
Semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Safira menjadi rebutan mereka untuk memberikan kasih sayangnya. Tentunya karena semuanya telah tahu jika waktunya Safira untuk bisa tinggal dirumah ini hanya sebentar lagi.
Di kamar utama, Yudha masih tidak menyangka jika istrinya telah kembali. Tak bisa di gambarkan lagi bagaimana bahagianya Yudha saat Anista telah kembali.
Anista membereskan tempat tidur yang berantakan, pakaian kotor yang tercecer dimana-mana. Selama Safira berada di rumah sakit, memang Yudha sesekali pulang ke rumah untuk mengganti pakaian.
Yudha juga tidak mengizinkan pelayan masuk ke kamarnya hanya untuk membereskan kamar utama ini. Akhirnya kamar yang biasa rapi itu terlihat begitu kacau dan berantakan.
Anista menghela nafas kasar saat semua pekerjaannya selesai. Baru di tinggal satu minggu saja nih kamar teh udah kayak kapal pecah.
Yudha menyimpan jus buah di atas meja yang berada di depan sofa "Duduk dulu, nih kamu minum dulu"
Anista menoleh dan baru sadar jika ada suaminya di sana. Dia mengangguk lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Diambilnya segelas jus alpukat yang di sodorkan oleh Yudha. Meminumnya sampai tandas.
"Haus ya? Maaf ya aku membuat kamu kelelahan" kata Yudha menatap istrinya dengan tatapan bersalah
"Gak papa, aku seneng malah karna Mas tidak mengizinkan orang lain masuk ke kamar kita. Inikan privasi kita" kata Anista tersenyum
Yudha merasa dunianya kembali berwarna, setelah beberapa hari ini hanya awan mendung yang melingkupi hidupnya. Melihat kembali senyuman lembut dan penuh ketulusan itu membuatnya begitu bahagia.
Anistaku telah kembali.
Yudha meraih tangan Anista, menggenggam nya diatas pangkuannya "Boleh aku bertanya?"
Anista menatap Yudha yang juga sedang menatapnya "Silahkan"
Ekhem..
Yudha berdehem untuk menghilangkan kegugupannya "Kenapa kau masih bertahan? Aku tahu aku ini sangat keterlaluan, aku juga pernah berpikir jika kamu akan meninggalkan ku dan pergi begitu saja"
"Tapi, sekarang aku tentu sangat bersyukur karena kamu telah kembali padaku. Hanya saja, aku ingin tahu apa yang kau pikirkan saat itu?"
Bukannya Yudha menginginkan Anista untuk pergi meninggalkannya. Tentu saja dia selalu berdo'a dan memohon pada Tuhan agar Anistanya tidak pergi meninggalkannya.
Namun, Yudha juga sadar jika apa yang telah dia lakukan dan ucapkan pada istrinya sudah sangat keterlaluan. Mengingat kesalahannya itu, bukankah wajar jika istrinya pergi meninggalkannya. Meski Yudha sangat takut jika itu terjadi.
"Saat itu, aku juga sempat terpikirkan untuk pergi dan sangat ingin pergi meninggalkanmu. Tapi, aku ingat janjiku yang akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi. Dan tidak akan pernah meninggalkanmu" jelas Anista
"Dan aku sedang menepati janjiku, aku tahu jika Mas hanya terkuasai oleh emosimu. Tapi, apa bolehkah mulai sekarang Mas mencoba untuk merubah sifat buruk Mas itu"
__ADS_1
"Belajarlah untuk menenangkan emosimu dan jangan selalu gampang terpancing oleh amarahmu karena itu hanya akan membuatmu menyesal"
Yudha mengangguk cepat mendengar semua penjelasan dan permintaan istrinya itu. Dia benar benar tersentuh dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya. Anista benar-benar menepati janjinya untuk tidak pergi meninggalkan Yudha apapun yang terjadi.
"Iya Sayang, aku akan belajar untuk mengendalikan emosiku. Aku akan konsultasi pada psikologis untuk kebiasaan buruk ku ini" kata Yudha
Anista tersenyum "Terimakasih Mas, karena sudah mau berubah"
Yudha mencium tangan Anista yang berada di genggamannya "Aku akan lakukan apapun demi kamu"
"Oh ya, bagaimana keadaan anak kita?" Tanya Yudha sambil mengelus perut istrinya
Anista memegang tangan kekar yang berada di perutnya itu "Baik, dia hanya sedikit rewel di pagi hari saja"
Yudha mengerutkan keningnya "Rewel kenapa?"
"Ya kalo pagi hari, suka buat Bundanya mual dan muntah-muntah" jelas Anista
Yudha menghela nafas "Maaf ya Sayang, sudah membuatmu seperti ini"
"Loh kok minta maaf Mas? Inikan sudah biasa terjadi pada Ibu hamil. Lagian sudah kodratnya wanita untuk mengandung dan melahirkan" kata Anista
"Iya Mas, sekarang ayo kita ke bawah. Yang lainnya pasti pada nungguin kita" ajak Anista
Yudha mengangguk lalu berdiri dan mengulurkan tangannya yang langsung di sambut hangat oleh Anista. Mereka keluar dari kamar sambil bergandengan tangan dengan perasaan tenang. Keduanya telah berbaikan dan akan memulainya dengan lebih baik lagi.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Sudah dua hari Safira keluar dari rumah sakit. Itu artinya hanya 5 hari lagi Safira akan tinggal di rumah ini.
Bahkan Nyonya Varinda dan David pun menginap di rumah ini hanya untuk menemani cucunya yang sebentar lagi akan di bawa oleh keluarga kandungnya.
Hari ini Hasna datang bersama Hisyam dan juga pria yang menemani mereka. Mereka bermaksud untuk menjenguk Safira. Karena selama Safira di rumah sakit, Hasna tidak lagi menjenguknya sejak kejadian di taman bersama Anista.
"Ya ampun Na, aku kangen banget sama kamu" Anista langsung memeluk Hasna saat melihat sahabatnya itu datang
"Iya Nist, maaf ya aku baru bisa dateng lagi sekarang. Aku gak bisa lama-lama ninggalin Hisyam dan aku juga gak bisa terlalu lama ambil cuti kerja" jelas Hasna
Anista tersenyum "Tidak papa, ayo duduk dulu. Safiranya sedang ganti baju dulu sama Mami"
__ADS_1
Hasna mengangguk lalu mengikuti Anista untuk duduk di sofa. Hisyam dan pria yang ikut bersama mereka juga ikut duduk.
"Oh ya, ini siapa Na?" Tanya Anista dengan tatapan penuh arti pada Hasna
"Teman aku Nist, kenalin ini Kak Ryan teman aku waktu sekolah dulu. Kakak kelas aku" jelas Hasna
Anista bersalaman dengan Ryan dan saling berkenalan. Mereka mengobrol santai di ruang tamu itu. Sampai seseorang datang dan suasana mendadak hening.
"Oh Tuan Bima, mau ketemu Mas Yudha?" Tanya Anista mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung
"Iya, dimana Tuan Muda?" Tanya Bima dingin dan datar
"Ada di ruang kerjanya"
Bima langsung berlalu pergi tanpa menoleh ke arah gadis yang masih menyimpan rasa yang sama padanya. Tanpa ada yang mengetahui, kedua tangan Bima mengepal kuat sambil terus berjalan menuju ruang kerja Tuannya.
Kenapa aku marah saat melihat dia bersama laki-laki itu lagi.
Hasna menatap punggung pria yang di cintainya menghilang di balik tembok. Hah... Dia menghela nafas saat lagi lagi dia tak bisa menghilangkan perasaannya ini.
Anista menatap Hasna dengan tatapan iba, dia tahu perasaan gadis di depannya ini. Sebenarnya Anista juga melihat bagaimana Bima menatap tidak suka pada Ryan.
Sungguh cinta yang begitu rumit.
"Ndaa"
"Bundaa"
Teriakan dua anak kecil yang berbeda usia itu berhasil mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung. Hervan berlari ke arah Bundanya, sementara Safira berada di gendongan sang Nenek.
"Hallo Nyonya" Hasna menyapa sopan pada Varinda
Varinda tersenyum tipis "Tak perlu sungkan, kau adalah temannya menantuku. Jadi kita adalah keluarga"
Hasna tersenyum dan mengangguk, Hervan langsung mengajak main Hisyam dan Safira. Hisyam terlihat begitu dewasa dengan menjaga Safira dan Evan. Dia yang lebih tua tentu saja harus menjaga kedua bocah ini.
Bersambung
Ada cuplikan buat nanti cerita Bima Hasna ya.. Hehe.. Semoga bisa membuat cerita Hasna dan Bima ya. Do'ain Author terus...
__ADS_1