
"Bodoh"
Bima memukul perut Yudha, Bima sangat menyesali sifat temannya yang satu ini. Yudha sangat sulit menahan emosinya jika itu menyangkut dengan orang orang yang di sayanginya.
"Susah payah aku pergi selama satu minggu cuma ingin menyelesaikan masa lalumu itu. Kenapa kau bisa bertindak bodoh seperti ini si, Yudha?" Gertak Bima penuh dengan emosi yang tertahan
Pulang dari luar kota, Bima langsung mengantarkan Hasna ke apartemen miliknya. Selama di sini Hasna akan tinggal di sana.
Namun, saat Bima sampai di rumah Yudha. Dia harus mendengar hal bodoh yang telah di lakukan oleh sahabatnya itu. Saat ini Bima sedang menposisikan sebagai sahabat juga kakaknya, bukan lagi sebagai asisiten Yudha.
"Dia sudah mempunyai anak, bahkan dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu. Dia sama seperti wanita panggilan" kata Yudha dengan amarah tertahan
Deg
Bima merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya. Anak?? Mungkinkah itu anaknya..... Bodoh..
Bugh
"Bodoh, kau terlalu Bodoh Yudha Abimana" teriak Bima penuh emosi, dia merasa perjuangan nya sia sia karna ulah bodoh Yudha.
Yudha memegang pipinya yang terkena pukulan Bima, bahkan dia belum mengerti kenapa Bima sampai memukulnya seperti ini.
"Kenapa kau? Dia memang salah, aku merasa di bohongi dan di bodohi sama wanita yang sangat ku cintai. Dan aku kecewa, aku marah, apa kau mengerti Hah?" Kata Yudha dengan tatapan kecewa yang terlihat jelas
Deg
Bima tahu tatapan itu, Yudha sudah sangat sering di kecewakan dengan keadaan. Bahkan Bima bisa melihat bagaiamana terlukanya Yudha saat ini.
Kau telah benar benar jatuh cinta pada gadis itu. Tuhan... Kenapa harus serumit ini.
Yudha menundukan kepalanya, sebenarnya dia juga menyesali ucapan kasarnya pada Anista. Namun, Yudha juga tidak bisa menahan emosinya saat itu. Dia merasa telah kembali di bohongi dan di kecewakan oleh wanita yang di cintainya.
Bima memeluk tubuh Yudha, menepuk pelan punggungnya. Memeberikan semangat untuk Yudha, dia cukup tahu bagaimana kelemahan Yudha yang jarang sekali dia tunjukan pada siapa pun. Bahkan pada ibunya pun, Yudha tidak pernah menunjukan sisi terlemah nya ini.
"Aku sangat mencintainya Bim, apa salahku sehingga keadaan seolah selalu mempermainkan ku. Kenapa dia tidak berterus terang dari awal, aku bisa menerima anaknya seperti dia menerima Safira. Tapi, kenapa? Kenapa baru sekarang?"
Yudha mulai terisak pelan, dia benar benar berada di titik terendahnya. Baru saja Yudha terlepas dari drama pernikahan yang sangat menyiksanya.
__ADS_1
Baru saja dia akan menemukan titik cahaya di kegelapan hidupnya. Namun, semuanya seolah hancur dengan semua kenyataan ini.
Bima terus menepuk punggung Yudha, memberinya semangat. Tuhan, apa yang akan terjadi jika Yudha tahu semuanya.
Bersabarlah Yudh, satu kenyataan lagi yang akan membuatmu hancur sehancur hancurnya. Tapi, setelah itu kau akan mendapatkan kebahagiaan itu.
...πππππππππ...
"Ahhh... Sayang terus, goyangan mu sungguh membuat Om tergila gila" suara lelaki buncit yang berada di bawah Nathalie dengan penuh rasa nikmat.
"Siap Om"
Yudha merasa jijik sendiri dengan kelakukan calon istrinya ini. Besyukur dia bisa mengetahui kelakuan bejat Nathalie sebelum mereka resmi menikah.
"Dasar jalaβ’ng"
Yudha yang tadi memergoki tunangan nya yang sedang bermain gila di salah satu kamar hotel miliknya. Dia sengaja mengikuti kekasihnya karna sudah merasa curiga sejak awal.
*Tentu sangat mudah untuk Yudha meminta kunci cadangan untuk kamar yang di pesan oleh Nathalie.
Saat Yudha membuka kamar itu, dia langsung di suguhkan dengan pemandangan memuak'kan. Nathalie sedang bercinta dengan seorang pria tua yang tak lain adalah rekan bisnisnya*.
Dan disinilah sekarang Yudha berada, keadaan nya yang mabuk berat benar benar terlihat begitu kacau. Yudha bersandar di pintu kamar hotelnya ini.
Yudha membuka pintu kamar hotel dan melihat seorang wanita berjalan di depan kamarnya. Dengan gerakan cepat Yudha langsung menarik wanita itu dan menariknya masuk ke dalam kamarnya.
"Aaaa" teriak gadis itu terkejut,
Anista gadis dari kampung yang bekerja di laundry dekat hotel ini baru satu 3 bulan yang lalu.
Yudha mendorong tubuh Anista ke tempat tidur dengan kasar. Anista tidak bisa melihat apapun, kamar ini sangat gelap hanya ada cahaya remang remang dari jendela yang sedikit terbuka.
Ya Allah tolong Nist.
Yudha mulai merangkak ke tubuh Anista, dia mulai memcumbu gadis di bawahnya ini. Tangannya mulai membuka baju Anista dengan sangat kasar sehingga baju Anista menjadi robek di sana sini.
"Tuan tolong jangan lakukan itu, saya mohon"
__ADS_1
Teriakan gadis di bawah kungkungan nya sama sekali tidak di dengar oleh Yudha. Dia tetap melanjutkan aksinya dengan membuka setiap kancing kemeja yang gadis itu kenakan.
"Diamlah Nath" suara Yudha terdengar serak karna hawa ***** juga amarah yang bercampur menjadi satu
"Kau bahkan bisa melakukan ini dengan tua bangka itu di kamar hotel milik keluargaku"
Hiks... hiks.. hiks... Ya Allah tolong Anista.
"Saya bukan Nat Nat yang Tuan maksud, tolong lepaskan saya. Jangan lakukan itu Tuan" teriak Anista dengan terisak pelan
Yudha mulai membuka celana yang di pakai Anista membuat gadis itu semakin bergetar ketakutan.
"Jangan Tuan, tolong jangannnn....." teriam Anista histeris
Anista mencoba menendang, memukul Yudha. Namun semuanya percuma, Yudha bahkan dengan mudahnya mengunci tubuh mungilnya.
"Kau telah mengkhiatiku Nath, kau tahu jika aku sangat mencintaimu" racau Yudha
"Tidak... Jangan lakukan itu, saya teh bukan Nat nat yang Tuan kira. Tolong jangan lakukan itu...."
Yudha langsung membungkam mulut Anista yang terus saja berteriak. Kedua tangan Anista telah di kuncinya, dengan kasar Yudha langsung menerobos milik Anista yang begitu sempit.
"Arggggggghhhh"
Kaki Anista terus menendang kasar, air mata mengalir begitu deras di sudut matanya. Hidupnya hancur sehancur hancurnya.
Abah, Ibu maafkan Nist...
Di tengah permainan Anista sampai pingsan karna kelakuan Yudha yang sangat kasar. Sampai Yudha selesai melakukan permainan nya, Anista masih belum sadar dan pria itu tidak peduli sama sekali. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan terlelap begitu saja.
Anista terbangun hampir subuh, dia meraba raba tempat tidur untuk mencari pakaian nya. Bahkan gadis itu sudah lelah untuk menangis. Tatapan nya kosong, seolah dia tidak punya lagi tujuan hidup.
Setelah mendapatkan bajunya dan juga celananya yang tergeletak di lantai. Anista langsung memakainya, tidak peduli jika baju itu telah robek di sana sini.
"Aku akan membencimu seumur hidupku, aku tidak akan memaafkan mu pria biadab"
Setelah itu Anista keluar dari kamar hotel dengan perasaan hancur sehancur hancurnya.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like dan komennya, biar akunya semangat terus..