
"Aa seneng lihat Neng bahagia"
Tiba-tiba suara familiar itu membuyarkan lamunan Anista. Dia menoleh dan tersenyum ramah pada pria teman sekampungnya. Yang tentunya juga banyak membantunya di saat kesulitan.
"A Surya, kumaha kabarna A?°" Tanya Anista
(Bagaimana kabarnya Kak?°)
Surya berjalan mendekat ke arah Anista yang duduk di sofa ruang tengah itu. Suasana di sini cukup sepi, karena kebanyakan tamu yang datang berada di ruang tamu. Namun, dari sini tentunya masih bisa terlihat jelas ke suasana di ruang tamu.
"Aa teh sehat Neng, bagaimana dengan Eneng dan bayinya?" kata Surya
"Nist teh juga baik, bayinya juga sehat"
Surya mengangguk kecil "Syukurlah. Kemana suamimu?"
Anista celingukan mencari keberadaan suaminya "Tadi si bilangnya mau menyapa beberapa rekan kerjanya"
"Ohh" Surya mengangguk mengerti "Yasudah, biar Aa saja yang temani Neng"
Eh...
Sebaiknya tidak usah, kalo suamiku lihat pasti akan cemburu buta. Tapi, Nist teh juga gak bisa menolak.
"Tidak papa Neng, Aa hanya ingin mengobrol sebentar. Tidak akan melakukan apa-apa dan akan berada di jarak aman" kata Surya seolah mengerti apa yang di fikirkan Anista
"Aa sudah ikhlas Neng, Aa bahagia melihat Neng bahagia bersama suami Neng. Evan juga terlihat begitu bahagia. Melihat bagaimana suamimu begitu memperhatikanmu dan memperlakukanmu seperti seorang putri. Aku yakin, kalau Yudha adalah yang terbaik untukmu dan Evan" kata Surya
Anista terdiam, memang benar apa yang di katakan Surya. Dia begitu bahagia, suaminya memang bukanlah pria sempurna.
Sering kali dia melakukan kesalahan, tapi Anista sebagai seorang istri hanya bisa bersabar menghadapinya dan membimbing suaminya agar lebih baik.
Surya menepuk kecil kepala Anista, seperti seorang kakak pada adiknya "Jika dia menyakitimu, beritahu aku! Aku akan membawamu pulang saat itu juga"
Anista mengangguk dan tersenyum tipis "Mas Yudha sangat menyayangiku dan Evan"
"Syukurlah aku lega mendengarnya"
"Sayang...."
Deg
Anista menoleh ke aras suara, suaminya datang dari arah belakang. Entah dari mana Yudha pergi, dia menatap tidak suka pada Surya.
Aduh.. Kenapa datangnya gak tepat waktu si.
Yudha duduk di samping Anista, dia masih menatap tidak suka pada Surya. Seolah pria itu telah mengambil istrinya.
__ADS_1
"Ngapain?" Tanya Yudha dingin
Aduh...
"Hehe.. Cu..cuma ngobrol aja" kata Anista sambil tersenyum masam
"Ngobrol?" Tatapan matanya semakin menajam "Lupa? Janjinya kemarin gimana?"
"Jangan dekat-dekat dengan dia apalagi ngobrol. Aku mengawasimu!"
Glek...
Anista menelan salivnya dengan susah payah. Ancaman Yudha saat dia meminta untuk mengundang Surya masih teringat di fikirannya.
"Sudahlah Yudh, tidak perlu memarahi istrimu. Dia itu bukan tipe wanita tidak setia, asal kamu tahu aku mengejar dia sudah dari lama. Bahkan sejak dia masih sekolah"
"Tapi, lihatlah apa aku bisa mendapatkannya? Tidak. Dia tetap mementingkan perasaannnya"
"Istrimu selalu takut menyakiti perasaan orang lain jika dia harus menerima cinta seseorang tapi karena kasihan. Bukan karena dia juga mencintainya. Percayalah, dia adalah wanita terhebat yang pernah aku temukan" jelas Surya
Anista sedikit terkejut melihat perubahan Surya. Kenapa pria ini sekarang terlihat begitu bijak dan dewasa. Kemana Surya yang pecicilan dan selalu membuat orang kesal?
"Terimakasih A" kata Anista tersenyum tipis
"Sudahlah kau pergi sana, aku ingin bicara dengan istriku" kata Yudha, suaranya sudah tidak sedingin tadi. Mungkin Yudha sudah mulai melihat ketulusan Surya dan mulai menerimanya sebagai teman istrinya. Bukan lagi sebagai rivalnya.
Selepas kepergian Surya, Anista menjadi panik sendiri. Tatapan tajam suaminya benar-benar membuatnya menciut. Tatapan Yudha begitu menghunus ke ulu hatinya. Seolah dia telah mempergoki istrinya yang sedang berselingkuh.
"Sa..Sayang"
Anista meraih tangan besar itu dan menggegamnya dengan kedua tangannya. Oke. Saatnya keluarkan jurus rayuanmu, Nist.
Yudha memalingkan wajahnya, dia sedang merajuk pada istrinya ini. Anista semakin bingung untuk merayu suaminya itu, dia bukanlah wanita yang pandai merayu. Melihat Yudha malah memalingkan wajahnya, membuatnya semakin menciut.
"Bicara apa saja tadi?" Tanya Yudha dingin, masih memalingkan wajahnya
"Hanya bicara biasa saja Sayang, A Sur..."
"Stopp memanggil namanya dengan bibirmu itu Anista!"
Suara Yudha sudah penuh dengan penekanan, dia benar-benar kesal sampai memanggil istrinya seperti itu.
Anista tahu jika suaminya benar-benar sedang kesal. Dia memanggil namanya seperti itu, jika sedang kesal dan cemburu padanya.
"Iya, iya. Aku gak akan sebut namanya lagi. Tapi beneran deh Mas. Dia cuma bilang kalo dia juga bahagia dengan kebahagian aku. Dia bahagia melihat kamu memperlakukan aku bagaikan seorang putri. Dia ikut bahagia dengan kebahagiaan kita" jelas Anista
Yudha menoleh, wajahnya masih terlihat kesal dan tidak terima jika istrinya telah mengobrol berdua dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah pria yang mencintai istrinya.
__ADS_1
"Sampe hafal semua apa yang dia katakan" kata Yudha datar
Hah... Salah lagi, di jelasin salah gak di jelasin makin salah. Yang hamil siapa yang sensitive siapa.
"Udah si Mas, marahnya. Lagian hati Nist teh cuma buat suamiku dan ayah dari anak-anak ku. Tidak ada lagi yang bisa menggantikan itu" kata Anista
Yudha menatap wajah manis istrinya, tidak ada kebohongan di matanya. Anistanya berbicara dengan kesungguhan hatinya. Perasaan bahagia langsung memenuhi hatinya mengalahkan perasaan kesal dan cemburu itu.
"Karena dia benar-benar sudah melepaskanmu dan merelakanmu bersamaku. Jadi, aku akan memaafkannya. Tapi ingat! Tidak ada berdekatan, berkomunikasi atau mengobrol berdua dengan pria sialan itu" kata Yudha dengan nada penekanan di akhir kalimatnya
Anista merangkul tangan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Iya Sayang"
"Bagus, sekarang ayo kita ke kamar. Kau pasti lelah'kan" kata Yudha langsung menggendong istrinya itu
"Masss..." Anista yang terkejut langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Yudha "Kalo ada yang liat gimana? Terus para tamu juga bagaimana?"
Cup
Yudha mengecup bibir Anista yang terus mengoceh, kakinya terus melangkah menuju tangga.
"Tidak peduli dengan mereka. Yang aku pedulikan hanya kesayanganku. Tidak mau kesayanganku sampai kelelahan" kata Yudha santai
Anista langsung menyembunyikan wajahnya yang merona di dada Yudha. Perkataan suaminya benar-benar membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ahhh... Beginilah jika pasangan sedang di mabuk cinta.
"Buka pintunya" kata Yudha saat mereka telah sampai di depan pintu kamar
Ceklek
Anista membuka pintu kamar mereka, Yudha berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kakinya.
Menidurkan istrinya di atas tempat tidur, mengecup keningnya "Istirahatlah, aku akan menemui yang lain di bawah"
Anista cemberut "Ngapain aku di tinggalin di kamar gini. Kalo gitu aku juga mau ke bawah aja"
Cup
Yudha mengecup bibir istrinya yang mengemaskan itu saat mengoceh dan cemberut seperti ini "Jangan membantah Sayang!"
"Temenin aku aja disini" kata Anista, sejak kehamilannya dia mejadi lebih manja. Tapi, Yudha begitu menyukai perubahan sikap istrinya ini.
Yudha merasa begitu dibutuhkan saat istrinya hamil. Selalu ingin di peluk saat tidur, selalu marah jika Yudha pulang telat saja. Selalu ingin di pangku saat Yudha sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja.
Semua hal yang istrinya inginkan selalu membuat Yudha senang. Tidak ada kesal saat istrinya selalu meminta di manjakan di saat dia lelah habis bekerja. Yudha sungguh sangat menikmati masa-masa ini.
"Ya udah aku temenin, mau di elus lagi perutnya" kata Yudha lembut sambil membelai rambut istrinya
Anista mengangguk dan Yudha langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping istrinya. Tangannya memeluk Anista sambil terus mengelus perut istrinya yang sudah membuncit.
__ADS_1
Bersambung
Like, komen di setiap chapter.. plisss.. biar nambah semangatnya ya.. 😌