Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Di balik sikap dingin Yudha


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, Yudha semakin merasakan perasaannya pada Anista bukanlah hanya perasaan aneh yang dia anggap selama ini. Yudha mulai mengerti apa arti dari perasaan nya pada Anista. Dia mencintainya.


Yudha bingung harus melakukan apa? Selama ini hanya Anista yang bisa membuat Yudha tersenyum walaupun secara diam diam. Anista bahkan selalu memberinya perhatian yang tidak dia rasakan dari sang istri.


"Tuan, harus biasakan sarapan dulu. Jangan langsung minum kopi, tidak baik untuk kesehatan"


Ucapan Anista tadi pagi saat dia akan berangkat bekerja masih terngiang di telinganya. Yudha merasa bahagia saat ada yang memperhatikan kesehatan nya.


Hidup Yudha tidak lagi segelap dulu, senyuman yang hilang sejak kematian Ayahnya mulai kembali lagi.


"Arghhh"


Yudha mengusap wajah kasar, dia bingung harus bagaimana saat ini. Bahkan dia sering tidak bisa menahan perasaannya saat melihat pengasuh anaknya. Jantungnya selalu berdebar kencang hanya melihatnya dari jarak jauh saja. Apalagi jika sedang berdekatan.


Ceklek


Pintu terbuka dan munculah Bima dengan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Tuannya itu. Bima menyimpan berkas berkas itu di atas meja kerja Yudha.


"Apa ada yang sedang Tuan pikirkan?" Tanya Bima saat melihat raut wajah sahabatnya sekaligus atasannya yang sangat kusut itu.


"Aku mencintainya, Bim" ucap Yudha dengan tatapan kosong


Sudah ku duga.


"Lalu apa yang akan Tuan lakukan?" Tanya Bima mencoba mengerti situasi Tuannya yang saat ini hanya butuh teman untuk bercerita keluh kesahnya.


"Entahlah, aku juga bingung. Tapi semakin aku tahan, perasaan ini semakin besar dan sangat menyiksaku" jelas Yudha


"Menurut ku, lebih baik kau ungkapkan, dari pada kau tambah sakit. Sudah saatnya kau mencari kebahagiaanmu sendiri. Kau juga berhak bahagia, Yudh. Sudah saatnya kau mengakhiri semua kepura puraan ini"


Kali ini Bima bicara sebagai seorang kakak. Hanya Bima yang tahu bagaimana kehidupan Yudha juga keadaan rumah tangganya yang tidak baik baik saja.


Jujur saja Bima sangat kasihan pada Yudha yang hidupnya terlalu banyak beban sejak meninggal nya Tuan Besar.


Yudha menatap Bima "Apa kau bisa mengurusnya?"


Bima tentu tahu apa yang di maksud Yudha "Aku akan menemui keluarganya dulu untuk memberi tahukan semua kelakuan anaknya dan kau bisa menceraikan nya tanpa takut di salahkan atau perceraian mu akan mempengaruhi perushaan Walton"

__ADS_1


Maaf aku belum bisa meberi tahukan yang sebenarnya terjadi padamu, Yudh.


"Oke!! Aku tidak peduli apa yang akan terjadi ke depannya. Aku akan menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak mau dia di ambil orang lain. Masalah Eliana, kau segera urus perceraian kami" kata Yudha


Bima mengangguk "Iya"


Setidaknya gadis itu menyayangi Safira. Semoga kali ini Yudha tidak lagi salah memilih pilihan hidupnya. Cukup sekali kau gagal dalam pilihan hidupmu.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Bima yang hidup bersama Yudha sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Bahkan sebelum mereka pindah ke Indonesia.


Bima yang anak yatim piatu dan bisa sekolah di sekolah internasional karna kepintaran nya. Sehingga Yudha membawanya ke Indonesia untuk menjadi asisten nya setelah ayahnya meninggal.


Bima banyak membantu Yudha dalam segala hal. Mengurus perusahaan Ayahnya Bima di Indonesi sampai bisa semaju sekarang. Kecerdasan otaknya tak perlu di ragukan lagi.


Bima memang dua tahun lebih tua dari Yudha. Dengan begitu Yudha sudah seperti mempunyai seorang kakak. Di saat dia sangat terpuruk karna kepergian ayahnya, Bima lah yang menguatkan nya dan selalu menemaninya. Sehingga Yudha sangat banyak berhutang budi padanya.


Di saat perusahaan Ayahnya mulai kolaps, Bima tetap bersamanya. Bima tetap membantunya mencari jalan keluar untuk tetap bisa mempertahankan perusahaan Walton.


Tidak seperti teman teman nya yang lain, mereka langsung menghilang bak di telan bumi saat Yudha dalam keadaan susah.


Yudha bisa merasakan bagaiaman saat dia jatuh, tidak satu orang pun yang membantunya.


Orang orang yang di percaya oleh ayahnya pun ternyata malah mengkhianati nya. Yudha berubah menjadi Yudha yang kejam dan Yudha yang dingin.


Yudha hanya akan terbuka tentang apapun pada Bima. Hanya pada Bima, bahkan pada Ibunya pun tidak. Apalagi setelah Ibunya menikah lagi setahun setelah ayahnya meninggal dunia.


Hidup Yudha semakin hancur dengan kenyataan itu. Ibunya dengan mudahnya melupakan Ayahnya. Sejak saat itu Yudha menjadi gila kerja hanya ingin mewujudlan impian ayahnya yang ingin membuat perusahaan Walton menjadi perusahaan besar dan di kenal di seluruh negeri juga dunia.


Yudha si anak ramah dan ceria yang penuh dengan kasih sayang orang tua. Hidupnya harus hancur setelah kepergian sang ayah untuk selamanya.


Hanya Bima yang bisa menenangkan Yudha dan memberinya semangat di keadaan nya yang terpuruk.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Ayo Sayang, sedikit lagi sampai. Semangat"

__ADS_1


Anista bertepuk tangan agar Safira yang sedang belajar berjalan itu terfokus padanya dan semangat berjalan untuk bisa sampai pada pengasuhnya itu.


"Teh.. teh.. Nis" Balita itu terus berjalan dengan tertawa tawa. Sangatlah menggemaskan.


"Iya, sini sama Teteh" kata Anista begitu antusias saat melihat Safira sudah mulai lancar berjalan


"Teh Nis"


"Yeeeee... Pinter banget si kamu. Emmuach"


Anista memeluk Safira saat balita itu sudah sampai padanya. Anista terus menciumi pipi gembul Safira yang sangat menggemaskan sampai balita itu tertawa terpingkal pingkal.


Sepasang mata menatap penuh kebahagiaan pada mereka yang sudah seperti ibu dan anak. Yudha sejak tadi berada di ambang pintu kamar anaknya. Melihat Safira sudah mulai bisa berjalan dengan lancar tentu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Yudha.


Anista menggendong Safira lalu berbalik ingin membawa Safira keluar kamar. Anista terkejut saat mendapati Yudha sedang berdiri di sana dan tersenyum tipis padanya.


Dia bisa tersenyum juga ternayata.


"Tuan sudah pulang" Anista mengangguk hormat pada Tuannya itu


"Hmm. Aku akan mandi dulu, nanti kau bawa Safira ke kamarku. Aku ingin bermain bersamanya" kata Yudha kembali dingin


Huh. Hilang lagi senyumnya.


"Baik Tuan"


Yudha pun berlalu ke kamar mandi dengan senyum tipis di bibirnya setelah dia berbalik membelakangi Anista.


"Daddy kamu itu kenapa si? Kok kayanya susah banget buat tersenyum" kata Anista sambil berjalan dengan menggendong Safira


"Dy.. Dy.." celoteh Safira


"Iya Daddy kamu, meningan kamu jadi anak teteh aja ya. Mau'kan" kata Anista asal


"Mau"


"Hahaha.. Kamu mau ya jadi anaknya Teteh.. Hmm.. Gemes gemes" Anista mencium dua kali pipi gembul Safira dengan gemas

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2