
"Maafkan saya Pak, saya benar benar tidak berniat untuk menyakiti putri Bapak"
Yudha terduduk di hadapan Sumintar dengan kedua tangan menggenggam tangan Sumintar. Dia membenamkan wajahnya di pangkuan Sumintar. Mencium beberapa kali tangan yang terasa kasar dan sudah keriput itu.
"Saya benar benar menyesal, saya dalam keadaan tidak sadar malam itu" isak tangis mulai terdengar
Sumintar menghela nafas berat "Jadi, kamu yang sudah melecehkan anak saya?"
Yudha mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Menegak'kan kembali tubuhnya. Dia siap menerima apapun yang akan di lakukan oleh Ayahnya Anista. Jika Yudha harus mati di tangan Ayahnya Anista pun, dia rela asalkan dia bisa mendapatkan maaf dari mereka.
"Iya Pak, Saya yang telah merenggut paksa kesucian anak Bapak. Hiks.. Saya benar benar menyesal, saat itu saya sedang tidak sadar" Yudha mulai mejelaskan semuanya
"Hiks.. Saya mabuk berat dan saya mengira jika Anista adalah kekasih saya yang saya pergoki berselingkuh hari itu" jelas Yudha dengan isak tangis yang semakin terdengar
Deg Deg Deg
Seseorang di balik pintu memegang dadanya yang sesak. Anista mengingat bagaimana dulu pria yang memperko*sa nya menyebutkan nama lain.
Mungkin dia adalah mantan kekasihnya itu. Nath.. nat..
Anista pun berlalu pergi ke belakang, dia tidak sanggup jika harus berlama lama mendengarkan percakapan yang akan membuka kembali masa kelam itu.
"Lalu apa tujuan mu kesini sekarang?" Tanya Abah Mintar
Yudha mendongakan wajahnya, sepertinya Ayahnya Anista ini sangat sabar dan tidak emosional. Yang ada di bayangan Yudha adalah Yudha siap di hajar atau di pukul oleh ayahnya Anista. Tapi, kenyataan nya tidak sama sekali.
"Saya mencintai anak Bapak, saya benar benar telah jatuh cinta pada anak Bapak. Sebenarnya Anista adalah pengasuh putri saya......."
Dan akhirnya Yudha menceritakan semuanya pada Sumintar. Bahkan tentang hubungan nya dengan Anista juga kata kata kasarnya pada Anista sebelum gadis itu pergi dari rumahnya.
Sumintar diam, tatapan nya tidak menunjukan amarah atau kebencian pada Yudha. Seolah dia sudah sadar jika semuanya telah terjadi dan tidak mungkin bisa di ulang kembali. Mungkin ini adalah takdir untuk Anista, anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Lalu apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini? Mencintai anak Abah, menyayanginya lahir dan batin. Menerima segala kekurangan nya sehingga kamu ingin menjadikan anak Abah sebagai istrimu" kata Sumintar begitu tenang
Yudha mengangguk cepat "Saya siap Pak, sangat siap. Saya sudah yakin dengan keputusan saya dan saya yakin jika Anista adalah wanita yang tepat yang di kirimkan Tuhan pada saya"
"Bukan semata mata karna hadirnya Evan atas kesalahan yang telah terjadi di anatara kalian, sehingga kamu ingin menikahi anak Abah?" Tanya Sumintar lagi
Sepertinya Sumintar ingin meyakinkan apa Yudha benar benar tulus pada anaknya atau hanya karna kehadiran Evan. Sumintar tidak ingin anaknya kembali harus menderita karna laki laki yang sama.
Yudha menggeleng cepat "Tidak Pak, sebelum saya mengetahui jika Anista adalah wanita yang saya cari selama ini dan saya juga mempunyai anak dari rahimnya. Saya benar benar telah mencintainya. Saya menyesali perkataan saya waktu itu yang sangat kasar"
Yudha menghela nafas "Saya mengatakan itu karna terlalu emosi. Saya marah karna Anista sama sekali tidak menceritakan tentang keberadaan Evan"
"Saya merasa di bohongi dan di bodohi meskipun pada saat itu saya tidak tahu jika Evan adalah anak saya. Tapi, saya akan menerima segala yang ada di diri Anista" jelas Evan apa adanya
Sumintar menghembuskan nafas lega, setidaknya laki laki di depannya benar benar tulus pada anaknya. Dan ketulusan itu dapat Sumintar lihat dari tatapan matanya.
"Baiklah Abah percaya sama kamu, tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Yudha penasaran
"Abah tidak bisa membantu kamu untuk mendapatkan kembali hati anak Abah yang sudah terlanjur terluka. Abah tidak mau memaksa anak Abah yang sudah sangat menderita itu untuk menerima mu sebagai Ayan kandungnya Evan. Jadi, kamu berjuanglah sendiri"
Yudha mengangguk dengan penuh semangat "Baik Pak, saya akan memperjuangkan anak Abah yang sangat berharga itu. Saya yakin pasti bisa mendapatkan hatinya kembali"
"Dan satu lagi, jangan panggil saya Bapak. Panggil saja Abah seperti biasa Anista memanggil saya" kata Abah Mintar
Yudha mengangguk dan tersenyum, dia mencium beberapa kali punggung tangan yang sudah mulai keriput itu.
"Terimakasih Bah, terimakasih banyak karna telah mengizinkan saya untuk mendapatkan kesempatan lagi dari Anista" kata Yudha tulus.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
__ADS_1
"Duduklah Nak, biar Abah panggilkan dulu Anista" kata Sumintar
Yudha mengangguk lalu dia duduk di atas karpet plastik di rumah itu. "Baik Bah"
Setelah Sumintar berlalu ke belakang, Yudha menatap sekeliling rumah sederhana itu. Sangat sederhana, semuanya masih terbuat dari kayu dan anyaman bambu.
Tiba tiba dadanya terasa begitu sesak saat membayangkan anak laki lakinya harus tinggal di tempat seperti ini. Berbanding terbalik dengan keadaan Safira yang selalu bergelimpah segalanya sejak dia bayi.
"Daddy akan menebus segala kesalahan Daddy Nak" lirih Yudha dengan ujung matanya yang mulai berair.
"Maaf Nak, sepertinya si Eneng teh belum mau ketemu. Abah gak bisa paksa dia buat temuin kamu disini" kata Sumintar setelah kembali dari belakang
"Tak apa Bah, biar saya temuin sendiri Anista nya" kata Yudha
"Baiklah"
Yudha pun akhirnya menemui Anista yang sedang berada di belakang. Yudha menatap tidak percaya pada dapur di rumah ini yang ternyata alasnya masih tanah. Dan Anista sedang duduk di depan tungku kayu bakar. Sepertinya dia sedang memasak.
Yudha melihat ada sendal jepit di atas tanah itu, mungkin itu miliknya Abah Mintar sengaja untuk di gunakan di dapurnya yang masih beralaskan tanah.
Yudha memakai sendal jepit itu dan berjalan menghampiri wanitanya. Sepertinya Anista sedang melamun sehingga dia tidak menyadari kehadiran Yudha di sampingnya.
"Nist" panggil Yudha setelah dia berdiri di samping Anista yang sedang melamun di depan tungku kayu bakar.
Anista mengerjap dan setetes air mata berhasil lolos dari matanya begitu saja. Segera dia usap dengan kasar air mata itu. Menoleh sekilas pada seseorang yang memanggilnya itu.
"Tuan pulanglah, tidak pantas seorang Tuan Muda berada di tempat seperti ini" kata Anista datar
Tidak ada lagi senyuman ramah dan sopan seperti biasanya. Anista berkata dengan nada datar dan wajah datar, namun menyimpan begitu banyak luka.
"Aku tidak akan pulang jika tidak membawamu bersamaku"
__ADS_1
Bersambung