Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Perjuangan Wanita Hebat


__ADS_3

"Mas ayo kita ke rumah sakit, adiknya Evan sudah mau lahir"


"APA???"


Yudha berteriak kaget dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya. Dia langsung menghampiri sang istri yang sedang berdiri dengan tas di tangannya.


"Sejak kapan? Mana yang sakit, perutnya udah sakit banget? Ini ngapain si pake bawa tas sendiri, biar aku aja"


Yudha mengambil alih tas dari tangan Anista lalu menyimpannya di atas lantai, tergeletak begitu saja.


Huh..


Anista terus menarik nafas dan menghembuskan nya, dia mencoba menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Punggungnya sudah terasa panas.


Yudha yang melihat istrinya sudah begitu kesakitan, langsung menggendong Anista dan berteriak-teriak memanggil pelayan dan supir. Pria ini benar-benar di landa kepanikan.


"Pak Danu, ambilkan tas yang ada di kamar. CEPAT!!"


Pak Danu langsung berlari ke lantai atas mengambil tas yang di maksud oleh Yudha. Pria paru baya ini, juga terlihat panik. Apalagi melihat Yudha yang sudah seperti orang kesetanan.


Pak Danu menyimpan tas yang berisi perlengkapan bayi dan Ibu itu, di dalam bagasi mobil. Sementara Yudha sudah berada di kursi belakang dengan Anista berada di pelukannya.


"Pak telepon Bima, suruh dia kembali sekarang!" titah Yudha


Pak Danu hanya mengangguk, dia kembali ke dalam rumah untuk segera menelpon Bima.


Mobil melaju memecah keheningan di pagi hari. Matahari masih belum menampakan cahayanya. Suasana jalanan juga masih terlihat lenggang.


"Sayang sabar ya, kita akan segera sampai. Kamu yang kuat ya"


Yudha terus mengelus perut Anista, dia benar-benar cemas dan khawatir saat ini. Melihat kondisi istrinya yang sudah lemah. Wajahnya pucat dengan keringat yang membasahi dahinya. Anista terus meringis, tidak banyak berbicara karena dia hanya ingin fokus pada rasa sakitnya.


Sampai di rumah sakit, Yudha langsung menggendong istrinya dan berteriak memanggil perawat untuk segera menangani sang istri tercinta.


"Kalian ini bodoh apa ya? Kenapa tidak bersiap di depan" bentak Yudha pada para perawat yang datang membawa brankar


"Maaf Tuan"


Lagian kami'kan tidak tahu jika istri anda akan melahirkan hari ini. Anda tidak memberi tahu kami.

__ADS_1


Yudha menidurkan Anista di atas brankar. Tangannya terus menggenggam tangan istrinya. Brankar di dorong oleh beberapa perawat.


Anista semakin gelisah, rasa sakitnya semakin menjadi. Dia meringkuk di atas brankar dengan tangan menggenggam erat tangan suaminya.


"Sayang, kuat ya" lirih Yudha yang sudah tidak sanggup lagi melihat penderitaan istrinya.


Masuk ke ruang pemeriksaan, Dokter kandungan datang dan langsung memeriksa Anista. Mengecek jalan lahir bayi, dan tekanan darah Anista.


"Semuanya bagus, tunggulah sebentar lagi ya Nona. Sampai pembukaannya full"


"Kita operasi saja" kata Yudha yang langsung menjadi pusat perhatian di dalam ruangan itu.


"Mass"


Anista memegang tangan suaminya yang berdiri di sampingnya. Anista tahu jika Yudha sedang di landa kecemasan dan khawatir dengan kondisinya dan juga bayi mereka.


"Semuanya normal dan sehat Tuan, jika operasi justru akan semakin menambah rasa sakit" jelas Dokter


Arghh..


Yudha menjambak rambutnya, frustasi. Dia menatap wajah istrinya yang sudah lemah tak berdaya, di kecupnya kening Anista dengan lembut.


Akhirnya pertahanan Anista pecah juga. Dia meneteskan air matanya karena terlalu menahan sakit yang sedang di rasakannya.


"Sayang..." Sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Yudha benar-benar tidak tega melihat istrinya seperti ini.


Yudha menempelkan keningnya di kening istrinya. Bahunya bergetar, Anista terkejut mendengar isakan lirih dari suaminya. Keningnya juga basah karena air mata yang menetes dari mata suaminya.


Terimakasih Ya Allah, Nist begitu bahagia mendapatkan suami seperti Mas Yudha. Meski dulu banyak sekali kesalah fahaman di antara kita. Tapi, aku bersyukur karena tetap bertahan di sampingnya. Abah, Ibu.. Neng bahagia di sini


Anista begitu merasa sangat di cintai. Suaminya yang dingin dan sedikit arogan itu bahkan menangis karena melihatnya kesakitan. Wanita mana yang tidak tersentuh dengan ketulusan pria seperti Yudha.


"Maaf Sayang, dulu kau melahirkan Evan juga kesakitan seperti ini. Tapi, aku tidak ada di sampingmu. Kau berjuang sendiri"


Suara parau Yudha membuat Anista mengingat kembali waktu dimana dia melahirkan anak pertamanya di rumah bidan desa dan hanya seorang diri.


Melihat istrinya seperti ini, Yudha semakin merasa bersalah. Saat Evan lahir, tentu saja istrinya juga merasakan sakit yang sama. Bahkan mungkin lebih sakit karena tidak ada seorang suami yang menemaninya dan menguatkannya seperti saat ini.


Kau adalah wanita hebat..

__ADS_1


Akhirnya waktu yang di tunggu pun datang. Brankar Anista di dorong keluar dari ruang rawat dan di bawa ke ruang bersalin. Saat keluar Yudha melihat Bima sudah berdiri di depan ruangan istrinya.


Bima langsung mendekat ke arah Tuannya. Menepuk bahu Yudha "Kau harus kuat demi anak dan istrimu"


Yudha mengangguk "Terimakasih Bim"


Yudha berlalu ke ruang bersalin untuk menemani istrinya berjuang melahirkan anak mereka.


"Tarik nafas Nona, mengejanlah sekuat tenagamu. Kasihan bayinya jika terlalu lama di dalam. Dia sudah siap keluar dan melihat dunia ini" intruksi dokter kandungan


Yudha terus menggenggam tangan istrinya dan mengelus kepala Anista. Mengelap keringat yang becucuran di dahi istrinya.


"Ayo Sayangku, kesayanganku.. Sayang bisa, Sayangnya aku kuat. Ya.. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan pangeran kecil kita" kata Yudha, terus memberinya semangat


Anista menarik nafas dalam dalam, dia siap berjuang dan mempertaruhkan nyawanya untuk bayi mereka. Dia siap..


Perjuangan seorang Ibu yang tidak akan ada yang bisa menandinginya. Anista mengejan dengan sekuat tenaga, tangannya memegang erat tangan suaminya. Air mata mengalir di sudut matanya.


Akhirnya suara tangisan bayi menggema di ruangan itu. Anista menjatuhkan kepalanya setelah dia berjuang melahirkan buah hatinya. Yudha tersenyum saat melihat anaknya dia angkat oleh perawat dan di bersihkan.


Setetes air mata mengalir di pipinya, Yudha begitu bahagia dan sangat terharu dengan apa yang di laluinya hari ini.


Melihat istrinya berjuang melahirkan anaknya, mendengar tangisan pertama putra mereka. Pengalaman pertamanya yang membuat Yudha berdebar dengan perasaan campur aduk.


Bayi mereka di tengkurapkan di atas tubuh Anista. Dokter menyingkap pakaian Anista dan ingin memberikan asi pertama untuk bayi mungil itu. Namun, langsung mendapatkan protes dari sang suami posesif.


"Apa yang kau lakukan" kata Yudha dengan setengah berteriak


"Saya harus memberikan asi pertama untuk bayi kalian, Tuan" jelas Dokter


"Kau gila ya? Disini ada orang lain, cukup kau melihat milik istriku yang seharusnya hanya aku saja yang melihatnya" kata Yudha, sepertinya kesadarannya sudah kembali normal sehingga sifat posesifnya kembali keluar.


"Mas, bisa diam tidak? Aku masih lemah, mendengar kamu berisik membuatku semakin lemah. Biarkan Dokter melakukan apa yang seharusnya di lakukan. Kamu diam saja, atau kamu keluar saja kalau tidak mau diam" kesal Anista dengan suara lemahnya


Yudha langsung diam, dan membiarkan Dokter melakukan apa yang seharusnya di lakukan. Yudha menatap penuh haru pada bayi mungil yang sedang menyusu dengan lahap pada sang Bunda. Tangan mungilnya menggenggam jari Yudha.


"Terimakasih Sayang, aku mencintaimu"


Bersambung

__ADS_1


Tadinya pengen end di dua eps terakhir ini. Tapi, ternyata masih aja belum puas kalo end cuma sampe sini aja. Karena aku itu sukanya end sampai tuntas gak gantung kayak gini.


Aku kasih dua chapter lagi aja kayaknya.. Hehe...


__ADS_2