Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Permintaan Sumintar


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan Hah? Pasien sudah seperti ini masih belum ada tindakan apapun?" Kata Yudha setengah berteriak


Emosinya begitu memuncak saat sampai di Puskesmas dan melihat keadaan calon Ayah mertuanya masih terbaring di brankar di luar ruang perawatan. Saat Anista menanyakan kenapa Ayahnya belum juga mendapat penanganan.


"Katanya karna belum ada surat surat juga kartu kesehatan nya, apalagi kita juga tidak membawa uang"


Begitulah jelas tetangga yang membawa Sumintar ke Puskesmas terdekat. Tentu saja hal itu membuat Yudha meradang. Ternyata uang masih di atas segalanya dan mengalahkan rasa manusiawi yang ada.


"Maaf Tuan, ini sudah prosedur dari atasan kami" kata salah satu pegawai Puskesmas itu


Yudha berdecih kesal "Cepat tangani Ayah saya, setelah itu minta rujukan ke rumah sakit di Ibu kota"


Para perawat Puskesmas itu langsung melakukan perintahnya. Membawa Sumintar ke ruangan gawat darurat di sana.


Anista hanya bisa menangis, apalagi saat melihat Ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri. Bayangannya kembali pada saat Ibunya meninggalkan dia untuk selama lamanya. Saat itu juga karna telatnya penanganan dari pihak Puskesmas karena Ibunya Anista hanya pelanggan kartu kesehatan gratis yang di berikan oleh pemerintah.


Namun, Anista dan Ayahnya tidak bisa berbuat apa apa. Mereka hanya bisa menerima apa yang terjadi karna sadar jika mereka hanya orang tidak punya yang tidak bisa berbuat apa apa.


Yudha menghampiri Anista yang sejak tadi berada di pelukan Bi Nenti. Gadis itu masih menangis sesenggukan, tentu Yudha tahu jika wanitanya sangat takut kehilangan Ayahnya.


"Sayang, hei"


Yudha duduk di kursi ruang tunggu tepat di samping Anista. Tangannya mengelus lembut punggung Anista yang bergetar. Gadis itu masih berada di pelukan Bi Nenti.


"Sudah Nist, Abah kamu pasti baik baik saja. Kamu banyak banyaklah berdo'a untuk kesembuhan Abah kamu" kata Bi Nenti mengelus kepala Anista


Anista terisak, dia melepaskan pelukannya dari Bi Nenti. Anista menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya. Dia masih terisak pelan.


"Bibi lebih baik pulang saja dulu, biar Nist yang disini. Nanti kalau ada apa apa Nist pasti hubungin Bibi dan minta bantuan sama Bibi" kata Anista


Bi Nenti mengangguk "Enya atuh, Bibi pulang dulu. Nanti kalo ada apa apa Nist teh langsung kabari Bibi"


Anista mengangguk, selama ini hanya Bi Nenti yang paling peduli pada keluarganya. Bahkan saat dulu semua orang menghujat Anista yang hamil tanpa suami. Tapi tidak dengan Bi Nenti, dia bahkan selalu menguatkan Anista dalam melewati cobaan itu.


"Nak, Bibi titip Anista ya" kata Bi Nenti pada Yudha

__ADS_1


Yudha mengangguk "Baik Bi"


Setelah Bi Nenti pergi, kini Anista hanya diam dengan sesekali masih terdengar sisa isakan nya. Yudha meraih tangan wanitanya lalu menciumnya membuat Anista langsung menoleh padanya.


"Jangan nangis terus, kamu harus yakin kalo Abah bakalan baik baik aja. Kita akan bawa Abah ke rumah sakit di Ibu kota setelah mendapat rujukan dari sini" kata Yudha


Anista mengangguk pelan "Terimakasih Mas"


Yudha meraih tubuh Anista ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya "Abah kamu juga Ayah aku, jadi ini sudah menjadi kewajibanku. Tidak perlu berterima kasih seperti itu"


Tangis Anista kembali pecah dalam pelukan Yudha "Hiks.. Nist takut Mas, takut kalo Abah juga bakalan ninggalin Nist kayak Ibu"


Yudha semakin mengeratkan pelukannya, dia benar benar tidak suka situasi ini. Yudha paling tidak suka mendengar Anistanya menangis seperti ini. Rasanya dia masih belum bisa membuat wanitanya bahagia jika Anista masih menangis di depannya seperti ini.


"Jangan mikir yang belum terjadi, kamu'kan selalu bilang kalo semuanya atas kehendak Tuhan kita semua. Jadi, kita serahkan saja semuanya pada yang di atas" kata Yudha mencoba menenangkan Anista


Anista mengangguk, benar apa yang di katakan Yudha. Saat ini dia hanya perlu berdo'a, berusaha dan ikhtiar untuk kesembuhan Ayahnya. Setelah itu semuanya hanya bisa dia serahkan pada pencipta alam semesta ini.


Ya Allah, aku serahkan semuanya padamu. Aku hanya meminta yang terbaik untuku dan Abah. Sembuhkan dia Ya Allah.


"Keluarga Pak Sumintar"


"Bagaiamana keadaan Abah saya?" Tanya Anista


"Dia terkena serangan jantung, sebaiknya segera di lakukan operasi pemasangan ring jantung" jelasnya


"Segera lakukan yang terbaik" kata Yudha tegas


"Baik, akan segera kami buatkan surat rujukan ke rumah sakit di kota"


"Minta rujukan ke rumah sakit xx di Ibu kota" kata Yudha


"Ahh baiklah"


Dokter perempuan itu tentu terkejut mendengar rumah sakit yang di sebutkan oleh Yudha. Itu adalah rumah sakit terbesar di Ibu kota, bahkan semua alat medis ada di sana. Banyak Dokter terbaik di rumah sakit itu.

__ADS_1


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Akhirnya Sumintar bangun setelah beberapa jam tidak sadarkan diri. Kini Sumintar telah berada di rumah sakit di Ibu kota. Anista selalu setia berada di samping Ayahnya itu.


"Neng, Abah pengen jadi wali nikah Neng" kata Sumintar tiba tiba


Anista mengusap punggung tangan Ayahnya itu "Tentu saja, emang siapa lagi yang akan menjadi wali nikah Eneng kalo bukan Abah"


"Tapi, Abah rasa waktu Abah tidak lama lagi. Cepatlah kalian menikah agar Abah masih bisa menjadi wali nikah anak Abah ini. Supaya Abah tenang meninggalkan anak Abah yang sudah pasti ada yang menjaganya" kata Sumintar


Mata Anista sudah berkaca kaca, dia menggeleng pelan "Abah gak boleh bicara kayak gitu. Jangan pernah meninggalkan Neng, cukup Ibu yang meninggalkan Neng"


Sumintar mengelus pipi putrinya itu dengan perlahan "Abah hanya ingin mnejadi wali nikah Neng, bisa'kan?"


"Saya akan mengurus semuanya, biar kita segera laksanakan akad di sini" kata Yudha


Anista menoleh dan menatap tidak suka pada Yudha. Seolah Yudha berfikir jika tidak ada banyak waktu lagi dan saat ini adalah saat terakhir untuk Ayahnya.


"Mas kenapa sih? Abah pasti sembuh, gak perlu acara akad nikah dadak dadakan gini" kesal Anista


Gadis itu berdiri dan menghadap Yudha yang berdiri di sampingnya "Mas gak berfikir kalo Abah akan meninggalkan Nist dan ini seolah permintaan terakhirnya kan?"


"Bukan begitu Sayang, aku yakin kalo Abah bakalan sembuh dan sehat lagi seperti semula. Namun, kenapa juga kita tidak melaksanakan apa yang Abah minta. Lagian itu juga hal yang baik" jelas Yudha.


Meskipun aku juga merasa jika ini seolah permintaan terakihir dari Abah. Tuhan semoga Ayah mertuaku bisa sembuh dan sehat kembali.


"Iya Neng, Abah hanya ingin kalian segera menikah" lirih Sumintar


Anista memegang tangan Abahnya yang masih berbaring di ranjang pasien "Kita memang akan segera menikah Bah"


"Tapi, Abah ingin secepatnya. Hanya akad saja dulu juga tidak papa" kata Sumintar


"Sudahlah, kamu hanya perlu menurut saja. Aku akan mempersiapkan akad nikah kita"


Anista diam, dia melihat ke arah Yudha dan Ayahnya secara bergantian. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama dengan Yudha. Namun, Anista ingin berpositif thinking.

__ADS_1


"Baiklah"


Bersambung


__ADS_2