Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Berontak


__ADS_3

"Ekhem"


Anista berdehem saat tenggorokannya terasa kering. Dia mencoba meraih gelas di atas nakas di sampingnya.


"Kau mau apa?"


Yudha masuk ke dalam ruang rawat dan segera menghampiri istrinya yang terlihat kekusahan untuk meraih gelas berisi air putih di atas nakas.


Yudha mengambilkan Anista minum dan membantu istrinya untuk minum. Meski istrinya masih saja mendiamkan nya sejak tadi. Bahkan di ruangan ini hanya ada mereka berdua, tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibir Anista.


"Mau apa lagi, mau makan?" Tanya Yudha lembut


Lagi, Anista tidak menjawab malah membaringkan tubuhnya kembali. Tidur membelakangi Yudha, pria itu hanya bisa menghela nafas pelan. Dia tahu dan cukup mengerti kenapa istrinya bisa bersikap seperti ini.


"Baiklah, kalau ada yang kamu inginkan bilang saja sama aku. Aku duduk di sofa" kata Yudha


Yudha menghela nafas saat Anista tetap mengacuhkannya. Sudahlah, terima hukumanmu. Ini salahmu.


Tess


Setetes air mata menetes dari sudut mata Anista hingga mengenai bantal yang dia gunakan. Bukannya dia tidak ingin berbicara pada suaminya.


Tapi, Anista begitu kecewa dengan Yudha apalagi perkataan Yudha yang begitu menyakitkan dan masih berbekas di hatinya.


Bolehkah saat ini Anista egois? Dia butuh waktu sendiri, Anista ingin menenangkan hatinya dulu tanpa di ganggu oleh suaminya. Yang beberapa waktu lalu telah menyakiti hatinya.


"Pergilah"


Kata pertama yang keluar dari bibir Anista setelah mendiamkan Yudha sedari tadi. Namun, bukan kata itu yang Yudha ingin dengar dari mulut istrinya.


Yudha berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. Di elusnya pelan kepala istrinya, namun langsung mendapat tepisan kasar dari sang istri.


Sakit...


Hati Yudha benar-benar sakit, dadanya terasa sesak saat sikap istrinya seperti ini. Tapi, dia harus bisa menerima perlakukan istrinya karena Yudha juga sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Kata-kata sialan, yang seharusnya tidak dia ucapkan pada istrinya.


"Pergi!!" Suara Anista terdengar begitu parau


Yudha menggeleng pelan, matanya sudah berkaca-kaca "Maaf Sayang, maafkan aku"


Bahu Anista bergetar, dia terisak pelan "Pergi!! Saat ini aku hanya ingin sendiri"


Yudha masih diam dan menggelengkan kepalanya sebagai penolakan atas permitaan Anista. Wanitanya masih saja membelakanginya.


Akhirnya Anista berbalik dan menatap Yudha dengan mata basah. Hati Yudha semakin sakit melihat tatapan sendu penuh luka itu.


"Maaf. Jangan kayak gini, aku mohon. Maafkan aku, Sayang maaf" lirih Yudha dengan tatapan memohon dan oenuh rasa bersalah


"Aku butuh waktu Mas, untuk memikirkan kelanjutan pernikahan kita" kata Anista


Duar....

__ADS_1


Yudha bergetar mendengar ucapan Anista yang bagaikan sebuah petir yang menyambar kehidupannya. Kaki Yudha terasa lemas sehingga tidak bisa lagi menopang tubuh tegapnya.


Yudha berlutut di lantai, meraih tangan Anista meski mendapatkan penolakan dari istrinya. Yudha tetap menggenggam erat tangan Anista, menciumnya beberapa kali dengan mata yang semakin berkaca-kaca.


"Jangan bicara seperti itu, Sayang aku mohon maaafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi, tolong jangan kayak gini. Maafkan aku" lirih Yudha dengan suara parau


"Ingat ada anak kita disini" Yudha mengelus perut Anista, namun segera di tepis kasar oleh istrinya


"Pergi! Aku benci sama kamu, Mas. Kamu tega, kamu menghinaku, menyalahkanku. Dan kamu juga bilang kalau Safira adalah kesayanganmu sebelum aku dan Evan hadir. Hiks"


"Kau tidak menginginkan kehadiran kita, kau hanya terpaksa menerima kami. Termasuk bayi ini. Iya kan!" teriak Anista penuh dengan emosi


Hiks..hiks..


Anista menangis sejadi jadinya, dia begitu kecewa dengan ucapan suaminya beberapa waktu lalu.


Yudha berdiri dengan sisa tenaga yang di milikinya. Dia memeluk Anista yang berbaring di atas ranjang pasien.


"Sayang kalian begitu berharga untuku, jangan bicara seperti itu lagi. Aku tahu aku salah, aku terlalu emosi saat mengatakan hal menyakitkan itu padamu. Aku tidak sadar dengan kata-kataku. Sayang, maafkan aku"


Yudha masih memeluk Anista yang terus berontak ingin di lepaskan. Bodoh! Kenapa kau selalu bisa di kuasi oleh emosi. Bahkan kau telah mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan untuk istrimu.


"Lepas, aku gak mau lihat kamu. Aku benci sama kamu! Pergiii!!" Teriak Anista


Yudha menggeleng cepat, air mata telah berhasil lolos dari kedua matanya "Tidak Sayang, kalo kamu marah silahkan kamu pukul aku. Tapi, jangn kayak gini, jangan mendiamkan aku dan menyuruhku pergi"


Hiks..Hiks...


Arghh...


Yudha melepaskan pelukannya dan menatap cemas saat istrinya mengaduh kesakitan "Sayang kenapa? Apa yang sakit, apa aku menyakitimu?"


Yudha memeluk Anista di bagian dada, sama sekali tidak menekan bagian perutnya. Tapi, sekarang Anista kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Sayang, aku panggilkan dok..."


"PERGII!!!"teriak Anista, masih meringis menahan sakit


"Kehadiranmu disini hanya membuatku dan bayiku sakit"kata Anista lagi


Yudha terdiam, dadanya begitu sesak mendengar ucapan istrinya. Benarkah? Kehadirannya hanya membuat anak dan istrinya kesakitan?


"Sayang maaf"


"KELUAR, AKU BILANG KELUAR SEKARANG!! ARGHHH.."


"Oke... Aku keluar sekarang, jangan teriak terus nanti perutnya tambah sakit. Aku panggilkan dokter" kata Yudha menyerah, dia akhirnya keluar dan memanggilkan dokter untuk memeriksa Anista.


Aku akan memberikanmu waktu sendiri dulu, cukup aku mengawasimu dari jauh Sayang.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...

__ADS_1


Ceklek


Dokter keluar dari ruangan Anista setelah selesai memeriksa keadaan Anista. Yudha segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan istrinya.


"Istri anda harus banyak istirahatdab tolong jangan membuatnya tertekan" jelas dokter


Yudha mengangguk mengerti, setelah dokter pergi dia hanya diam di depan ruang rawat istrinya. Yudha sangat ingin menemani istrinya di dalam.


Tapi, melihat bagaimana Anista menolak tegas kehadirannya bahkan sampai perutnya kembali sakit. Yudha tidak mau ambil resiko.


Drett...Drett


Yudha mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. "Hallo Bim, bagaimana?"


"Saya di ruangan Safira sekarang, anakmu terus memanggilmu dan Bundanya"


Yudha menghela nafas, sakit... saat mengingat kenyataan jika Safira bukanlah anak kandungnya.


"Baiklah aku akan segera kesana"


Yudha memerintahkan dua penjaga untuk menjaga istrinya sebelum dia pergi menuju ruang rawat Safira.


Dan sekarang disinilah Yudha berada, menatap sendu pada putrinya yang baru saja terlelap setelah dia mengelus kepalanya.


Yudha ingin tidak percaya semua ini, namun Bima tidak mungkin membohonginya dan mengarang cerita tentang hal ini.


Bima menepuk bahu Yudha "Kau harus tegar Yudh, ini semua adalah takdir yang harus kau jalani dan kau lalui"


Yudha menghembuskan nafas kasar "Bagaiman soal dua manusia biadab itu?"


"Polisi sedang meproses kasus ini, aku telah melaporkan semuanya dengan bukti-bukti yang aku miliki. Mereka tidak akan bisa mengelak lagi, semua bukti yang aku berikan terlalu kuat untuk mereka tidak mengakuinya" jelas Bima


"Kau memang sangat bisa aku andalkan, Bim" kata Yudha tersenyum tipis


"Tapi, masih ada masalah baru" kata Bima, terlihat ragu untuk mengatakannya


Yudha menoleh "Apa?"


"Orang tua Eliana menuntut hak asuh atas Safira" kata Bima


Yudha terkekeh sinis "Baru sekarang? Lalu selama dua tahun ini mereka kemana? Setelah tahu jika anak yang aku rawat dan aku berikan kasih sayang dengan tulus ternyata bukan anak jantungku"


Bima duduk di sofa "Apa aku boleh memberimu saran?"


Yudha mengernyit bingung, dia berjalan ke arah sofa dan ikut duduk di samping Bima "Saran apa maksudmu?"


"Biarkan Safira bersama keluarga dari Ibunya"


"Kau gila!!"


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya..


__ADS_2