
Seperti yang telah di rencanakan, Anista dan keluarga kecilnya berlibur ke kampung halamannya. Atas izin dari Nenek dan Kakeknya, Safira juga ikut berlibur dengan mereka.
Mereka berangkat pagi tadi dengan seorang supir karena Yudha malas untuk menyetir. Apalagi jarak yang cukup jauh.
Evan sudah terlelap bersama dengan Safira dan juga pengasuh mereka, Isni. Yudha sengaja menyewa mobil travel agar bisa leluasa membawa keluarganya.
Apalagi dengan perlengkapan bayi yang Anista bawa, belum lagi segala barang-barang yang di butuhkan anak-anaknya.
"Hervin tidur Sayang, sini biar aku yang gendong. Kamu pasti pegel'kan" kata Yudha mengambil alih baby Hervin dari gendongan istrinya.
Anista tersenyum melihat suaminya begitu perhatian padanya. Wanita itu meregangkan tangannya yang terasa pegal karena memangku Hervin selama setengah perjalanan ini.
"Tidur aja dulu, masih cukup lama untuk sampai" kata Yudha pada istrinya
Anista menggeleng pelan "Gak ngantuk, ini masih pagi masa udah mau tidur lagi"
Yudha hanya mengangguk mendengar ucapan istrinya itu. Pria tampan ini sedang asyik menoel-noel pipi gembil anaknya. Melihat anak bungsunya menggeliat pelan karena ulahnya, membuat Yudha tersenyum.
"Lucu banget si anaknya Daddy, matanya mirip Bunda ya" kata Yudha sambil mengelus pelan alis dan mata Hervin yang masih terlelap.
Anista menoleh "Kenapa ya Hervin banyak miripnya ke aku. Gak kayak Evan yang presis seperti kamu"
Yudha menoleh dan mengecup pipi istrinya yang berisi itu "Empuk banget pipi kamu, makin berisi. Aku suka"
Anista memegang pipinya dan menekan dengan jari telunjuknya. Memang berat badannya masih belum benar-benar normal setelah melahirkan.
"Aku makin gendut? Harus diet kali ya" kata Anista sambil menatap tangannya yang terlihat mengembung dengan lemak yang ada.
"Apaan? Siapa yang suruh diet-diet gak jelas itu? Aku suka kamu kayak gini, makin empuk kalo aku peluk" kata Yudha tersenyum nakal
Anista memukul kesal bahu suaminya, Yudha seperti melupakan ada seorang supir dan Teh Isni yang pastinya mereka akan mendengar apa yang di ucapkannya barusan.
"Apa si Sayang? Benar'kan apa yang aku bilang" kata Yudha santai sambil mengedipkan mata nakal.
Ya ampun kenapa suamiku jadi nakal seperti ini. Semoga saja nakalnya cuma sama aku, gak sama cewek lain.
"Udah ahh Mas, kamu ngeselin. Pindah ke depan aja sana. Temenin Pak Supir" kata Anista
__ADS_1
Yudha tersenyum melihat kekesalan yang bercampur rasa malu di wajah istrinya. Entahlah kenapa Yudha bisa setenang dan sesantai ini jika berada di dekat Anista. Bahkan dia bisa tidak memperdulikan orang lain yang berada di dekat mereka. Rasanya Yudha hanya berdua dengan Anista.
"Aku suamimu, jadi sudah seharusnya aku berada di sampingmu" kata Yudha
Anista mendengus, memang paling susah berdebat dengan suaminya ini. Yudha selalu punya kata-kata yang memojokkan Anista dan akhirnya istrinya itu diam karena tidak bisa menyangkal ucapan suaminya itu.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Akhirnya mobil telah memasuki jalan ke perkampungan. Mobil mulai terguncang karena jalanan yang terjal.
Drama sepasang suami istri ini masih belum selesai. Setelah berdebat tadi, kini Yudha malah asyik menyusupkan wajahnya di leher istrinya. Mencium dan mengecupnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Anista menggoyangkan bahunya, kesal dengan kelakuan suaminya ini "Awas ihh, kamu ngapain si. Ini Evin lagi asi"
Anista memang sedang menyusui anak bungsunya itu. Tentunya dengan kain penutup, tidak mungkin Yudha membiarkan istrinya memamerkan aset berharga miliknya di lihat oleh orang lain.
"Abisnya kamu bikin aku ketagihan si Sayang" bisik Yudha tepat di telinga Anista
Anista berdecak kesal "Ya gak di sini juga Sayang, ini sudah mau sampai ke rumahku. Jauh jauh sana, Evin lagi asi nih"
Yudha mendengus kesal, dia menjauhkan wajahnya dari leher istrinya. Memalingkan wajahnya ke jendela mobil, melihat pemandangan kampung yang menyejukkan hati dan fikiran.
"Teh anak-anak belum bangun?" Tanya Anista pada Isni yang duduk di kursi paling belakang bersama Evan dan Safira.
"Belum Nona, lelap banget mereka tidurnya"
"Bangunin aja Teh, bentar lagi sampai" kata Anista
Isni mengangguk "Iya Nona"
Isni pun membangunkan Safira dan Hervan. Sementara Anista merasa bingung dengan mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah yang tidak dia kenali rumah siapa. Rumah minimalis dengan segala kemewahan nya.
Ini rumah siapa?
Anista melirik ke luar jendela dan melihat pohon mangga di halaman rumah itu. Jelas dia ingat jika ini adalah halaman rumahnya. Lalu, rumah orang tuanya itu kemana? Dan rumah ini rumah siapa?
"Mas" panggil Anista pada suaminya, wanita itu masih menatap bingung pada rumah itu.
__ADS_1
Yudha yang baru membuka pintu mobil, menoleh ke arah istrinya "Kenapa? Ayo turun"
Anista berbalik dan menatap suaminya dengan bingung "Ini rumah siapa?"
"Rumah kamulah, rumah siapa lagi" kata Yudha santai
Anista terdiam, memang benar ini halaman rumahnya. Tapi, kenapa rumahnya jadi semewah ini? Bukan lagi rumah kecil yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
"Aku menyuruh Bima untuk mencarikan orang yang merenovasi rumah kamu. Dan rumah ini sudah di renovasi dari beberapa bulan lalu"
"Aku juga mempekerjakan sepasang suami istri untuk menjaga dan merawat rumah ini. Karena aku tahu jika suatu saat kamu pasti akan ingin berkunjung ke kampung halaman mu ini"
Begitulah penjelasan Yudha saat melihat wajah bingung istrinya. Yudha hanya ingin memberikan yang terbaik untuk wanita hebat yang telah memberikan cahaya dalam hidupnya.
Anista begitu terharu dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Pria yang dulu telah menghancurkan hidupnya dan juga pernah dia benci. Namun, sekarang pria inilah yang memberikan kebahagiaan untuknya dan anak-anaknya.
"Terimakasih Mas, terimakasih untuk semuanya" kata Anista dengan mata berkaca-kaca
Yudha mencium kening istrinya "Apapun untuk membuatmu dan anak-anak kita bahagia"
"Yaudah, sekarang ayok kita turun dan lihat rumah barumu" kata Yudha
Anista tersenyum dan mengangguk. Yudha turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk wanitanya. Isni datang dan mengambil alih Hervin dari gendongan Anista.
"Evan sama Safira mana Teh?" Tanya Anista
"Sudah masuk ke dalam, biar Tuan kecil sama saya saja. Nona pasti lelah seharian memangku Tuan kecil" kata Isni
Anista mengangguk "Yaudah, aku titip Evin dulu ya Teh. Terimakasih"
Isni mengangguk dan tersenyum ramah. Dia berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Anista masih menatap sekelilingnya, sungguh dia tidak menyangka jika akan memiliki rumah semewah ini di kampung halamannya.
Rumahnya yang dulu kini berubah menjadi rumah termewah di kampungnya. Rumah dengan segala kenangan dari dia kecil hinga hidup dewasa dengan segala cobaan dan rintangan yang harus dia hadapi. Tapi, Anista bisa melewati semuanya dengan baik hingga dia bisa di posisi ini sekarang.
End gak nih... ???
Kasih vote dan dukungannya..
__ADS_1
Aku sih belum rela bikin novel ini End.. Tapi tergantung sama kaliannya.. Toh kalo end sekarang juga, sepasang suami istri ini sudah bahagia