
"Evan mau tidur sama Bunda?" Tanya Anista
"Iya"
"Emm" Anista terlihat ragu saat ingin mengatakan sesuatu pada Varinda dan suaminya "Nyonya, apa boleh saya dan Evan tidur di kamar Safira saja?"
"Kau boleh tidur di kamar yang mana saja, kamar kosong disini banyak" kata Varinda sambil berlalu pergi.
"Maaf ya, mungkin Mami masih belum bisa bersikap baik sama kamu" kata David
Anista mengangguk dan tersenyum "Tidak papa"
Setelah memastikan anaknya tidur dengan nyenyak, Anista keluar kamar dan ingin menemui Yudha. Sudah terlalu lama Yudha menunggu. Karna sehabis makan malam Anista harus menidurkan Evan dulu sebelum menemuinya.
Ceklek
Anista masuk ke dalam kamar, dia kira Yudha sudah tidur karena ini sudan pukul 10 malam. Ternyata Yudha masih terjaga, dia menatap wanita yang baru saja masuk ke dalam kamarnya itu dengan tajam.
"Kemana saja?" Tanya Yudha dingin
Anista duduk di pinggir tempat tidur, menghela nafas pelan "Tidurin dulu Evan"
"Hmm. Terus Evan tidur dimana?" Tanya Yudha
"Di kamar Safira"
Yudha mengangguk mengerti "Sini, naik ke sini"
Anista menurut saja, dia naik ke tempat tidur dan duduk di samping Yudha. Tangan kiri Yudha langsung membawa tubuh Anista ke dalam pelukannya.
Yudha mencium kening Anista dengan lembut "Besok kita pulang ke rumah ya"
Anista mendongakan wajahnya membuat Yudha kembali mencium keningnya "Kok pulang? Kita'kan belum dapat restu dari orang tua kamu"
"Tidak perlu lagi, sekarang kita tidak perlu restu darinya lagi" kata Yudha datar
"Sayang"
Anista mengelus dada Yudha yang naik turun karna emosi yang terpendam. Saatnya menggunakan panggilan Sayang untuk membujuknya.
"Aku tidak akan terpengaruh dengan panggilan itu" kata Yudha datar
Hah..
__ADS_1
Kenapa dia bisa tahu si tujuan ku.
Anista menghela nafas, dia mengelus tangan Yudha "Tapi Mas, sepertinya Mami kamu itu udah berubah sekarang. Dia udah bersikap baik kok sama aku, apalagi sama Evan. Kamu lihat sendiri'kan tadi"
Anista sedikit mendongakan wajahnya dalam pelukan Yudha, ingin melihat bagaiamana ekspresi pria itu "Ayolah Mas, maafin Mami kamu ya. Aku aja udah maafin Mami kamu dan bisa nerima dia dan suaminya"
Yudha menghela nafas, dia mencium puncak kepala Anista "Sudahlah, aku capek sekarang. Ingin tidur"
Anista lagi lagi menghela nafas, sepertinya akan butuh kesabaran untuk memberi pengertian pada Yudha. Terlalu terluka dengan kenyataan memeuat Yudha sedikit keras kepala.
"Ya udah kamu istirahat ya, aku juga mau ke kamar anak anak. Aku tidur di sana" kata Anista
"Gak mau disini saja tidurnya?" Tanya Yudha dengan wajah sedikit kecewa
Anista menggeleng pelan "Belum sah"
Hah...
Yudha hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dan itu membuat Anista terkekeh pelan. Cup... Satu kecupan Anista berikan di kening pria itu.
"Selamat tidur Sayang"
Anista langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar karna malu sendiri dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Yudha terkekeh sendiri saat melihat tingkah Anista barusan "Dasar gadis kecilku"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Tolong... Tuan.. tolong jangan lakukan itu"
Deg Deg Deg
Yudha terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin mengucur di dahinya. Nafasnya terengah engah, mimpi itu kembali datang. Mimpi yang selalu menghantuinya 4 tahun ini.
Gadis itu telah dia temukan, gadis yang dia nodai kini telah bersamanya. Namun, sejatinya masa lalu yang kelam itu belum bisa benar benar Yudha lupakan.
Pria ini masih terjerat dengan masa lalunya. Rasa bersalah selalu menghantuinya, dia selalu merasa menjadi pria paling berengsek selama ini.
Hah...
Tenang Yudh, kau harus tenang. Lupakan semua itu, kejadian itu. Kau sudah bersama gadis itu juga anakmu. Cintai dia dan bahagiakan mereka mulai saat ini.
Begitulah cara Yudha menenangkan dirinya saat masa lalunya kembali menghantui fikirannya. Apalagi mimpi itu kembali datang, mungkin juga karena dia terlalu banyak fikiran dan terlalu tertekan dengan keadaan.
__ADS_1
Yudha melirik ke arah jam dinding, baru pukul 2 dini hari. Itu artinya dia baru tertidur beberapa jam saja. Dia turun dari tempat tidur, berjalan keluar kamarnya.
Yudha menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Yudha berhenti di depan kamar yang di tempati oleh Anista dan anaknya.
Dengan perlahan Yudha membuka pintu kamar itu agar tidak membuat yang tertidur di dalam sana tidak terganggu olehnya.
Namun, saat Yudha berhasil masuk ke dalam kamar itu dia melihat Anista yang sedang bersimpuh diatas sejadah dengan kedua tangan menengadah ke atas. Anista tidak menyadari kedatangan Yudha karena dia juga membelakangi pintu.
Tangan nya mengadah dengan terbalut mukena yang sedang di pakainya. Yudha diam mematung, hatinya merasa sejuk melihat pemandangan di depannya ini.
"Ya Allah, Ya Rabb.. Saat ini hambamu yang penuh dengan dosa ini, meminta ampunan padamu. Ya Allah, kuatkan calon suami hamba dalam menghadapi semua ini"
Deg....
Yudha merasakan debaran kencang di dadanya. Dia begitu terharu dengan calon istrinya yang sudah mendo'akan nya dengan begitu tulus.
"Mas Yudha terlalu rapuh untuk menghadapi masalahnya selama ini. Namun, aku percaya jika Engkau tidak akan menguji umatnya melebihi batas kemampuan umatnya"
"Buatlah Mas Yudha mau memaafkan Ibunya dan hubungannya dengan orang tuanya terutama Ibunya bisa membaik" tak terasa air mata pun menetes di wajahnya
"Hamba juga seorang wanita, tentu tahu bagaimana rasanya menjadi Ibunya Mas Yudha. Bukakan hatinya untuk bisa memaafkan apa yang telah Ibunya lakukan, Ya Allah"
"Semoga semua ini segera terselesaikan, semoga hidup kami bisa bahagia dengan ridha-Mu Ya Rabb"
"Aminnn" Anista mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya.
Aminn. Yudha ikut mengaminkan do'a Anista.
Anista berdiri dan membuka mukenanya lalu melipatnya bersama dengan sejadahnya. Saat dia berbalik ingin menyimpan peralatan sholatnya di lemari kecil yang berada di samping Yudha berdiri saat ini.
"Loh Mas" kata Anista terkejut melihat kehadiran Yudha
Yudha tersenyum lalu mendekat ke arah Anista, memeluknya dengan erat dan mencium puncak kepalanya berkali kali. Rasa bahagia ini benar benar dia rasakan sekarang.
Aku sangat bersyukur memilikimu. Tidak pernah terbayang hidupku jika kau tidak hadir di kehidupanku.Mungkin masa lalu kelam di antara kita adalah cara Tuhan untuk menyatukan kita dan memberikan titik terang dalam kehidupanku yang gelap. Terimakasih Ya Allah
Bersambung
berikan like sama komen di setiap chapter bener bener buat aku seneng loh dan semangat nulisnya. Jadi jangan pelit pelit kasih like sama komen ya.. hadiahnya juga.. 🤗
Plisss jangan hujat aku tentang agama ya.. Aku juga masih belum menjadi orang yang benar benar baik dalam hal ibadah. Masih berusaha menjadi yang lebih baik.
Trauma sama novel aku yang lain, selalu kena hujatan tentang agama. Mohon pengertiannya ya readers..
__ADS_1
Terimakasih 🤗