Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Dia lebih terluka


__ADS_3

Melihat keadaan putranya, Nyonya Varinda langsung memanggil dokter pribadi keluarganya.


Yudha masih diam, tatapan nya kosong meskipun dokter sedang mengobati luka di tangannya. Tapi, Yudha seperti tidak merasakan sakit sedikit pun.


Hati dua wanita yang melihat keadaan Yudha, merasa begitu tersayat. Varinda baru melihat titik lemah dari anaknya.


Bodohnya selama ini dia belum menjadi Ibu yang baik. Dia bahkan tidak begitu mengenal bagaiaman putranya.


Dia serapuh ini, Tuhan. Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini. Sakit... melihat anaku seperti ini.


Tatapan Varinda beralih pada wanita manis di samping Yudha. Anista masih setia menggenggam tangan kiri Yudha yang tidak terluka. Sesekali tangannya mengelus rambut Yudha yang acak acakan.


Diakah wanita yang bisa membuatmu bahagia? Dia terlihat begitu tulus menyayangimu. Saat ini Mami akan mulai menjadi Ibu yang baik, Mami akan menerima semua keputusanmu Yudha.


Meskipun Varinda belum mengatakan itu secara langsung pada Yudha. Tapi, dia benar benar akan melakukan apa yang telah dia ucapkan. Dia tidak ingin menjadi Ibu yang egois lagi.


"Jangan lakukan itu lagi, kau bisa saja kehilangan tanganmu jika terus seperti ini" kata dokter Wira


"Hmm"


Hanya itu yang keluar dari bibir Yudha, dokter Wira menghela nafas dalam "Baiklah, Om pergi dulu"


Varinda mengantar dokter Wira, meninggalkan Anista dan Yudha di sana. Safira telah di bawa oleh pelayan di rumah ini. Jadi, saat ini hanya ada Yudha dan Anista di kamar ini.


"Mas tidur ya, istirahat" kata Anista lembut


Yudha menoleh, dia tersenyum tipis saat melihat wanitanya. Dulu jika Yudha sedang dalam masa terpuruknya seperti ini. Maka hanya ada Bima di sampingnya, tapi sekarang ada wanita yang sangat dicintainya.


Anista membantu Yudha membaringkan tubuhnya di tempat tidur. "Tidur ya Mas, Nist mau lihat Evan dulu"


Yudha langsung menggenggam erat tangan Anista, mencegahnya untuk pergi "Temani aku, jangan tinggalkan aku"


Anista tersenyum "Baiklah, Mas tidur ya. Aku akan menemani Mas disini"


Anista naik ke tempat tidur, dia duduk berselonjor. Tangannya terus mengelus rambut Yudha yang terbaring di sampingnya.


Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi Mas. Hari ini aku tahu bagaimana kamu menjalani hidup selama ini. Maaf karna aku berfikir jika aku yang paling menderita, ternyata kamu lebih menderita.


Anista menatap teduh wajah Yudha yang mulai terlelap. Di kecupnya kedua mata yang terpejam itu dengan lembut.


Setidaknya saat aku begitu terpuruk dengan keadaan dan kenyataan ini. Aku masih mempunyai orang tua yang selalu mendukungku.


Meskipun Ibu tidak bisa lebih lama lagi bersamaku. Sementara kamu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika menjadi dirimu. Kamu hanya sendiri, tidak ada tempat untuk bersandar.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Anista keluar dari kamar setelah memastikan Yudha terlelap dengan tenang. Dia harus menemui Evan, anaknya itu pasti kebingungan saat bangun sudah berada di rumah orang lain dan tidak menemukan Bunda dan Daddy nya.

__ADS_1


Namun, langkah Anista terhenti di anak tangga terakhir. Di ruang tengah tempat perdebatan itu terjadi dia melihat pemandangan yang begitu menyejukan hati.


Dimana Evan sedang mengasuh Safira yang sedang bermain boneka. Di atas Sofa ada Varinda dengan suaminya yang sedang mengawasi dua anak kecil itu.


"Anista, sini duduk" kata Varinda


Nada suaranya tidak seperti tadi, sudah mulai melembut. Anista mengangguk dan menghampiri mereka. Dia duduk di sofa tunggal yang ada di sana.


"Bundaaaa" Evan berlari dan langsung memeluk kaki Bundanya yang sedang duduk di sofa


"Una.. Una..." Safira ikut berlari ke arah Anista dengan cara berjalannya yang masih tertatih tatih namun begitu menggemaskan.


Anista memangku Safira dan membiarkan Evan bermanja di pahanya "Fira baik baik kan selama disini, jadi anak pinterkan?"


Balita itu seolah mengerti, dia menganggukan kepalanya dengan lucu. Cup.. Anista mencium gemas pipi gembul Safira.


Varinda menatap bagaimana kedekatan Anista dengan cucu kesayangan nya. Safira terlihat begitu nyaman berada di dekat Anista. Bahkan balita itu sudah memanggilnya dengan sebutan Bunda, meski masih belum terlalu jelas.


"Bagaimana keadaan Yudha?" Tanya Varinda


Anista menoleh "Sudah mulai baik, Mas Yudha sedang tidur sekarang"


Varinda mengangguk mengerti.


"Daddy mana, Bunda?" Tanya Evan


Varinda mengingat apa yang di ucapkan Yudha tadi saat mereka bertengkar. Melihat dengan seksama wajah Evan.


Pantas wajah anak laki laki ini tidak asing bagiku. Dia cucuku.


"Daddy lagi istirahat di kamar" kata Anista, meskipun dia merasa tidak enak melihat tatapan Nyonya Varinda


Evan mengangguk mengerti "Daddy sakit, Bun?"


Anista menggeleng "Daddy tidak papa, dia hanya sedang kelelahan saja"


"Ohh"


Akhirnya dua anak kecil itu kembali bermain. Sebenarnya Anista begitu tidak nyaman berada di situasi ini. Dimana dia merasa asing dengan keluarga ini.


"Oma, Evan mau ke kamar mandi pengen pipis"


Anista terbelalak saat mendengar panggilan Evan pada Nyonya Varina. Oma?? Kenapa anaku berani sekali memanggilnya seperti itu. Bagaimana kalo Nyonya Varinda marah dan tidak suka dengan panggilan itu.


"Evan, tidak boleh memanggil seperti itu. Panggil Nyonya" tegur Anista


Meskipun aku tahu jika Evan juga cucu kandungnya. Tapi, aku tidak sepercaya diri itu untuk mengharapkan Nyonya Varinda menerima dan mengakui Evan sebagai cucunya.

__ADS_1


"Tidak apa Nist, bukankah Evan ini juga anaknya Yudha. Itu artinya Evan juga cucu kami" bukan Varinda yang berucap, tapi suaminya.


Anista menatap tidak enak pada Varinda yang dari hanya diam dan tidak banyak bicara.


"Sudahlah, tidak perlu mempermasalahkan panggilan utuk ku. Ayo Evan biar Oma antar kamu" Varinda berdiri dari duduknya dan meggandeng tangan mungil Evan.


Uhuk...


Anista sampai tersedak air liurnya sendiri. Bagaimana bisa Nyonya Varinda yang Anista tahu begitu angkuh dan keras. Bisa bersifat lembut pada anaknya. Dan apa tadi? Oma? Bahkan dia memanggil dirinya sendiri Oma pada Evan.


Seperti mimpi di siang bolong, Anista sampai kehilangan kata kata. Otaknya tiba tiba saja blank, ternyata sifat Nyonya Varinda tidak seburuk yang di fikirkan nya.


Dia juga sama seorang Ibu, sudah pasti mempunyai kelembutan yang sama layaknya seorang Ibu.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Anista kembali ke kamar Yudha setelah menetralkan perasaannya dari hal mengejutkan di ruang tengah tadi.


Rasanya Anista masih belum percaya jika Varinda bisa menerima anaknya. Ya meskipun Varinda belum mengatakannya jika dia menerima Evan.


Namun, melihat bagaimana dia berkata dengan lembut pada anaknya jugs memanggil dirinya dengan sebutan Oma sampa seperti pada Safira.


Jujur, Anista benar benar berharap jika Varinda memang benar benar bisa menerima anaknya.


"Apa yang kau fikirkan?"


Suara bariton itu mengejutkan Anista yang sedang melamun sambil berjalan pelan masuk ke dalam kamar yang di tempati oelh Yudha.


"Mas sudah bangun ya"


Anista berjalan cepat ke arah tempat tidur. Dia duduk di pinggir tempat tidur, mengelus dan memijit pelan kaki Yudha yang berselonjor.


"Mana Evan?" Tanya Yudha


"Ada di bawah lagi main sama Safira" jelas Anista


Yudha mengangkat satu alisnya "Siapa yang menjaga mereka?"


"Ibu kamu, Mas"


Hah......


Bersambung


Gak tau kenapa ya, aku itu sedih banget pas nulis bagian ini. Seorang pria yang ternyata begitu rapuh karna keadaan yang dia hadapi selama ini. sedih banget.. 😭😭


Jangan lupa like komen nya, vote juga dong.

__ADS_1


__ADS_2