
Yudha mulai bisa beradaptasi dengan kehidupan istrinya di kampung. Satu yang Yudha tahu dari orang orang yang tinggal di kampung. Mereka semua ramah ramah, meskipun tidak semuanya tulus.
Hal lain juga di rasakan oleh Anista, gadis itu merasa jika tetangga tetangganya begitu baik padanya. Berbeda jauh pada saat dulu dimana dirinya berada di titik terendahnya. Dimana Anista harus menanggung malu, hamil di luar nikah tanpa tahu siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.
Hari ini adalah hari ke tujuh hari Sumintar meninggal. Hari ini juga adalah hari terakhir mereka ada di sini, karna besok pagi Anista juga yang lainnya akan kembali ke Ibu kota.
Hasna dan adiknya yang juga masih berada di sana ikut membantu mempersiapkan acara tahlilan tujuh hari Sumintar.
Akhirnya acara tahlilan pun selesai, semuanya berjalan dengan semestinya. Anista terdiam menatap sekeliling rumah sederhana ini. Banyak sekali kenangan di rumah ini.
Lukanya, deritanya semua kesedihan dan kebahagiaan di rumah ini yang selalu dia rasakan dulu bersama Ayah dan Ibunya.
Akhirnya Neng benar benar harus meninggalkan rumah ini Bah, Ibu. Benar kata Ibu dulu, jika seorang istri hanya bisa mengikuti kemana suami membawanya.
Anista menghela nafas berat, bayangan bayangan masa lalu berputar di fikirannya. Dimana dia juga hampir menjadi wanita gila di rumah ini. Dengan perut membuncit dan tanpa seorang suami.
Maafkan Neng, Abah, Ibu. Yang sudah membuat kalian malu pada saat itu. Semoga kalian tenang di sana.
Yudha mengusap pundak istrinya yang duduk di kursi kayu yang berada di bale rumahnya. Anista menoleh dan tersenyum pada suaminya. Senyuman yang dengan penuh arti. Dia terluka, dengan keadaan ini. Namun, Anista tidak ingin menunjukan nya pada siapapun termasuk suaminya sendiri.
"Ayo masuk, di luar dingin" kata Yudha lembut
"Sebentar lagi" kata Anista
Yudha duduk di samping Anista, wanitanya itu masih menatap ke arah halaman rumah yang hanya di terangi cahaya lampu seadanya.
"Mas"
Yudha menoleh mendengar panggilan dari istrinya "Apa?"
"Kenapa ya takdir Nist gini banget? Saat baru saja mau bahagia dengan pernikahan dengan orang yang Nist cuntai dan juga ayah kandung dari anak Nist. Tapi, Allah malah ambil Abah dari sisi Nist. Apa mungkin Allah terlalu sayang sama Abah sampai dia benar benar pergi setelah tahu jika putrinya telah bahagia sekarang"
Yudha merasa sesak sendiri mendengar keluh kesah dari wanitanya. Yudha tahu jika selama ini Anista begitu rapuh dengan luka dan derita yang selama ini dia hadapi sendiri.
Yudha memeluk Anista dengan erat "Maaf, maaf karna tidak ada di saat kau membutuhkanku. Di saat kehadiran Evan yang sama sekali tidak aku ketahui"
__ADS_1
Anista mengelus punggung Yudha yang memeluknya dengan erat. Anista tahu ini bukanlah salah Yudha, semua ini takdir. Meskipun terkadang dia juga sering menyalahkan takdir ini.
"Kita sudah menikah dan memulai semuanya dari awal lagi. Mari kita buka lembaran baru dalam hidup ini bersama keluarga kecil kita" kata Anista
Yudha mengangguk pelan. Kau memang malaikat untuk ku sayang.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Sementara di dalam rumah sederhana itu, masih ada dua orang dewasa yang masih terjaga. Anak anak telah tidur di kamar Anista.
Sementara Varinda dan David sudah kembali ke penginapan yang mereka tinggali selama berada di kampung Anista.
Meskipun jarak penginapan dengan rumah Anista cukup jauh, namun mereka tetap memilih tinggal di sana mengingat bagaiamana sempitnya rumah Anista. Bu Nina yang juga berada di sini selalu menginap di rumah Bi Nenti.
"Besok bersiaplah lebih pagi, kita akan pulang" kata Bima dingin
Hasna mengangguk "Baik Tuan"
Sudahlah tidak perlu lagi berharap lebih, mana mungkin dia menyukaiku. Mungkin kemarin memang dia sengaja berinisiatif untuk memberi tahuku tentang kabar duka ini. Bukan karna merindukanku. Ingat itu Hasna, dia itu pria buas yang tak seharusnya kau kagumi.
Hah...
Tapi dia begitu tampan, mana mungkin si aku tidak kagum padanya. Hah.. Melelahkan sekali jika harus mengagumi pria buas seperti dia.
"Berhenti memikirkanku, karna sampai kapan pun kau tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk memiliki ku"
Deg
Suara dingin dan datar itu terasa begitu menusuk di relung hati Hasna. Ucapan Bima barusan seolah menariknya ke alam sadar untuk tidak lagi mengharapkan pria itu.
Namun, kenapa Hasna merasa begitu sakit hati dengan ucapan Bima barusan. Tidak.. dia tidak boleh sampai jatuh cinta padanya, dia hanya mengagumi pria itu.
Bima berdiri dari duduknya "Lupakan perasaanmu padaku karna kau hanya akan terluka dengan perasaan bodohmu itu"
Bima berlalu pergi ke luar rumah Anista, dia juga tinggal di penginapan jika berada di sini. Karena Bima masih harus bolak balik ke ibu kota untuk mengurus pekerjaan selama Yudha berada disini.
__ADS_1
Entah kenapa air mata menetes begitu saja di pipi Hasna. Dia menatap kepergian pria yang dia kagumi itu dengan perasaan sesak.
Kenapa sesakit ini, Ya Allah? Na sadar sekarang jika perasaan ini bukan hanya kagum. Tapi, Na sudah mencintainya entah sejak kapan.
Hiks..hiks..
Lirih isakan itu masih terdengar di tengah malam, bahkan di saat semua penghuni rumah sudah terlelap.
Hasna masih berada di ruang tengah dengan kedua tangan memeluk lututnya. Dia masih menangis, ucapan Bima beberapa jam yang lalu masih terngiang di telinganya dan begitu membuat hatinya sakit.
Baiklah mulai saat ini aku akan melupakanmu dan perasaan ini.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Berhenti memikirkanku, karna sampai kapan pun kau tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk memiliki ku"
Kata kata itu juga terus berputar di ingatannya. Bima adalah pria cukup peka sehingga dia tahu jika Hasna memiliki perasaan lebih padanya.
Kenapa aku harus memikirkannya, apa yang sudah aku katakan memang benar. Sebelum gadis itu semakin menyimpan perasaannya dan akan membuatnya semakin sakit. Aku masih menunggunya dan akan mencoba setia padanya.
Namun, entah kenapa ekpresi wajah Hasna saat mendengar ucapan menyakitkan darinya membuat Bima terus terfikirkan.
Bima hanya menunggu gadis masa lalunya yang pergi entah kemana. Dia hanya ingin setia pada cinta pertamanya. Inilah persamaan Bima dan Yudha, akan sulit melupakan jika sudah sangat mencintai.
Dua orang remaja SMA masih memakai seragam sekolah mereka. Gadis dengan rambut panjang tergerai dengan wajah cantiknya.
"Kalau nanti aku ninggalin kamu gimana?" Tanya si gadis itu
Bima tersenyum tipis "Aku akan menunggumu dan mencoba setia padamu. Kecuali..."
Si gadis menatap Bima dengan tatapan penasaran "Kecuali apa?"
"Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, maka aku akan melupakanmu dan cinta kita berakhir" jawab Bima tegas
Dan sejak saat itulah janji itu terucap hingga setelah kelulusan mereka, si gadis itu hilang bak di telan Bumi. Dan Bima masih memegang teguh janjinya yang dia ucapkan.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa, like, komen dan kasih hadiah juga. Ayo dong jangan pelit pelit buat author..