Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Pulang Kampung


__ADS_3

Anista turun dari ojek pangkalan tepat di depan rumah kecil yang terbuat dari bambu. Seorang pria yang tidak lagi muda sedang membersihkan kaca rumahnya dengan lap.


Anista menatap rindu pria tua itu, rambutnya yang sudah bercampur dengan warna putih. Pria yang menjaganya, cinta pertamanya dan pangerannya.


"Abah...." teriak Evan sambil berlari ke arah Abah Mintar


Sumintar berbalik dan menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya. Anak dan cucunya pulang, menemuinya. Betapa dia sangat merindukan anak dan juga cucunya ini.


Evan langsung memeluk kaki Abah Mintar "Evan merindukan Abah"


Anista tersenyum dengan mata berkaca kaca. Dia berjalan sambil menenteng tas berukuran sedang.


Anista mencium tangan Ayahnya "Assalamualaikum. Kumaha kabar Abah?"


(Gimana kabar Abah?)


Sumintar mengelus kepala anaknya lalu mencium keningnya "Alhamdulillah Abah sehat Neng. Eneng bagaimana kabarnya? Betah di tempat kerjana?"


(Betah di tempat kerjanya?)


"Alhamdulillah Neng teh betah kerja di sana Bah. Tuan Yudha juga baik sama Neng" kata Anista tersenyum


"Tuan Yudha itu atasan kamu? Dia ayahnya anak yang Neng urus itu?"


Anista mengangguk "Iya Bah"


"Emang istrinya kemana?" Tanya Abah Mintar heran


"Yaaah namanya juga orang kaya Bah, mungkin istrinya kerja. Soalnya Nist teh belum pernah liat istri Tuan Yudha" jelas Anista


"Mungkinkah dia seorang duda, Nak?" Tanya Abah Mintar


Anista mengangkat kedua bahunya "Mungkin. Tapi sudahlah ngapain mikirin Tuan Yudha. Lagian Nist teh disana fokus untuk bekerja, Bah"


Sumintar mengelus kepala anaknya "Sampai kapan Neng akan begini terus?"


Anista tersenyum menatap wajah yang sudah mulai berkeriput itu "Neng bahagia seperti ini Bah. Neng hanya ingin membahagiakan Abah dan Evan"


"Abah, Bunda kenapa masih di situ?" Teriak Evan yang sudah masuk ke dalam rumah lalu kembali lagi karna kakeknya bersama Bundanya tidak kunjung masuk juga.


Anista dan Abah Mintar tersenyum, mereka pun masuk ke dalam rumah. Sumintar merasa bahagia saat bisa kembali berkumpul bersama anak dan cucunya. Mereka semua duduk lesehan beralaskan tikar.


"Nist teh meni kangen sama suasana kampung, Bah. Di kota hawanya panas, tidak sejuk seperti disini" kata Anista meneliti setiap sudut rumahnya ini.

__ADS_1


"Semewah apapun rumah orang lain, tetap yang paling nyaman adalah rumah sendiri" kata Sumintar


Anista mengangguk dengan senyuman manisnya "Iya Bah, tetap rumah sendiri yang paling nyaman"


"Yasudah kalian pasti lelah, lebih baik istirahat dulu sana. Abah sudah bersihkan kamar kalian"


Anista mengangguk "Muhun Bah"


(Iya Bah)


Anista pun mengajak putranya untuk beristirahat di kamar mereka yang sudah lama mereka tinggalkan.


Evan sudah terlelap di sampingnya, sementara Anista masih menatap langit langit kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai lapuk.


Tuan Yudha sedang apa ya? Apa dia bisa mengurus Safira selama aku disini? Arghh.. Kenapa aku malah memikirkan dia si? Aku pulang kampung juga karna izin dia. Lagian masa dia tidak bisa mengurus anaknya sendiri.


Tapi'kan dia bekerja..


Lelah memikirkan Tuannya dan juga anak asuhnya. Anista akhirnya memejamkan matanya, dia sangat lelah setelah menempuh perjalan yang jauh.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Ini sudah keputusanku Mi, jika Mami tidak setuju. Maaf untuk hal ini aku tidak meminta persetujuan Mami" kata Yudha tegas


Varinda diam, hatinya sakit melihat anak semata wayangnya yang sekarang bersikap dingin padanya. Dia tahu apa kesalahan yang telah dia lakukan.


"Baiklah Mami akan mendukung apapun yang akan menjadi keputusanmu sekarang. Maafkan Mami untuk semuanya" kata Varinda


"Hmm"


Yudha masih memasang wajah dingin dan datar. Tidak ada lagi Yudha yang ramah setelah kepergian ayahnya.


"Biarkan Mami bawa dulu Safira keluar negeri. Mami yakin dia akan pulang dan kamu juga akan kewalahan mengasuh Safira, apalagi kamu juga harus bekerja" kata Varinda


"Berapa lama Mami disana?" Tanya Yudha


"Mungkin satu bulan, bisa lebih bisa juga kurang. Ayahmu sedang menyelesaikan proyek disana" jelas Varinda


Yudha menatap datar pada Ibunya itu "Baiklah, jaga anaku baik baik disana"


"Anakmu juga cucu kami, Yudha. Sudah pasti kami akan menjaganya" kata Varinda


Bersyukurnya sekecewa apapun Yuhda pada Ibunya. Namun dia tidak pernah melarang Ibunya untuk menemui atau membawa Safira untuk sekedar jalan jalan. Yudha juga tahu jika Varinda sangat menyayangi Safira. Mau bagaimana pun juga Safira tetaplah cucunya.

__ADS_1


Semoga pilihanmu kali ini adalah yang terbaik untuk kamu, Yudh. Maafkan Mami yang telah mengacaukan hidupmu dengan keegoisan Mami.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Tepat seperti dugaan Yudha, Eliana pulang setelah Safira dua hari di bawa oleh Neneknya. Yudha menatap datar wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.


Eliana baru saja sampai, dia menanyakan keberadaan Yudha pada pelayan di rumah ini dan ternyata Yudha sedang berada di ruang kerjanya.


"Sayang"


Eliana berjalan dengan anggun menghampiri Yudha yang sedang duduk di sofa. Beginilah wanita ini, tidak tahu diri. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertengkar lewat telepon.


Eliana duduk di samping Yudha dengan bertumpang kaki. Rok mini dan ketat yang dia pakai tentu sedikit terangkat memperlihatkan paha mulusnya.


Namun, semua itu bukannya membuat Yudha tergoda tapi Yudha malah merasa jijik dengan istrinya yang semakin berani mengenakan pakaian terlalu terbuka.


"Akhirnya kau ingat pulang" kata Yudha dingin


Eliana mengelus dada Yudha dengan tatapan menggoda. Mungkin ini bagian dari rencana dia untuk membuat Yudha kembali luluh dan membatalkan rencana perceraian mereka.


"Sayang, kamu bercanda'kan soal perceraian itu. Si asisten sialan kamu itu hanya tidak suka dengan aku. Jadi dia melakukan itu tanpa sepengetahuan kamu. Iya'kan?" Kata Eliana


Yudha mendelik tajam pada Eliana "Apa kau tidak menyadari kesalahanmu? Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun? Apa kau fikir aku melakukan ini semua tanpa alasan?"


Eliana diam, tentu dia tahu jika sikapnya selama ini adalah hal yang memicu Yudha untuk melakukan ini semua. Namun, Eliana menebalkan mukanya agar terlihat tidak bersalah atau mungkin lebih tepatnya tidak mau di salahkan.


"Tapi semuanya masih bisa di bicarakan, Sayang. Kita pasti bisa memperbaiki pernikahan kita" kata Eliana


Yudha tersenyum sinis "Kita?? Disini hanya kau yang tidak bisa menempatkan seorang wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak"


"Apa uangku tidak cukup untuk kebutuhanmu? Sampai kau harus rela meninggalkan anakmu yang masih sangat kecil hanya demi karier mu yang tidak jelas" lanjut Yudha lagi


Eliana gelagapan, dia bingung harus menjawab apa. Dia sudah merasa terpojok untuk sekarang.


"Aku hanya tidak mau mempermalukan kamu dan keluarga Walton. Kalo aku mempunyai karier yang bagus, kamu sama ibumu juga pasti bangga mempunyai istri dan menantu seperti aku" kata Eliana masih saja berkilah.


"Memangnya jika kau hanya diam di rumah mengurus Fira dan menjadi istri yang baik dan patuh pada suami, tidak membanggakan? Aku akan lebih bangga jika mempunyai istri yang pandai dalam mengurus rumah tangga dan anak"


Yudha berdiri dan berjalan dua langkah menuju pintu keluar "Keputusan ku sudah tidak bisa di bantah lagi. Semuanya sudah berakhir Eliana. Silahkan kerjar karier mu sampai kau puas dan biarkan aku dan Safira bahagia tanpa kehadiranmu lagi"


Setelah berkata seperti itu, Yudha langsung keluar dari ruang kerjanya. Meninggalkan Eliana yang diam mematung mendengar ucapan Yudha.


Tentu saja Eliana tahu jika Yudha sudah mengambil keputusan maka semuanya sudah di pastikan tidak akan terbantahkan lagi.

__ADS_1


Yudha akan siap dengan segala konsekuensinya dalam segala hal yang dia putuskan dan Eliana tahu itu. Harapannya sudah pupus, tidak mungkin bagi Eliana untuk bisa membuat Yudha membatalkan rencana perceraian mereka.


Bersambung


__ADS_2