
"Dasar wanita gak tahu diri, kau telah mencelakai putriku" teriak Eliana yang baru saja datang dan langsung memaki Anista
Anista hanya diam saat Eliana mengguncang tubuhnya. Dia sudah tidak ingin lagi membela dirinya sendiri, suaminya saja mengalahkannya apalagi Eliana yang bisa di bilang sebagai rivalnya.
Yudha pergi menemui Dave dan membayar administrasi setelah memastikan jika Safira baik baik saja. Dave telah mendonorkan darahnya dan akhirnya Safira sudah sadar. Keadaan nya pun stabil, kini balita itu sedang tidur setelah di bero obat oleh dokter.
"Aku pikir Yudha benar benar memilih istri yang baik. Tapi, ternyata dia salah memilih. Kau sengaja menyelakai putriku hanya karena takut anakmy tersaingi. Iya'kan?" Teriak Eliana
Anista menatap wajah Eliana, tatapannya begitu datar. Terluka.. tentu saja dia sangat terluka dengan semua ini. Ucapan suaminya masih saja membekas di ingatan Anista.
"Lalu, siapa yang aku lihat masuk ke dalam mobil yang sengaja menabrak putrimu itu? Apa aku salah liat?" kata Anista
Anista menggeleng pelan "Tentu aku tidak salah lihat, mataku masih normal dan aku tahu jelas siapa orang itu"
Deg
Eliana mematung mendengar ucapan Anista. Tangannya yang tadi mencengkram kuat kedua tangan Anista. Kini lunglai begitu saja, dia menatap Anista dengan wajah panik.
"Apa? Kenapa Teteh ketakutan begitu? Takut jika Mas Yudha tahu kalo Teteh yang sudah menabrak anak Teteh sendiri" kata Anista dengan tersenyum sinis
"Apa??"
Yudha berjalan mendekat ke arah dua wanita yang sedang beradu mulut itu. Tangannya mengepal kuat saat mendengar ucapan Anista barusan.
Di sini bukan hanya Yudha yang emosi, Dave yang juga mendengarkan semuanya juga ikut murka. Dia tatap Eliana dengan begitu tajam.
Aku tidak menyangka kau melakukan ini, El. Dave
"Jadi, kau yang telah menabrak anaku?" Kata Yudha begitu dingin
"Engg...enggak Yudh, dia pembohong. Dia hanya memfitnah aku supaya kamu makin benci sama aku. Percaya sama aku Yudh" Eliana hendak meraih tangan Yudha, namun segera di tepis keras oleh Yudha.
"Istriku tidak seperti itu, aku yakin dia tidak mungkin berbohong" tegas Yudha
Anista berlalu pergi tanpa mau mengatakan atau membela dirinya yang di katakan berbohong oleh Eliana. Anista benar-benar lelah, dia butuh waktu sendiri untuk menyegarkan pikirannya.
Yudha sangat ingin menahan tangan istrinya yang akan pergi. Namun, dia juga ingin menyelesaikan permasalahan ini dulu. Yudha tahu jika wanitanya membutuhkan waktu sendiri setelah apa yang dia katakan.
Maafkan aku Sayang.
Setelah memastikan istrinya tak lagi ada di sana. Yudha kembali menatap tajam pada Eliana.
"Jelaskan!" Kata Yudha dingin
__ADS_1
"Aku gak ngelakuin apa-apa, aku aja gak ngerti dengan apa yang dia maksud" kata Eliana
"Sudahlah El, aku sudah muak dengan wajah bermuka duamu itu. Kurang apa aku menerimamu" kata Dave yang langsung mengalihkan fokus Yudha
"Maksudnya?"
"Dave dan Eliana memiliki hubungan khusus, Tuan"
Suara Bima yang baru saja datang benar-benar bagaikan petir yang menyambar kesadaran Yudha saat ini.
Yudha menoleh ke arah Bima "Apa maksudmu Bim?"
"Maaf karena aku telat memberi tahumu. Awalnya aku tidak ingin membuatmu semakin terluka dengan mengetahui kenyataan yang mungkin akan membuatmu semakin hancur" kata Bima datar
Bima berjalan mendekat, menepuk dua kali bahu sahabatnya itu "Tapi, sekarang aku sadar jika kebohongan tidak akan selamanya tersimpan rapat. Semuanya tetap akan terbongkar juga. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kau mengetahui semuanya"
Yudha semakin dibuat bingung dengan ucapan Bima barusan. Ada apa ini sebenarnya?
"Setahun sebelum Tuan dan wanita ini di jodohkan" Bima menunjuk sinis wajah Eliana "Dia sudah berhubungan dengan Dave, tepat pada saat kalian menikah dia sedang mengandung 2 bulan"
Yudha limbung, dia sampai jatuh terduduk di kursi tunggu. Pikirannya bank, jadi Safira bukanlah.. Arghh.. rasanya Yudha tidak ingin memikirkan itu.
"Kegadisanku hilang saat dulu waktu remaja aku terjatuh dari sepeda. Jadi, kamu jangan heran kalau tidak ada bekasnya"
Bodohnya saat itu Yudha percaya saja karena dia juga pernah mendengar soal kegadisan yang akan hilang di akibatkan terjatuh.
"Dan saat dia mengandung Dave pergi entah kemana dan saat itulah Nyonys besar dan orang tuanya menjodohkan kalian. Tentu saja dia tidak ada penolakan apapun dan langsung menyetujui perjodohan itu"
"Setelah Safira lahir, barulah Dave kembali dan mencari tahu soal anaknya itu. Dan pasangan menjijikan itu kembali melakukan hal yang seharusnya tidak di lakukan oleh wanita yang sudah bersuami"
Yudha berdiri dan menarik kerah kemeja Bima, urat tangannya terlihat menonjol "Kenapa Bim? Kenapa baru sekarang kau memberi tahuku"
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Bima, dia juga mengetahui semua fakta ini setelah Safira lahir.
Jika saja Bima menyelidikinya lebih awal, mungkin Yudha tidak akan sampai menikah dengan Eliana.
Itulah kesalahan terbesar Bima, saat dia ingin mengatakan semuanya Bima tidak tega saat melihat bagaiamana Yudha begitu menyayangi Safira yang ternyata bukanlah anak kandungnya.
"Itulah kesalahan terbesarku, aku mengetahuinya setelah Safira lahir dan aku tidak tega mengatakannya saat melihat bagaiaman kau begitu menyayanginya" jelas Bima
Arghhhh...
Yudha menjambak rambutnya frustasi, dia benar benar kacau dengan keadaan ini.
__ADS_1
Yudha mendekat ke arah Eliana dan Dave yang masih berdiri mematung di sana. Semua kebohongan mereka terungkap dan mereka tidak bisa mengelak lagi.
Bima bukanlah orang sembarangan yang bicara tanpa mempunyai bukti. Dan mereka yakin jika Bima sudah mempunyai semua bukti kebusukan mereka berdua.
Plak.. Plak...
Dua tamparan keras di pipi kanan dan kiri Eliana membuatnya terkejut. Yudha benar-benar murka sekarang.
"Jangan kasar padanya Yudh, mau bagaimana pun dia pernah menjadi istrimu"
Dave, si pria baji*ngan mencoba mencegah Yudha yang akan kembali melayangkan tamparan keras di pipi Eliana yang masih berstatus sebagai kekasihnya.
Yudha tersenyum sinis dan.. Bugh.. Bugh... Pukulan keras dia layangan ke wajah dan perut Dave sampai pria itu tersungkur. Yudha menindih Dave yang sudah tak berdaya karena pukulannya terus menerus.
Bugh..Bugh..
"Yudh sudah, ini di rumah sakit. Jangan mengganggu ketenangan pasien lain" Bima menarik paksa kerah kemeja Yudha agara Yudha bangun dan berhenti memukuli Dave yang sudah tak berdaya.
"Lepaskan! Aku belum puas menghajar pria berengsek ini" teriak Yudha dengan emosi memuncak
Eliana segera membantu Dave untuk bangun sebelum Yudha benar-benar akan membunuh kekasihnya ini.
"Yudha! Ini rumah sakit, urusan mereka berdua biar aku yang mengurusnya. Apa kau tidak percaya padaku, aku pastikan keduanya tidak akan hidup bahagia" kata Bima penuh dengan penekanan
Yudha terdiam, Bima benar seharusnya Yudha tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk menghajar pria seperti Dave. Masih ada Bima, asisten yang selalu bisa dia andalkan dalam hal apapun.
"Sekarang kau cari saja istrimu, kau sudah keterlaluan tadi pada Anista" kata Bima lagi
"Anista, dimana Anistaku? Aku salah Bim, aku telah melukai perasaannya. Aku menyesal, tidak.. Anistaku tidak boleh pergi"
Yudha terlihat begitu panik saat Bima mulai mengungkit tentang Anista. Terbakar emosi yang memuncak membuatnya melupakan keadaan istrinya sekarang yang entah ada dimana.
"Cepat cari dia, urusan dua orang ini biar aku yang mengurusnya" kata Bima
Sayang, kau dimana?
Yudha berlalu pergi dari sana untuk mencari istrinya. Dia ingin minta maaf telah melukai hati istrinya. Yudha benar benar menyesal.
Bersambung
Ayo dong like and komen nya... hadiahnya juga mentok aja di situ situ aja. ðŸ˜ðŸ˜
Bersambung
__ADS_1