Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Gara Gara Surat


__ADS_3

"Aku tidak mau menerimanya, kau bakar saja surat itu!"


Anista terdiam menatap kertas yang masih mengambang di tangannya. Yudha sama sekali tidak ingin menerima surat dari Nathali itu.


"Yaudah kalo kamu gak mau menerimanya, biar aku saja yang membacanya" kata Anista


Yudha langsung mendelik tajam "Buang!"


Anista menggeleng cepat, dia sedang dalam mode wanita pembangkang sekarang "Gak mau, aku mau baca surat ini"


Yudha menarik tangan istrinya sampai Anista ikut terjerambah ke atas tempat tidur. Surat yang ada di tangan Anista melayang dan jatuh di lantai kamar.


"Mas apaan si?" Kesal Anista karena dia begitu terkejut dengan tindakan Yudha barusan.


Yudha mengukung tubuh Anista, menatap tajam pada wanitanya itu "Kau mau menjadi pembangkang hah? Mulai tidak nurut sama aku, suamimu!"


Anista terdiam mendengar penuturan Yudha yang penuh dengan penekanan. Sebenarnya dia juga tidak seberani itu untuk membantah perintah Yudha. Namun, saat ini Anista benar benar penasaran dengan isi surat dari Nathali.


"Kalo kamu emang gak mau membacanya, biar aku saja ya. Aku benar benar penasaran dengan isinya, apalagi Teh Nat sampai menangis dan memohon agar aku memberikan surat ini padamu dan menyampaikan permintaan maafnya" jelas Anista masih mencoba merayu suaminya.


"Baiklah, tapi kau harus memuaskanku dulu malam ini dan tidak ada kata penolakan dan rengekan apapun. Layani aku sampai aku bisa meredam kekesalanku padamu" kata Yudha dengan seringai licik


Anista menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu bagaimana stamina suaminya yang begitu kuat dan tidak akan kalah dalam urusan ranjang. Tapi, ini demi memenuhi rasa penasaran nya tentangs surat itu.


Baiklah, lagian melayani suami'kan dapat pahala.


Akhirnya Anista harus melayani api gairah suaminya yang semakin berkobar karna kekesalan padanya. Meski begitu Yudha tetap bermain lembut, tidak ingin menyakiti istri tercintanya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Yudha mendengus kesal, saat istrinya begitu semangat membuka surat dari mantan pacarnya yang bahkan dia saja malas untuk menyebutkan namanya.


"Kau lihat logo rumah sakit, itu artinya itu hanya surat kesehatan. Mungkin saja dia gila jadi harus chek up tiap minggu" ketus Yudha


"Apaan ih Mas, gak boleh gitu"


Selembar kertas Anista keluarkan dari amplop berloga rumah sakit itu. Dia membukanya dan membacanya dengan teliti tanpa menghiraukan suaminya yang masih mengoceh tidak jelas.


"Palingan dia sakit jiwa" ketus Yudha masih mengoceh saja meski tidak di hiraukan oleh istrinya "Dia'kan emang udah gila dari lahir"


Anista terdiam meneliti setiap kata dalam kertas hasil pemeriksaan itu. Dia tertegun dengan kata terakhir yang dia baca.

__ADS_1


"Mas" panggilnya masih fokus pada kertas di tangannya "Teh Nathali kena sakit kanker ovarium"


Yudha menoleh ke arah Anista, dia mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti. Lebih teliti dari istrinya, dia tahu jika istrinya ini terlalu mudah untuk di bodohi.


"Aku pengen denger apa yang dia katakan padamu tadi?" Tanya Yudha


"Teh Nathali bilang...."


"Tidak perlu menyebutkan namanya" kata Yudha dingin


Anista menghela nafas "Baiklah, dia bilang kalo ini adalah alasan dia kenapa dulu sampai mengkhianati kamu"


"Dia juga berpesan untuk menyampaikan permintaan maafnya dan segala penyesalannya pada kamu, Mas. Dia benar benar menyesal, tapi saat itu dia juga tidak mau menyusahkanmu dengan penyakitnya" jelas Anista


Haha...


Suara tawa mengerikan Yudha langsung memenuhi ruangan itu. Anista sampai merinding mendengarnya.


Kenapa? Kenapa malah tertawa seperti itu. Memangnya ada yang lucu apa? Ini'kan cerita menyedihkan.


"Ternyata istriku ini benar benar bodoh" kata Yudha masih tertawa di akhir ucapannya


"Apaan si Mas, selalu saja mengatakan bodoh. Kasihan tahu Teh Nat..."ucapan Anista langsung terhenti saat melihat tatapan tajam suaminya "Maksudnya dia, kasihan tahu dia sakit dan gak ingin memberi tahumu"


"Awwww.. Kenapa harus menyentil dahiku?" Teriak Anista sambil mengusap keningnya yang berdenyut dengan rambut


"Istriku benar benar bodoh, kau lihat ini" Yudha menunjukan sebuah tulisan di bagian atas kertas itu yang mungkin tidak Anista baca "Tanggal, bulan dan tahun surat kesehatan ini keluar. Apa mungkin kejadian 4 tahun lalu bisa baru ketahuan penyakitnya sekaranh?"


Anista terdiam, benar juga apa yang di katakan Yudha. Bahkan dia tadi juga membaca tanggal dan bulan saat surat kesehatan ini keluar. Tapi, dia tidak terlalu memperhatikan dan memperdulikan nya.


Kok suamiku bisa seteliti ini ya, ini aku yang terlalu oon atau dia yang terlalu perpeck si.


"Jelas kau yang terlalu bodoh dan gampang sekali di bohongi" kata Yudha seolah tahu apa yanh di fikirkan oleh istrinya


Anista mendengus kesal "Berarti mantan pacar kamu itu bohong dong"


Yudha menghembuskan nafas berat, seberat hidupnya mempunyai istri terlalu polos seperti Anista.


Ya Tuhan kenapa aku bisa jatuh cinta pada wanita seperti dia. Tapi, ekpresi bodohnya itu sunguh menggemaskan di mataku.


"Kau pikir saja sendiri"

__ADS_1


Tangan Yudha sudah meraba ke bagian favoritnya. Salah Anista sendiri tidak langsung memakai pakaiannya setelah melakukan tugas negara.


Menutupinya dengan selimut justru membuat Yudha semakin mudah untuk melakukan apa yang menjadi hobinya semenjak menikah.


Anista mencubit tangan suaminya yang mulai berjelajah kemana mana. Yang tangannya di cubit malah tertawa dan tetap melancarkan aksinya.


"Pokoknya kalo kamu sampai ketemu dia lagi, jangan bicara dengannya karena apa yang dia bicarakan sudah pasti kebohongan. Aku akan mengingatkan penjaga rumah ini untuk tidak mengizinkan dia masuk ke dalam rumahku" kata Yudha


Anista mengangguk "Iya, Nist teh gak nyangka kalo dia berbohong. Abisnya dia terlihat begitu baik dan tulus saat bertemu Nist. Bahkan dia sampai nangis nangis"


Yudha menuding kening istrinya "Itu karena kau terlalu bodoh"


"Ish. Kenapa selalu mengataiku bodoh, gini gini aku teh istri kamu" kesal Anista


Yudha tersenyum jahil "Yaudah kalo kamu itu istriku, berarti harus menjalani kewajibanmu sebagai istri. Ayo kita lakukan lagi"


Ya Allah, kenapa suami Nist teh jadi begini. Apa apa selalu saja berhubungan dengan hal itu.


"Kan tadi udah, lagian ini udah tengah malam loh. Nanti kamu kesiangan ke kantor, mendingan kita tidur aja ya" bujuk Anista dengan menampilkan wajah sok imutnya


"Terlambat ke kantor juga tidak akan ada yang berani memarahiku. Perusahaan itu punyaku, kalau kau lupa istriku tersayang. Jadi, ayo isi energiku agar besok bisa semakin bersemangat menjalani hari" kata Yudha tersenyum tipis


Kenapa dia jadi seperti ini, dulu saja irit sekali bicaranya. Tapi, sekarang bahkan sering mengoceh tidak jelas padaku.


Akhirnya Anista tidak bisa mencari lagi alasan lain. Anista hanya menurut saja saat suaminya meminta haknya seperti ini. Toh dia juga ikut menikmatinya.


Lihatlah apa yang akan aku lakukan pada siapapun yang telah mencoba menganggu istriku dan keluargaku.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Tolong kau selidiki apa maksud dia dengan ini semua" kata Yudha


Bima mengangguk "Baiklah, aku akan menyuruh orang kepercayaanku untuk menyelidikinya"


"Bagus, aku juga sudah menyuruh penjaga dan semua pelayan di rumahku untuk tidak mengizinkan lagi wanita gila itu masuk ke rumahku. Salah dia sendiri yang mengusik ketenanganku, jangan salahkan aku jika aku akan menghancurkan nya"


Bima mengangguk "Tuan tenang saja, saya pastikan semuanya akan dapat kita ketahui. Termasuk motif dia melakukan ini pada Nona Muda"


Bersambung


Selamat tahun baru untuk semuanya, semoga di tahun ini kita bisa lebih baik lagi..

__ADS_1


maaf up nya telat.. jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote nya.. 🤗


__ADS_2