
Asisten yang sangat cerdas dan dapat di percaya tentu saja sangat dibutuhkan di saat seperti ini. Bima dapat mengurus persiapan pernikahan Anista dan Yudha hanya dalam waktu tiga hari saja.
Melihat bagaimana kondisi Sumintar semakin memburuk. Bahkan untuk operasi pemasangan ring jantung pun harus di undur karna keadaannya yang tidak stabil.
Pagi ini Varinda dan suaminya juga anak anak Yudha dan Bima juga datang ke rumah sakit untuk menyaksikan akad nikah Anista dan Yudha.
Sementara dari keluarga Anista hanya datang Bi Nenti, Bu Nina juga Surya dan Ayahnya. Sebenarnya Ayahnya Surya tidak begitu minat datang ke acara ini. Hanya saja anaknya memaksa, Surya ingin melihat jika wanita yang selama ini di sukainya memang benar benar bahagia dengan pria pilihannya.
Anista hanya di rias natural oleh Nyonya Varinda. Dengan balutan kebaya putih dan rok batik yang dia kenakan membuat Anista terlihat lebih dewasa dari biasanya.
Pasangan ini duduk di depan meja kecil yang berhadapan dengan Pak penghulu juga Sumintar. Pria paruh baya itu tersenyum saat melihat anak satu satunya bisa menikah dengan pria yang di cuntainya juga mencintainya.
Dengan satu tarikan nafas Yudha mengucapkan ijab qobul. Akhirnya mereka berdua sah menjadi suami istri.
Yudha memasangkan cincin di tangan Anista begitu pun sebaliknya. Anista mencium punggung tangan pria yang kini telah menjadi suaminya yang di balas oleh ciuman hangat di keningnya.
Akhirnya semuanya bisa berbahagia setelah menyaksikan pernikahan dua orang yang menjalani kisah rumit dalam percintaannya. Meskipun hanya pernikahan begitu sederhana, tapi tidak melunturkan rasa bahagia semua orang yang hadir di sana.
Surya menatap nanar pungguh wanita yang kini telah sah menjadi istri orang. Sakit hati ini lihat dia malah menikah sama orang lain. Meskipun aku mengakui kalo wajahnya jelas lebih tampan daripada aku.
Surya berjalan mendekat ke arah Anista "Neng" panggilnya
Anista menoleh dan tersenyum ramah seperti biasa "Iya A?"
Yudha langsung melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, dia merasa tidak suka jika Sarya memanggil istrinya seperti itu.
"Selamat ya, semoga kamu bahagia"
Surya mengulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Yudha "Terimakasih"
Anista sampai terbengong melihat apa yang di lakukan suaminya ini "Mas apaan si?" bisik Anista merasa tidak enak pada Surya.
Mau bagaimana pun Surya tetap berarti untuk Anista. Meskipun hanya sebatas saudara atau teman saja, tidak lebih.
Selama ini Surya sudah banyak membantu keluarganya meskipun Ayahnya Surya tidak pernah mengizinkan nya. Tapi, dia tetap membantu keluarga Anista.
"Iya A, Nuhun. Nist pasti bahagia kok, Aa juga harus bahagia sama pasangan Aa nanti. Nist yakin kalo Aa bakalan bisa menemukan perempuan yang baik dan menerima Aa apa adanya" kata Anista begitu tulus
__ADS_1
Surya mengangguk "Iya Neng"
"Mulai sekarang jangan panggil istriku dengan panggilan itu" suara berat dan dingin Yudha membuat Anista dan Surya langsung menatap ke arahnya.
"Apaan si Mas, kan emang sudah biasa semua orang kampung manggilnya kaya gitu" kata Anista heran
Sementara Sumintar dan yang lainnya hanya mampu tersenyum melihat kelakuan Yudha yang di luar batas manusia normal.
"Aku gak suka, cukup Abah aja yang manggil kamu kayak gitu. Pria ini gak boleh" kata Yudha penuh dengan penekanan
Anista menghela nafas "Terserah kamu deh Mas, pusing aku"
Anista langsung berjalan menghampiri anak anaknya yang sedang bersama Sumintar, Varinda juga David. Sementara Bima hanya duduk di sofa dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Setelah acara ijab qobul selesai, semua keluarga yang lain kembali pulang. Apalagi untuk anak anak yang tidak baik terlalu lama berada di rumah sakit. Yudha harus pulang terlebih dulu karena ada beberapa hal yang harus dia urus.
Anista duduk di sofa yang berada di ruang rawat Ayahnya. Dia memainkan ponselnya sambil sesekali melihat keadaan Ayahnya yang masih terlelap di atas ranjang pasien.
Anista menoleh ke arah jam dinding "Udah jam 11 malem, kok Mas Yudha gak hubungin aku ya?"
Tepat pada saat itu ponselnya bergetar, Anista langsung mengambil ponselnya yang di letakan di atas meja kecil di samping sofa yang di dudukinya.
"Hallo, Assalamualaikum. Mas kok belum kesini?"
"Waalaikumsalam. Maaf Sayang, aku kayanya gak bisa kesana sekarang. Ini ada kerjaan mendadak yang harus aku selesaikan sekarang, besok udah harus selesai. Gak papa kan?"
"Iya Mas, gak papa kok yang penting kamu baik baik aja. Udah makan malam belum?"
"Udah tadi, yaudah aku besok langsung ke rumah sakit. Kamu baik baik di sana, ada penjaga yang aku suruh jagain kamu di depan kamar rawat Abah"
Anista menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang berdiri "Oh baiklah Mas"
Pagi telah menjelang, Anista baru saja menyelesaikan ibadahnya sebagai muslim. Dia melipat sejadah dan mukena yang di kenakan nya. Di simpan di rak kecil yang berada di sana.
Anista berjalan mendekati ranjang pasien tempat dimana Ayahnya terbaring di sana. Ada yang aneh disini, Ayahnya bahkan tidak bergerak sedikit pun sejak dia mengeceknya tadi sebelum adzan subuh.
__ADS_1
Anista memegang tangan Ayahnya, beralih ke kening Ayahnya.. Dingin.. Tubuh Sumintar terasa begitu dingin. Anista mulai panik, dia menggoyangkan tubuh Ayahnya.
"Abah bangun, Abah bangun... Abah..." teriak Anista masih menggoyangkan tubuh Ayahnya
Dengan kepanikannya Anista berlari ke luar ruangan dan berteriak memanggil dokter. Bahkan dia melupakan jika ada tombol darurat di dalam ruangan Ayahnya.
Dokter dan beberapa perawat berlarian masuk ke dalam ruang eawat Sumintar. Anista hanya bisa terduduk lemas di lantai dengan air mata yang bercucuran.
Penjaga yang berada di depan ruang rawat segera membantu Anista untuk berdiri dan mendudukan nya di kursi tunggu. Sementara dia segera menghubungi Tuannya untuk memberi tahukan apa yang telah terjadi.
"Nona Muda yang sabar ya, berdoa semoga Ayah Anda bisa baik baik saja. Saya sudah menghubungi Tuan Muda"
Anista mengangguk mendengar ucapan penjaga tadi. Bahkan untuk berucap pun dia rasanya tidak mampu saat ini. Kakinya terasa lemas, jantungnya berdetak dengan kencang. Hal hal buruk telah terbayang di kepalanya.
Ya Allah selamatkan Abah, Nist gak mau kehilangan lagi.
Ceklek
Dokter dan perawat tadi keluar dari ruangan Sumintar. Anista segera berdiri dan menghampiri mereka dengan sisa tenaganya.
"Bagaimana Dok?"
Dokter menghela nafas berat, Anista sudah merasa tidak enak dengan ini. Akhirnya gelengan kepala dari Dokter itu membuat Anista benar benar tak berdaya.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain Nona"
Ucapan dokter barusan bagaikan petir yang menyambarnya. Dunianya seolah hancur, Anista harus kembali kehilangan satu satunya orang tua yang dia miliki.
Anista menggeleng dengan air mata semakin mengalir deras di pipinya "Gak mungkin, Abah pasti selamata. Iya'kan Dokter? Abah Nist pasti selamat. Dokter jawab"
"Nona yang tenang, ini semua sudah takdir Tuhan. Nona yang sabar" Si penjaga mencoba menenangkan istri dari Tuannya ini
Ya Allah Nist benar benar jadi yatim piatu.
Brukk..
Anista pun limbung dan tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Kesadarannya perlahan menghilang. Anista jatuh pingsan.
__ADS_1
Bersambung
Maaf baru bisa up sekarang, banyak urusan di kehidupan nyata. Jadi, ngehalunya agak kehalang oleh kenyataan... wkwk