Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Suasana Di Ruang Rawat


__ADS_3

Suasana di kamar rawat Anista begitu ramai oleh keluarga yang berdatangan untuk melihat bayi mungil yang baru saja lahir.


Box bayi di kelilingi oleh orang-orang yang begitu penasaran dengan bayi mungil menggemaskan itu. Bayi merah itu masih menutup matanya, dia baru saja selesai menyusu pada Ibunya.


Hasna juga baru datang bersama adiknya. Dia juga begitu antusias dengan kehadiran bayi Anista. Gadis yang di tolongnya beberapa tahun lalu, kini telah hidup bahagia.


Hasna sudah tidak lagi merasa bersalah karena tidak sempat menolong gadis itu dari terkaman pria berengsek di malam itu yang sekarang malah menjadi suaminya.


Hasna menoel-noel pipi gembil bayi merah itu "Bangun yuk, sama Kakak main"


"Bibi kali Na, masa Kakak" koreksi Anista


Hasna cemberut "Aku masih pantes di panggil Kakak Nist"


Anista tertawa lucu "Iya si, aku juga harusnya jadi Kakaknya bukan Ibunya. Haha"


Hasna ikutan tertawa "Biarinlah, kan jadi Mama muda"


"Iyalah, masih imut imut kayak gini. Hehe"


Orang-orang di dalam ruangan itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kedua wanita muda itu.


Ceklek


Pintu terbuka oleh perawat dan dokter yang ingin memeriksa keadaan Anista dan bayinya.


"Wahh sudah banyak keluarga yang datang ya" kata Dokter dengan tersenyum ramah


"Sepertinya kelahiran Tuan Kecil ini begitu di nantikan oleh banyak orang" kata seorang perawat yang langsung memeriksa keadaan bayi Anista.


Dokter juga memeriksa keadaan Anista, memastikan semuanya baik-baik saja pasca melahirkan tadi. Tekanan darah dan lainnya normal.


"Semuanya bagus, Nona dan Tuan Kecil sudah bisa pulang nanti sore" jelas Dokter

__ADS_1


Anista tersenyum, itu artinya dia tidak perlu menginap di rumah sakit "Terimakasih Dok"


"Tapi Dok"


Suara Yudha langsung mengalihkan fokus semua orang yang ada disana. Entah apa yang ingin di bicarakan lagi oleh si suami posesif itu.


"Istriku berjalan saja masih susah, kenapa kau mengizinkan dia pulang nanti sore. Apa gak sebaiknya di rawat inap dulu sampai istriku benar-benar pulih" kata Yudha yang terlihat begitu khawatir dan cemas berlebihan pada istrinya.


Dokter tersenyum "Tuan tenang saja, itu normal pada wanita yang baru melahirkan. Apalagi di jaman sekarang jarang wanita yang melahirkan normal dan bisa setenang Nona Anista. Nanti di jaga saja di rumah, untuk tidak terlalu banyak bergerak"


"Tap..."


Anista langsung memegang tangan suaminya yang berdiri di sampingnya. Dia tidak ingin suaminya semakin menjadi dengan kecemasan yang terlalu berlebihan itu akan membuatnya tinggal lebih lama di rumah sakit.


"Aku gak papa Mas, gak usah terlalu khawatir. Lagian aku gak mau lama-lama tinggal di rumah sakit" kata Anista


"Iya Tuan, jika kondisi Ibu dan bayi baik dan sehat. Maka sebaiknya segera di bawa pulang saja, karena terlalu lama di rumah sakit juga tidak baik untuk kondisinya" jelas Dokter


Yudha cukup tenang dengan penjelasan Dokter barusan. Akhirnya dia menuruti perkataan Dokter.


"Mungkin haus, bawa ke sini Na" kata Anista


Hasna berjalan mendekat ke arah Anista dan memberikan bayi mungil itu pada gendongan Ibunya. Anista menyingkap baju pasien nya, dia ingin memberikan asi pada anaknya yang sedang menangis.


"Tunggu"


Gerakan tangannya langsung ditahan oleh lengan suaminya. Anista menoleh dan menatap bingung pada suaminya yang menatapnya dengan tajam.


"Kau ingin menunjukan pada siapa Hah? Disini banyak orang" ketus Yudha


Anista baru tersadar jika terlalu banyak orang diruangan ini. Bukan terfokus pada para wanita, namun ada pria di ruangan ini. Ada Bima dan juga Ayah David.


"Kalian keluar dulu, jangan berani masuk sebelum aku menyuruh kalian kembali masuk!" tegas Yudha pada semua orang yang ada disana

__ADS_1


"Ya ampun kamu ini Yudh, posesif kok kelebihan kayak gini si. Lagian Anista juga pasti menutupi bagian dadanya, tidak mungkin menyusui bayinya dengan membuka semua pakaiannya" kata Nyonya Varinda, menggeleng heran dengan kelakuan anaknya itu.


"Pokoknya kalian keluar!" tegas Yudha


"Sudah, semuanya lebih baik kita keluar dulu. Lihat, kasihan bayinya terus menangis. Mungkin sudah tidak sabar ingin menyusu" kata Bu Nina


"Lebih baik kita pulang saja dulu, nanti sore Anista akan pulang. Lebih baik kita menunggu saja di rumah" sang asisten yang begitu pengertian dengan keinginan Tuannya itu.


"Nah, benar yang di katakan Bima" kata Yudha begitu senang dengan apa yang di katakan oleh asistennya itu. Memang itu yang di inginkan Yudha, dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan istri dan anak kedua mereka.


"Iya Mam, lebih baik kalian pulang saja. Kasihan juga Evan di rumah cuma sama Teh Isni dan pelayan yang lain. Dia pasti sudah pulang sekolah dan pasti merengek ingin ke sini" kata Anista


Setelah Anista melahirkan dan di bawa ke ruang rawat ini. Dia langsung mendapat panggilan video dari putranya yang baru saja pulang sekolah.


Saat tadi Yudha dan Anista berangkat ke rumah sakit, memang Evan masih tidur dan tidak tahu kehebohan yang di ciptakan oleh Ayahnya.


Isni dan Pak Danu tidak langsung memberi tahu Evan jika Ibunya akan melahirkan hari ini. Mereka hanya mengatakan jika Anista dan Yudha pergi untuk periksa kandungan. Jika saja Evan tahu sejak awal jika adiknya akan lahir hari ini, mungkin anak itu tidak akan mau sekolah.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Akhirnya semua orang yang menjenguk Anista pulang ke rumah Yudha. Anista bisa lebih tenang menyusui putranya ini. Bayi mungil itu terlihat begitu semangat meminum air susu dari Bundanya.


Yudha duduk di tepi ranjang pasien, dia mengelus kepala anak keduanya ini. Hatinya begitu bahagia dan penuh haru saat dia tidak pernah menyangka akan sebahagia ini hidup bersama wanita yang dia renggut kesuciannya beberapa tahun lalu.


"Pelan-pelan minum asinya Nak" kata Yudha seraya mengelus lembut kepala anaknya


Anista tersenyum, tak bisa di jelaskan lagi bagaimana dia begitu bahagia dengan kehidupan nya sekarang.


Takdir Tuhan memang tidak pernah salah. Pria yang dia benci, bahkan tidak pernah ingin Anista bertemu dengannya lagi. Namun, takdir berkata lain. Anista harus bahagia bersama pria itu.


Dan sekarang keduanya di pertemukan dan menjadi keluarga bahagia. Meskipun banyak cobaan dan rintangan yang mereka hadapi.


Namun, mereka akan kuat jika selalu bersama. Tidak peduli seberapa besar cobaan yang akan menghampiri keluarganya. Jika mereka terus bersama, maka akan selalu bisa mereka hadapi.

__ADS_1


Bersambung


Ayo dong kasih dukungan juga buat novel Bima&Hasna. You Are My Life.. Bisa langsung klik profil author aja..


__ADS_2