
Yudha menidurkan Evan ditempat tidurnya. Anak itu sampai terlelap di pangkuan Yudha. Mengecup lembut kening anaknya itu.
Aku masih tidak menyangka jika aku mempunyai anak sulung laki laki setampan ini. Dia benar benar sangat mirip denganku.
"Daddy janji akan membuat kamu dan Bundamu bahagia Evan. Bantu Daddy untuk meyakinkan hati Bundamu supaya kita bisa menjadi keluarga yang utuh dan bahagia" lirih Yudha
Setelah menyelimuti Evan dan memastikan jika anaknya tidur dengan nyaman. Yudha keluar dari kamar Anista, dia melihat Anista masih berada di posisi yang sama bersama Ayahnya.
Yudha duduk kembali di atas karpet, menatap bergantian ke arah Anista dan Ayahnya "Aku ingin menikahi Anista, Bah"
Anista maupun Sumintar tentu terkejut dengan ucapan tiba tiba dari Yudha. "Apa maksud Tuan? Saya tidak ingin menikah"
"Neng, pamali bicara seperti itu" kata Sumintar menegur anak perempuan nya itu
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Evan dan Safira. Aku ingin membina rumah tangga yang harmonis untuk mereka. Kau lihat'kan? Bagimana pun Evan juga merindukan sosok seorang Ayah dan aku adalah Ayah kandungnya" jelas Yudha
"Tapi aku belum siap untuk menikah, lagian Nist teh udah gak mau ninggalin Abah lagi. Dia sudah tua dan tidak baik terus terusan tinggal sendiri di kampung" jelas Anista
Yudha tersenyum tipis "Kau tidak perlu khawatir, Abah akan ikut bersama kita ke kota. Lagian, rumahku cukup untuk kita tinggali bersama. Kalau tidak cukup, kita bisa beli rumah yang baru"
Segampang itu beli rumah baru. Hah... orang kaya mh bebas..
Anista menggeleng pelan "Beri aku waktu"
Setelah mengatakan itu Anista langsung beranjak dari duduknya dan berlalu pergi ke kamarnya. Dia benar benar butuh waktu untuk sendiri dan memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil saat ini.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, dia langsung berjalan mendekati tempat tidur dimana Evan sedang tidur di atasnya. Anusta duduk di pinggir tempat tidur, mengelus lembut kepala anaknya lalu menciumnya.
Maafkan Bunda Nak karna belum bisa memberikan kebahagiaan seutuhnya untuk kamu. Masih terlalu sulit untuk Bunda..
Melihat mata anaknya yang sembab karna tadi menangis cukup lama membuat hati Anista sakit. Sebegitu rindukah kamu dengan Ayahmu?
Benar!!
Evan memang sangat merindukan sosok seorang Ayah selama ini. Namun, Anista juga tidak bisa memberitahukan dimana Ayahnya saat itu. Dia juga bahkan tidak tahu siapa orang yang telah menghamilinya dulu.
Anista sangat tertekan dengan keadaan ini, pria yang bisa membuatnya jatuh cinta. Ternyata dia juga pria yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu.
__ADS_1
Bola mata Anista bergerak gelisah, bayangan bayangan masa lalu yang menyakitkan itu berputar berulang ulang di fikiran nya. Anista memegang kepalanya yang mulai terasa sakit.
"Enggak... Jangan... tolong" lirih Anista
Dia turun dari tempat tidurnya dan terduduk di bawah. Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ingatan masa lalu itu terus berputar putar di fikirannya.
"Aaaaaaa"
Yudha dan Sumintar yang sedang berada di ruang tengah langsung berlari ke arah kamar Anista saat mendengar teriakan itu.
Yudha membuka pintu kamar dengan kasar, di lihatnya Evan telah terbangun karna dia terganggu dengan suara teriakan histeris dari Bundanya. Sumintar langsung menggendong Evan dan membawanya keluar.
"Bunda kenapa Abah?" Tanya Evan
"Bunda gak papa, Bunda ingin bicara dulu sama Ayahnya Evan" kata Sumintar langsung membawa Evan keluar dari rumahnya.
Yudha mendekati Anista yang bergerak gelisah. Kejadian ini sama seperti saat di rumah Yudha waktu itu. Yudha menepuk pundak Anista membuat gadis itu mendongak dan menatapnya takut.
"Tuan, jangan lakukan itu.. Tolong... Jangan lakukan itu.. Saya mohon" teriak Anista sambil beringsut menjahui Yudha
"Tenang Nist, ini aku Yudha.. Anista ini aku, Yudha"
Anista menggeleng kuat, air mata terus mengalir di pipinya "Nist mohon jangan, tolong.. Arhggg"
Anista memukul mukul kepalanya dan perutnya dengan membabi buta. Mungkin bayangan nya di saat dia hamil Evan sehingga dia terus memukuli perutnya dan kepalanya juga.
"Jangan lakukan itu!! Jangan menyakiti dirimu sendiri"
Yudha menahan kedua tangan Anista yang terus menyakiti dirinya sendiri. Yudha langsung memeluk Anista dengan erat, tidak peduli jika Anista terus memberontak dan memukuli dadanya.
"Tenang Sayang, jangan kaya gini. Ini aku Yudha" Yudha melerai pelukannya dan menangkup pipi Anista menatap matanya lekat "Sayang, hei.. Ini aku Yudha, tenang ya.. Jangan kaya gini"
Tatapan gelisah dan penuh ketakutan itu kini mulai berganti dengan tatapan sendu. Yudha kembali memeluk Anista dan mencium puncak kepalanya berkali kali.
"Tenang ya, jangan memikirkan hal hal yang membuatmu gelisah dan ketakutan. Kamu harus kuat demi Evan, ada aku di sini. Aku tidak akan meninggalkan mu dalam kondisi apapun" lirih Yudha dengan suara parau
Ya Allah, kenapa bisa sampai seperti ini. Sakitt... Melihat wanita yang sangat aku cintai dengan keadaan seperti ini. Hiks
Anista mulai tenang, dia mulai bisa mengendalikan rasa takut dan fikirannya. Yudha menggendongnya dan menidurkan nya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Istirahat ya, jangan mikir yang aneh aneh. Cup" Yudha mencium kening Anista
Saat Yudha ingin melangkah keluar dari kamar itu. Anista memegang tangannya sehingga dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Anista.
"Terimakasih" lirih Anista
Yudha mengangguk dan tersenyum "Iya, kamu tidur ya sekarang. Istirahat dulu"
Anista mengangguk pelan, dia mulai memejamkan matanya. Yudha mengusap peluh yang membasahi kening Anista lalu menciumnya.
"Istirahat ya sayang" bisik Yudha sebelum akhirnya keluar dari kamar Anista
Apakah sudah saatnya aku menerima kembali Mas Yudha??
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Yudha berdiri di dekat pohon mangga yang ada di halaman rumah Anista. Rumah ini memang kecil dan sangat sederhana. Namun, mempunyai halaman cukup luas dan asri. Sehingga siapa pun akan merasa nyaman berada di sini.
"Bagaiamana keadaan si Eneng, Nak?" Tanya Sumintar yang tiba tiba muncul di belakang Yudha
Yudha berbalik menghadap ke arah Sumintar "Sudah lebih baik Bah, dia sedang istirahat sekarang. Ohya dimana Evan?"
"Dia sedang main dengan anak tetangga"
Keduanya kembali diam dengan fikiran masing masing. Terlihat sekali jika Yudha sedang banyak fikiran. Semuanya terasa berat untuk dia hadapi saat ini. Belum lagi Safira yang sudah hampir 4 hari dia titipkan pada Ibunya. Yudha juga merindukan gadis kecilnya itu.
"Bah" panggil Yudha pelan
Sumintar menoleh "Iya Nak?"
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Anista setelah kejadian masa lalu itu?" Tanya Yudha
Bersambung
Kasihan juga sama Yudha ya, dia juga menderita loh.. Sama dengan Anista.
Dua luka yang di pertemukan untuk mencapai titik bahagia.
jangan lupa like dan komen, kasih hadiah juga votenya ya.. 🤗🤗
__ADS_1