Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Masa sulit untuk Anista


__ADS_3

Anista duduk di pinggir tempat tidurnya, menoleh sekilas memastikan jika Evan telah benar benar terlelap. Tatapan nya kosong, hidup Anista seolah kembali ke masa itu. Masa terpuruknya dulu.


"Benarkah Mas Yudha adalah orang itu? Tapi, Nist teh inget keneh kanu jam tangan etaΒ°"


(Tapi, Nist masih ingat jelas pada jam tangan ituΒ°)


Anista masih mengingat sebuah tangan kekar dengan jam tangan melingkar di pergelangan tangannya. Tangan yang telah menariknya ke dalam kegelapan itu.


Malam itu, setelah di antarkan oleh gadis yang bagaikan malaikat untuk Anista. Malam itu Anista tidak lagi seperti Anista yang biasa.


Sang atasan pun merasa kasihan padanya, meski dia tidak benar benar tahu apa yang terjadi. Karna Hasna pun tidak menceritakan dengan jelas padanya.


Pagi harinya Anista langsung izin untuk pulang kampung. Dia benar benar tidak mau berada di kota ini lagi, terlalu menyakitkan jika dia harus tetap bertahan di kota ini.


Sampai di kampung, tentu saja Anista di sambut bahagia oleh kedua orang tuanya. Dan hal itu semakin membuat Anista merasa bersalah dengan apa yang terjadi padanya.


Maafkan Nist Ibu, Abah.


"Eneng teh di kasih libur berapa hari?" Tanya Ibu


Saat ini keluarga kecil ini sedang berkumpul di ruang tengah. Kedua orang tua Anista begitu antusias menyambut kedatangan putrinya yang sudah 3 bulan lebih bekerja di kota dan baru pulang sekarang.


"Hmm. Neng teh... gak kerja lagi Bu" lirih Anista gugup


"Loh kenapa Neng? Apa ada yang jailin Neng di kota?" Tanya Ibu


Anista menggeleng "Tidak Bu, tapi...."


"Tapi apa Nak? Ceritalah" kata Abah seolah mengerti jika ada yang di sembunyikan oleh anak gadisnya itu


"Maafkan Nist Bu, Abah. Hiks"


Tangis Anista langsung pecah begitu saja, dia memeluk tubuh Ibunya. Tidak ingin melihat wajah sedih Ibunya saat tahu apa yang telah terjadi pada anak gadisnya ini.

__ADS_1


"Kenapa Neng? Cerita atuh sama Ibu, sama Abah. Eneng teh kenapa?" Ibu mengelus sayang kepala anaknya ini


"Hiks.. Nist... Hiks... Anis sudah tidak suci lagi Bu. Laki laki biadab itu telah merenggut kesucian Nist. Eneng harus gimana Bu?" Racau Anista dalam pelukan Ibunya


Deg


Bagai mendapat beban berat, Ibu Anista langsung bersandar pada dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu.


Anak gadisnya telah di per*kosa. Hancur sudah perasaan seorang Ibu yang melihat masa depan nya hancur saat ini juga.


"Bagaiamana bisa?" Tanya Abah


Dengan masih sesenggukan Anista menceritakan semuanya yang dia ingat. "Tapi, Neng teh gak bisa liat wajahnya Bah"


"Sudahlah, kamu tenangkan diri kamu dulu. Yakin sama perkataan Abah, semuanya akan baik baik saja"


Satu bulan kemudian Anista hamil, dia benar benar terpuruk dengan ini. Tidak menyangka jika benih pria yang sangat di bencinya kini tumbuh di rahimnya.


"Tidak mau, Nist gak mau hamil... Nist gak mau punya anak si pria biadab itu" teriak Anista di dalam kamarnya


Bahkan hinaan dan cacian dari para tetangga harus dia hadapi setiap harinya. Penyakitnya pun sudah sering kambuh, mungkin karna terlalu banyak tekanan melihat anak gadisnya yang sekarang seperti orang gangguan mental.


"Ibu, Eneng takut" lirih Anista saat melihat Ibunya datang.


Ibu mendekat ke arah Anista yang duduk di atas tempat tidur dengan kedua tangan dan kaki yang terikat. Bukannya tega, namun Anista sering histeris sehingga ingin mencelakai dirinya dan bayi dalam perutnya itu.


Ibu memeluk anaknya itu dengan perasaan hancur sehancur hancurnya melihat kondisi anak gadisnya sekarang.


"Neng gak usah takut, ingat masih ada Ibu dan Abah yang akan selalu ada untuk Neng. Eneng jangan kaya gini terus" kata Ibu


"Neng harus bisa mengendalikan rasa takut Neng demi bayi dalam perut Neng, bayi ini gak salah. Dia berhak lahir dengan kasih sayang dari kita semua. Eneng mengerti kan maksud Ibu"


Ibu tidak pernah bosan memberi pengertian pada Anista yang sedang mengalami depresi berat. Selalu mengatakan hal hal baik tentang anak yang sedang di kandungnya.

__ADS_1


Anista hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Hal itu selalu membuat batin Ibunya tersayat. Gadisnya yang selalu ceria dan penuh dengan semangat. Kini bagaikan mayat hidup yang tak punya masa depan.


Kamu harus kuat Nak.


Tepat usia kandungan Anista menginjak 4 bulan. Anista yang sekarang sudah mulai bisa menerima keadaan. Dia mulai membaik dengan seiring nya waktu berlalu.


Namun, semuanya kembali hancur saat Ibunya meninggal karena penyakit yang di deritanya. Anista kembali terpuruk dengan keadaan ini.


Semua gunjingan dari para tetangga pun tak pernah dia perdulikan lagi. Anista hanya mencoba mengendalikan diri dan fikirannya agar dia tak lagi mengalami depresi seperti saat itu.


Untuk kedua kalinya Anista harus merasakan hidupnya hancur. Kehilangan Ibu yang sangat dia sayangi juga sangat menyayanginya adalah pukulan terberat untuknya. Di tambah kondisinya sekarang yang sedang mengandung tanpa suami.


Anista mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya. Jika teringat masa lalunya itu, maka dia akan merasa sangat bersalah pada Ibunya. Dia telah mempermalukan keluarganya. Ayah dan Ibunya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Yudha di buat kelimpungan mencari Anista. Nyatanya wanitanya itu tidak ada di tempat Ibunya.


"Loh, bukannya Anista sudah pulang tadi bersama Nak Yudha? Dia tidak kembali lagi kesini"


Perkataan Ibu Nina tadi terus terngiang ngiang di telinganya. Itu artinya Anista tidak pulang ke rumah Ibunya. Lalu kemana dia? Bagaiman ini? Dia harus mencari kemana lagi?


Yudha menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi di ruang kerjanya. Tangan kanannya memegang ponsel yang di tempelkan di telinga.


"Pokoknya kau harus bisa mencari dimana Anistaku" kata Yudha dingin dan penuh dengan penekanan, sebelum akhirnya dia mematikan sambungan telponnya itu.


Yudha mengusap wajah kasar "Dimana kamu Sayang? Pantas saja aku merasa melihat diriku sendiri di wajah mungil bocah laki laki itu. Ternyata dia adalah anaku, anak kandungku"


Yudha di buat begitu frustasi dengan kenyataan ini. Semuanya begitu sakit untuk di terima akal sehat.


Wanita yang menjadi calon istrinya adalah wanita yang di carinya. Wanita yang telah dia renggut dengan paksa kesucian nya.


Tuhan, kenapa sesakit ini kenyataan yang harus aku terima?

__ADS_1


Bersambung


jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga ya πŸ€—πŸ€—


__ADS_2