
"Kurang dari satu tahun aku menikah, Safira telah lahir. Aku begitu bahagia dengan kelahirannya. Namun, sepertinya tidak dengan Eliana. Bahkan dia sama sekali tidak mau menggendong dan menyusui Safira"
Akhirnya Anista pun tahu semua kisah kelam Yudha. Kisah rumah tangganya yang tidak harmonis.
"Tapi dia bilang kalau kalian belum bercerai dan dia juga pergi ke luar negeri karna ingin berobat. Dan dia menuduh Nist sebagai perusak hubungan kalian" jelas Anista masih merasa ragu dengan Yudha
Yudha menghela nafas, lalu dia berdiri "Tunggu disini"
Anista menunggu dengan wajah bingung. Tak lama kemudian Yudha kembali dengan sebuah map berwarna biru di tangannya. Yudha kembali duduk di samping wanitanya.
"Nih kamu buka sendiri dan baca baik baik" Yudha menyerahkan map itu ke pangkuan Anista
Anista yang bingung juga penasaran langsung membuka map berwarna biru itu. Membaca kertas yang ada di dalamnya dengan kerutan di dahinya menunjukan kalau dia sedang serius membacanya.
"Jadi sudah bercerai ya" gumam Anista
"Percaya sekarang? Atau masih nyangka kalo aku ini bohongin kamu atau selingkuh dari istri aku?" Tanya Yudha dengan senyuman sinis
Anista mendelik kesal "Ya tetep aja, Mas cerainya jg baru beberapa bulan ini. Berarti Nist masih bisa di tuduh jadi perusak hubungan kalian"
Yudha menggeleng pelan, memiringkan tubuhnya untuk menghadap Anista "Dengerin aku, apa kamu merasa kalau kamu jadi perusak bubungan orang? Kamu juga udah tau soal hubungan pernikahanku yang tidak baik baik saja. Apalagi yang membuat kamu ragu?"
Iya juga si, aku bukan perusak hubungan mereka.
"Iya maaf kalo Nist teh udah ngeraguin Mas, tapi kan tetep aja Nist teh kaget pas ada wanita cantik yang bilang gitu" kata Anista
Akhirnya Anista mengerti, untung saja dia tidak terpancing emosi dan langsung menanyakan nya pada Yudha. Tidak langsung pergi begitu saja.
Maaf karna aku belum bisa cerita tentang satu hal yang selama ini aku sembunyikan dari semua orang. Yudha
"Emangnya gimana kamu bisa ketemu sama wanita itu? Bukannya izin nya ke rumah Ibu kamu, malah keluyuran" kata Yudha tajam
__ADS_1
Heh kenapa malah dia yang terlihat marah si?
"Tadi ada yang kirim aku pesan" kata Anista
"Mana liat pesan nya" Yudha menengadahkan tangannya di depan wajah Anista
Anista memberikan ponselnya pada Yudha. Segera Yudha lihat pesan yang di kirimkan oleh Eliana tadi. Yudha langsung memblokir nomor yang telah menghubungi calon istrinya dan hampir saja hubungan mereka hancur di buatnya.
Yudha menyerahkan kembali ponsel Anista "Lain kali kalo ada yang kirim pesan kaya gitu lagi. Jangan di hiraukan, wanita itu memang licik. Dia tidak rela aku bersama wanita lain tapi dia tidak bisa menghargaiku"
Kok aku jadi kasihan ya sama Mas Yudha, terlihat sekali banyak luka yang dialaminya.
"Tidak perlu menatapku seperti itu, hidupku tidak semenyedihkan itu asal kau tetap disisiku" kata Yudha saat melihat tatapan iba dari Anista
Mungkin apa yang Yudha katakan terdengar seperti gombalan semata. Namun, itulah yang dia rasakan saat ini. Yudha akan merasa hancur dan hidupnya akan semakin menyedihkan jika Anista pergi meninggalkan nya. Hidupnya akan kacau saat itu juga.
"Terus gimana dong?" Kata Anista bingung
"Ya kan, aku takut kalo Ibunya Safira nanti datang kesini dan nuduh nuduh aku lagi. Tapi, dia beneran gak sakit kan?" Tanya Anista menatap serius pada Yudha
Yudha mengerutkan keningnya "Sakit apa? Dia sehat sayang, wanita itu pergi ke luar negeri untuk mengejar karirnya sebagai model internasional. Bukan sakit, mengerti"
"Jadi dia bohong dong" gumam Anista masih terdengar oleh Yudha
"Iya, dia bohongin kamu biar kamu kasihan sama dia dan meninggalkan aku dan Fira. Dan jika itu terjadi maka aku akan hancur saat itu juga" jelas Yudha menatap lekat bola mata hitam itu.
Tidak ada kebohongan di balik mata tajam itu, Anista tahu jika Yudha jujur dengan apa yang di ucapkan nya.
"Nist gak bisa berjanji untuk tidak meninggalkan Mas. Tapi, Nist akan berusaha untuk tetap di samping Mas dan Safira" kata Anista
Yudha mencium kening Anista dengan begitu lembut "Terimakasih Sayang, kehadiran kamu telah merubah hidupku dan Safira. Kehidupan ku yang awalnya begitu gelap, kini mulai menemukan titik cahaya kebahagiaan. Kamu adalah cahaya hidupku. Light Of My Life"
__ADS_1
Anista tersenyum "Iya Mas, kamu juga adalah cinta pertama Nist yang membuat Nist bisa membuka lembaran baru dan menerima seorang pria untuk mendampingi hidup Nist"
Setelah kejadian 4 tahun lalu, bahkan aku telah menutup hatiku untuk pria mana pun. Tapi, entah kenapa Mas Yudha mampu membuka hatiku untuk bisa menerimanya.
"Aku adalah cinta terakhirmu, bukan hanya cinta pertama mu" koreksi Yudha
Anista tersenyum "Iya deh, cinta pertama dan terakhir untuk ku"
Yudha tersenyum, meraih tangan kanan Anista lalu menciumnya "Aku mencintaimu Anista Sari"
Anista mengerutkan keningnya "Mas tau nama Nist?"
Yudha terkekeh dan kembali mengecup tangan Anista "Taulah, tapi sekarang nama kamu adalah Anista Walton"
Kerutan di dahi Anista semakin dalam, bingung "Loh kok gitu? Gak boleh ganti ganti nama orang seenaknya Mas. Kalo di kampung Nist mah ya kudu ngabubur bereum ngabubur bodas ngaganti nama orang mah°"
(°Kalo di kampung Nist harus bikin bubur merah bubur putih kalo mengganti nama orang°)
"Hahaha.."
Yudha tergelak, merasa lucu dengan mimik wajah Anisya. Meski sebenarnya dia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan Anista.
"Malah ketawa lagi, Nist teh serius Mas. Ihh" mencubit kesal pinggang Yudha
Bukannya mengaduh kesakitan, Yudha malah semakin tergelak sampai ujung matanya mengeluarkan air mata. Tuhan, inikah kebahagiaan sesungguhnya. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku bisa tertawa lepas seperti ini.
"Mas udah ihh ketawanya" kesal Anista
Yudha mengusap ujung matanya yang berair "Abisnya kamu lucu si Yank, padahal aku juga gak ngerti apa yang kamu ucapan. Tapi mimik wajah kamu itu sungguh sangat menggemaskan"
Anista merona malu juga bahagia "Apaan si Mas" memukul pelan paha Yudha
__ADS_1
Bersambung