Kenapa harus wanita lain yang membuat anaku ceria seperti sekarang.
Yudha berjalan menghampiri mereka, menyimpan tas kerjanya di atas sofa ruang keluarga lalu Yudha ikut duduk di atas karpet berbulu bersama Safira dan pengasuh nya.
"Kesayangan Daddy lagi apa?? Hemm.. hmmm" Yudha menciumi pipi gembul Safira dengan gemas sampai gadis kecil itu tertawa terpingkal pingkal karna merasa geli
"Dy..dy.. geyi..." begitulah celotehan balita berumur satu tahun itu.
Anista ikut tertawa melihat wajah menggemaskan Safira. Tanpa dia sadari ada yang memperhatikan nya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Seandainya ada yang mendengar jika Yudha menyebut Anista cantik pasti akan sangat terkejut. Karna kepada Eliana pun yang benar benar sangat cantik, Yudha tidak pernah memujinya.
Pria dingin ini tak bisa mengekspresikan perasaan nya atau mungkin memang dia tidak punya perasaan apapun pada Eliana.
Anista langsung terdiam saat menyadari jika Yudha sedang menatap nya dengan tatapan datar.
Aduhh.. Apa Tuan Yudha marah ya karna aku menertawakan putrinya. Tapi'kan aku menertawakannya karna Safira sangat menggemaskan.
"Tuan, mau saya bikinkan minum?" Tawar Anista mencoba mengalihkan Yudha yang terus menatapnya
Yudha tersadar dan langsung memalingkan wajahnya. Bodoh! Kenapa aku sampai tidak sadar terus memperhatikan nya.
"Ekhem. Ya, buatkan saya kopi cappucino" kata Yudha mencoba menetralkan perasaan nya yang tiba tiba berdesir
"Baik Tuan"
Anista pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman yang di pesan oleh Tuannya itu. Tak lama kemudian Anista sudah kembali dengan secangkir kopi pesanan Yudha.
"Ini minumnya Tuan" Anista menyimpan secangkir kopi itu di atas meja yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
"Hmmm"
Hanya itu yang keluar dari bibir Yudha, bahkan dia sama sekali tidak menoleh ke arah Anista. Dia masih asyik bermain dengan putrinya, jarang sekali Yudha mempunyai waktu untuk bermain bersama Safira.
Sekali kali bilang terimakasih kek, kan gak ngerugiin juga.
Anista kembali duduk di samping Safira. Anak asuhnya itu masih asyik bercanda bersama Ayahnya. Anista menatap ayah dan anak itu, begitu bahagia yang dia lihat.
Seandainya....
Anista menggeleng cepat. Aku tidak boleh berandai andai, syukuri saja hidupmu Nist.
Yudha beralih duduk di sofa dan meminum kopi buatan Anista sampai habis.
"Jaga anaku" Yudha langsung berlalu pergi setelah berkata seperti itu.
Ishh.. Lagian aku pasti akan menjaganya, dia'kan putriku juga. Ehh
Anista geli sendiri dengan ucapannya barusan "Mikir apaan si kamu tuh Nist.. Nist.."
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah satu bulan Anista bekerja di rumah Yudha Abimana Walton.
Kini kegiatannya setiap hari bertambah karna Yudha sering memintanya membuatkan sarapan atau membuatkan minuman untuknya.
Seperti saat ini, Anista sedang membawa secangkir minuman untuk Yudha yang sedang bermain dengan anaknya karna hari ini adalah hari weekend dan waktunya Anista untuk pulang bertemu dengan Evan.
"Minumnya Tuan" Anista menyimpan minuman untuk Yudha di atas meja yang berada di kamar Safira.
"Hmm"
Hah.. Masih berharap kamu Nist, dapet ucapan terimakasih dari ni orang aneh.
"Emm. Tuan" panggil Anista pelan membuat Yudha menoleh ke arahnya "Saya izin pulang ya, mau ketemu sama Ibu"
Yudha mengangguk "Ya, pulang sebelum malam"
"Baik Tuan, kalo begitu saya permisi dulu" Anista mengangguk hormat lalu pergi untuk bersiap siap bertemu dengan Evan.
Bersambung
__ADS_1