Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Kemarahan Sekaligus Penyesalan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan sampai anaku bisa seperti ini Hah?"


Yudha mengguncang kadua bahu Anista, dua benar benar tidak bisa mengendalikan lagi emosinya saat tahu jika Safira tertabrak mobil dan keadaannya pun belum dia ketahui bagaiamana.


Anista sudah terisak, dadanya sesak saat Yudha menatapnya seperti ini. Pertama kalinya Yudha begitu murka padanya, sampai Anista pun tidak mengenalinya lagi.


Kemana Yudhanya yang dia kenal, kenapa saat ini sosok Yudha yang sangat mencintainya seolah hilang begitu saja.


"Daddy jangan marahi Bunda" teriak Evan dengan suara tangisan yang semakin kencang


"Bima, bawa Evan pulang!" Perintah Yudha dingin


"Kendalikan emosimu atau kau siap menyesal untuk kesekian kalinya" kata Bima tak kalah dinginnya.


Sepertinya Bima sudah malas mengingatkan Yudha untuk bisa mengendalikan emosinya.


"Tidak mau, Evan mau sama Bunda. Jangan bawa Evan pulang.. Bundaa.. Hiks.." Hervan terus berontak saat Bima menggendongnya


"Nak, pulanglah bersama Om Bima. Bunda baik baik saja" kata Anista mencoba tersenyum di segala kegundahannya


"Gak mau! Evan mau sama Bunda" teriak Evan


"Hervanio, pulang!" Suara tegas Yudha berhasil membuat Evan diam dan menurut saat Bima membawanya pergi.


Anista diam, menundukan kepalanya, tangisnya tidak berhenti sejak tadi. Dia tidak tahu harus bagaiaman saat ini, melihat suaminya yang begitu murka padanya.


"Aku tahu jika Safira hanyalah anak tirimu, jadi kau bisa saja mengabaikan dia tidak seperti kau menjaga Evan. Tapi, Safira adalah anaku. Kesayanganku dari dulu, bahkan sebelum kau dan Evan hadir dalam hidupku" kata Yudha datar


Deg


Sakit.. Hatinya terasa begitu perih saat mendengar kata-kata menyakitkan yang meluncur dari mulut suaminya.


Namun, Anista tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Dia hanya bisa diam dan menangis meratapi sakit hatinya.


"Sekarang aku tahu, jika tidak akan ada seorang Ibu tiri yang benar-benar tulus menyayangi anak tirinya. Semuanya hanya topeng!"


"Cukup!" Anista mendongakan kepalanya, dia menatap Yudha dengan mata yang basah


"Kau tidak bisa menilaiku seperti itu hanya karena satu kesalahan yang aku lakukan. Ini semua kecelakaan, bukan di sengaja bukan juga keinginanku. Semuanya kecelakaan!" kata Anista


Yudha terkekeh "Kecelakaan ini tidak akan terjadi jika kau tidak lalai menjaga anaku"

__ADS_1


Anista mengangguk-nganggukan kepalanya dengan tersenyum pedih "Ohh. Baiklah, maafkan saya karena telah lalai menjaga anak anda. Tapi, saya harap anda tidak akan menyesal dengan apa yang baru saja anda katakan"


"Beraninya kau!" Yudha mencengkram kuat dagu Anista "Kau memang wanita bermuka dua, kau tidak benar benar menyayangi anaku. Kau hanya ingin aku menjadi ayahnya anakmu seorang"


Deg


Semakin perih luka di hati Anista, kata-kata Yudha benar benar menyakitinya.


Matanya basah, air mata tak bisa berhenti mengalir. Anista juga khawatir.. sangat khawatir pada Safira. Bukan hanya Yudha yang mengkhawatirkan keadaan anaknya.


Apa yang aku katakan, bodoh.


Yudha terhenyak saat melihat tatapan mata Anista yang begitu terluka. Air mata yang terus mengalir di pipi istrinya itu benar benar membuatnya hancur. Dia benar benar tidak bisa mengendalikan emosinya.


Yudha melepasakan cengkeraman tangannya di dagu Anista. Dia mengusap wajah kasar, begitu frustasi dengan apa yang baru saja dia katakan dan lakukan pada istrinya.


Anista jatuh terduduk di atas kursi tunggu, tangisnya semakin pecah. Anista menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar hebat dengan suara isakan lirih yang terdengar menyakitkan.


Yudha menatap dengan perasaan bersalah pada sang istri. Dia telah melukai hati istrinya lagi dan lagi. Dia menyakiti lagi wanitanya.


Bodoh! Apa yang kau lakukan Yudha..


Ceklek


"Bagaiaman anak saya Dok?" Tanya Yudha


"Nona Safira kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan golongan darah" jelas dokter


"Ambil darah saya Dok" kata Yudha sambil menyodorkan lengan kekarnya


"Golongan darah Nona Safira adalah AB Reshus negatif. Golongan darah yang sangat langka dan rumah sakit kami sedang kehabisan stok darah tersebut"


Yudha mengangkat satu alisnya "Kenapa bisa Dok? Saya Ayahnya dan golongan darah saya adalah O"


"Mungkin anak Tuan, golongan darahnya sama dengan Ibunya"


Yudha menggeleng pelan "Tidak! Ibunya bergolongan darah A"


Anista hanya diam, dia juga tidak bisa mendonorkan darahnya karena darah dia tidak sama dengan golongan darah Safira.


"Sebaiknya Tuan segera mencari donor darah untuk Nona Safira" kata Dokter, tidak mau mengungkapkan fikirkan negatifnya pada Yudha

__ADS_1


Yudha mengangguk meski dia masih bingung dengan keadaan ini. Keluarganya juga tidak ada yang mempunyai golongan darah tersebut. Golongan darah Safira sangat langka.


Yudha mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Mencari kontak seseorang lalu menghubunginya.


"Hallo Bim, carikan donor darah AB Reshus negatif untuk Safira. Segera!"


Yudha langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Bima karena dia sudah tahu jika Bima pasti mengerti apa yang di perintahkannya.


Anista masih diam, duduk termenung di kursi tunggu. Tanpa berbicara sedikit, dia masih shock juga takut untuk menatap suaminya yang menurutnya sangat menyeramkan saat benar-benar murka padanya.


Hah.. Nist harus bagaimana?


Hening... Suasana benar-benar sepi, hanya suara langkah kaki yang terdengar di lorong rumah sakit ini. Yudha yang berdiri menyandar ke tembok dan Anista yang duduk diam di kursi tunggu.


Mereka berdua terlihat seperti orang asing yang tak saling mengenal.


"Tuan Yudha"


Yudha maupun Anista langsung menoleh ke arah sumber suara. Yudha mengerutkan alisnya saat melihat rekan kerjanya tiba tiba datang ke rumah sakit ini.


"Oh. Tuan Dave"


Yudha dan Dave saling berjabat tangan, sementara Anista kembali diam saat tahu jika itu adalah rekan kerja suaminya.


"Apa benar Safira membutuhkan donor darah AB Reshus negatif, saya bisa mendonorkan darahku. Golongan darahku sama dengan Safira" kata Dave


"Anda tahu nama anak saya?" Kata Yudha sedikit bingung, pasalnya Yudha baru pertama kali membahas soal anak pada Dave.


Dave bukanlah rekan bisnis yang termasuk dalam golongan penting untuk Yudha.


Kerja sama mereka juga tidak terlalu besar seperti proyek lainnya yang bekerja sama dengan perusahaan lain. Intinya Dave dan Yudha tidak terlalu dekat.


"Oh tentu saja, saya pernah mendengar anda menyebut nama anak anda" jelas Dave


Yudha mengangguk saja karena dia juga tidak ingin terlalu memikirkan itu. Mungkin memang benar jika dia pernah menyebutkan nama anaknya depan Dave.


"Baiklah, terimakasih karena Tuan Dave mau mendonorkan darahnya untuk anak saya"


"Ahh. Tidak usah sungkan Tuan"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga.. ayolah author udah ngemis gini nih.. biar sedikit aja karya Light Of My Life di hargai sama semua pembacanya.


__ADS_2