
Seorang pria dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, berjalan masuk ke dalam kantor polisi.
Setelah memberi tahukan tujuannya kesini. Pria itu di antar oleh seorang polisi wanita menuju salah satu sel tahanan. Melewati lorong yang di penuhi sel tahanan dengan beberapa orang di dalamnya dengan pakaian yang sama.
Ini adalah sel tahanan khusus wanita. Roy terdiam, menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya. Seorang wanita duduk bersila di atas lantai tanpa alas apapun. Kedua tangannya memegang besi yang menjulang.
Di sini dia berada, bagaikan dalam sangkar burung. Tidak bisa keluar, tidak bisa melakukan apa-apa seperti kebebasan dalam hidupnya selama ini.
Eliana Merlina, seorang model majalah dan iklan yang begitu terkenal. Bukan hanya di negeri ini, bahkan sampai ke negera tetannga. Wajah cantik dan memiliki tubuh yang semampai membuat dia di puja-puja oleh banyak kalangan masyarakat.
Beginilah akhirnya, karir dan kehidupannya hancur karena dia terlalu serakah. Menginginkan semua orang mendukungnya, menginginkan dunia selalu berpihak padanya.
Namun, benar kata pepatah 'sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai. Maka akhirnya akan tetap tercium'. Begitupun dengan kebohongan, tidak selamanya kebohongan itu akan selalu bisa kita tutupi rapat-rapat. Akhirnya akan tetap terungkap juga.
"El"
Suara lembut yang selalu dia rindukan, namun menjadi pria kedua yang dia sakiti setelah mantan suaminya. Eliana mendongak dan menatap pria yang berdiri di depan sel tahanan.
Kedua mata indah itu kini terlihat lelah dengan lingkaran hitam. Wajah yang selalu dominan dengan make up itu, kini terlihat kusam.
Eliana berdiri, kedua tangannya masih berpegangan ke tiang besi sel tahanan "Roy"
Ya, pria itu adalah Roy..
Pria yang menjadi selingkuhannya selama dia menikah dengan Yudha. Pria yang menganggap Safira adalah anak kandungnya. Sehingga Roy siap untuk menghancurkan Yudha hanya untuk mengambil putrinya.
Namun, kenyataan yang baru saja dia ketahui berhasil menghancurkan angannya. Roy baru saja bisa berbangga dengan kehadiran Safira. Itu artinya dia bisa membantah perkataan dokter yang memvonisnya tidak akan memiliki keturunan.
Namun, kini dia benar-benar telah di hempaskan jauh dari angan dan mimpinya itu. Safira bukanlah anaknya, Yudha benar-benar tidak bersalah sehingga tidak pantas Roy mengusik ketenangannya.
"Jadi, kau sudah menikah? Kenapa kau tidak memberi tahuku. Lalu bagaimana dengan anak kita?" Roy mengelus perut kekasihnya yang masih rata
__ADS_1
Eliana duduk di pangkuannya, dia mengalungkan kedua tangannya di leher Roy "Kau pergi terlalu lama, dan aku tidak bisa menolak keinginan keluargaku"
Roy menunduk sedih, dia yang harus kembali ke negaranya membuat dia meninggalkan Eliana selama dua bulan lamanya. Dan saat kembali dia harus mendapatkan fakta jika kekasihnya telah menikah.
"Berapa usianya?" Tanya Roy seraya mengelus perut kekasihnya itu
"Baru dua bulan"
Roy tersenyum tipis, betapa bahagianya dia saat mengetahui jika kekasihnya tengah mengandung anaknya. Mengingat ucapan dokter beberapa waktu lalu yang mengatakan jika Roy tidak bisa memiliki keturunan.
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kita? Aku ingin menikahimu" kata Roy begitu tulus dan penuh dengan keyakinan
Sial. Kenapa aku harus terjebak dengan tiga pria ini
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, pernikahanku dan Yudha baru saja berlangsung beberapa hari yang lalu. Kau harus siapkan strategi untuk bisa mendapatkan hak asuh anak ini dan juga membuatku terlepas dari pernikahan pura-pura ini" jelas Eliana
"Baiklah aku akan melakukannya, demi anaku dan harga diriku yang selalu di pandang sebelah mata oleh keluargaku karena aku di vonis tidak bisa memiliki keturunan" kata Roy dengan penuh semangat
Hingga usia Safira dua tahun dan Roy tahu jika Eliana telah di gugat cerai oleh Yudha. Tentunya dia sangat bahagia.
Ya, kalian bisa menebaknya. Kedatangan Nathali pada Anista bukanlah semata-mata hanya kebetulan saja
"Calon istri Yudha ini akan mengambil alih Safira"
Begitulah yang Eliana katakan saat itu. Roy yang sudah lama ingin sekali menggendong dan merawat anaknya itu.Tentu saja begitu murka dan tidak bisa berpikir jernih. Dalam pikirannya hanya Safira. Dia takut jika putri satu satunya akan di ambil oleh orang lain.
Bukan tidak dari dulu Roy ingin mengambil hak asuh Safira. Bahkan sejak Safira lahir, dia sudah ingin mengambil hak asuhnya.
Namun, Eliana selalu menghalanginya dengan kata-kata seolah dia akan tersakiti jika Roy nekat melakukan itu.
Roy begitu menyayangi Eliana, apalagi saat dia tahu jika Eliana mengandung anaknya. Rasa sayangnya semakin bertambah pada wanita cantik itu
__ADS_1
"Jika kau memaksakan untuk mengambil Safira, maka aku akan tersiksa. Izinkan aku untuk terlepas dulu dari pernikahan menyakitkan ini"
Perkataan Eliana inilah yang selalu membuat Roy lemah dan akhirnya selalu menuruti permintaan sang kekasih.
Dan saat ini Roy harus menerima kenyataan jika ternyata wanita yang di sayanginya adalah wanita iblis bermuka dua. Bahkan tidak terpikirkan oleh Roy bagaimana bisa dia melukai dua pria sekaligus dengan kebohongan nya.
Roy menatap wajah Eliana dengan tatapan yang sulit di artikan "Terima hukumanmu dan jangan pernah ganggu kehidupanku lagi. Aku muak dengan wajah sok polosmu itu"
Dan akhirnya Eliana hanya bisa menerima semua konsekuensinya dengan apa yang telah dia perbuat selama ini. Akhir yang menyedihkan untuk Eliana, tapi tentu inilah hukuman yang pantas untuk wanita seperti dia.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Acara yang sudah di rencanakan, kini sedang berlangsung. Tamu yang datang hanya keluarga dan orang-orang terdekat saja.Yudha mewujudkan keinginan istrinya, mendatangkan Surya berserta Ayahnya.
Anista tersenyum sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit. Bahagia bisa melihat semua orang datang dengan suka cita, kehamilannya kali ini benar-benar di sambut baik oleh semua orang.
Berbeda sekali dengan kehamilan Evan, dulu. Semuanya menatap sinis dan merendahkan padanya. Tidak ada senyuman tulus dan mendo'akannya dan bayinya.
"Aku pergi menemui beberapa teman kerjaku. Kamu di sini saja, pasti lelah'kan? Istirahat di sini supaya tidak ada yang menganggu" kata Yudha sebelum pergi meninggalkan Anista di ruang tengah
Akhirnya aku bisa bebas juga dari keposesifan Suamiku tersayang itu.
Anista benar-benar malu dengan sikap Yudha yang memperlakukannya bagaikan seorang ratu di depan semua orang.
Bahkan begitu posesifnya Yudha melarang Anista untuk terlalu berdekatan atau bertegur sapa dengan tamu pria. Dia selalu mengawasinya.
Tapi, disini Anista merasa begitu bahagia. Dia merasa begitu di cintai dengan keposesifan Yudha itu. Dan Anista menikmatinya sikap suaminya ini.
"Aa seneng lihat Neng bahagia"
Bersambung
__ADS_1
Note : Yang bacanya teliti, pasti tau siapa Roy. Udah pernah muncul di bab sebelumnya..
Ohya. maaf up nya telat..