Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Pertemuan Yudha dan Evan


__ADS_3

"Tuan sepertinya kita harus mencari Anista ke kampung halaman nya. Saya yakin jika dia ada di sana" kata Bima


Yudha melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik lehernya "Apa kau tahu di mana alamatnya?"


Bima mengangguk, apasi yang tidak bisa cari tahu "Tentu saja"


"Baiklah, kita bereskan dulu pekerjaan disini. Supaya aku bisa punya waktu cukup lama untuk menemui anaku" kata Yudha


Bima mengangguk lalu dia pergi berlalu ke luar ruangan Yudha. Satu masalah lagi yang harus kau hadapi dengan luka yang luar biasa. Kuatlah aku akan membongkar semuanya setelah kau siap.


Drett...Dreetttt


Ponsel Yudha yang terletak di atas meja berdering. Dia mengambilnya dan segera mengangkat telpon itu.


"Hallo Mam"


"Yudha, Safira ingin pulang ke rumahmu. Dia ingin bertemu dengan pengasuhnya"


"Dia calon istriku Mam, bukan hanya pengasuh Safira"


"Ya ya, terserah kau saja. Yang jelas Safira ingin ke rumah mu"


Yudha menghela nafas berat "Untuk saat ini sampai satu minggu ke depan tolong Mami jaga Safira dulu. Ada yang harus aku urus, dan Anista juga sedang tidak ada di rumahku. Dia izin untuk pulang kampung"


"Hah.. Baru menjadi calon istri saja sudah sering pulang kampung. Seenaknya banget, kamu yakin mau nikahin dia? Apa dia beneran sayang sama Fira atau cuma karna ingin dapetin kamu aja"


"Aku yakin dengan keputusanku Mam, jangan bicara yang tidak tidak tentang calon istriku. Atau Mami akan menyesal nantinya"


Yudha langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia mengusap wajah kasar, sepertinya Ibunya juga akan menjadi penghalang hubungan nya dengan Anista.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Citttt....


Suara decitan dari ban mobil yang bersentuhan dengan jalanan. Yudha mengatur nafasnya, dia hampir saja menabarak anak anak kampung yang berlarian di tengah jalan. Untung saja Yudha langsung mengunjak rem mobilnya.


Sepertinya benar apa kata Bima..


"Biar aku temani dan mengantarmu kesana. Fikiran kau sedang kacau, tidak baik menyetir sendiri"


"Sudahlah, kau harus mewakilkan aku untuk meeting dengan client dari luar negara itu. Ini client penting Bima, masih untung dia mau bertemu denganmu tanpa harus ada aku. Jadi kau beresekan dulu pekerjaan disini, setelah itu barulah kau menyusulku ke sana"


Begitulah perdebatan Yudha dan Bima saat tadi Yudha memutuskan untuk berangkat sendiri. Bukannya tidak mau memakai supir, namun Yudha ingin masalah dirinya dan Anista hanya dia dan Bima yang mengetahuinya.

__ADS_1


Bocah laki laki paling kecil di antara anak anak yang lain menoleh ke arah mobil Yudha. Dan saat itu Yudha baru menyadari siapa anak kecil yang hampir saja di tabrak barusan.


Deg Deg Deg


Degup jantungnya begitu cepat dan tak beraturan. Ya Allah, mata dan hidungnya sangat mirip denganku.


Yudha membuka pintu mobil dan turun, berjalan dengan perasaan campur aduk. Menghampiri anak kecil itu yang jelas terlihat sangat berbeda dari anak anak lainnya. Anaknya sangat tampan.


"Hai dimana rumahmu? Kau tidak apa apa kan?" Tanya Yudha mengusap kepala bocah laki laki itu


"Tidak Om, Evan baik baik aja kok. Om yang waktu itu sama Bunda kan?" kata Evan tersenyum


Yudha tersenyum dengan mata berkaca kaca. Senyuman anak itu juga sangat mirip dengannya. Kau benar benar anaku.


"Iya Nak, Om temannya Bunda kamu. Kalau begitu ayo biar Dadd... Maksudnya biar Om anter kamu ke rumah kamu. Ini juga sudah gelap, mungkin sebentar lagi akan hujan" kata Yudha yang hampir saja keceplosan menyebut dirinya sebagai Daddy nya Evan.


Evan mengangguk "Ayo. Om mau ketemu Bunda juga kan?"


Yudha mengangguk cepat "Iya, Om mau ketemu sama Bundanya Evan. Kalo gitu ayo masuk mobil, biar Om gendong kamu"


Yudha menggendong Evan dengan perasaan membuncah begitu bahagia. Di tatap wajah anaknya ini dari dekat, sungguh Evan memang fotocopy dari wajahnya.


Tuhan, ini adalah anaku.


"Apa jalan ke rumah kamu masuk mobil?" Tanya Yudha


Evan mengangguk "Masuk satu mobil aja. Tapi emang jarang ada mobil lewatin jalan itu. Semua yang tinggal di sana gak ada yang punya mobil si"


Yudha mengangguk mengerti


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Sebenarnya kamu ini kenapa Neng? Cerita sama Abah"


Sudah dua hari Anista berada di kampung halaman nya. Selama itu pula Anista belum menceritakan apa yang terjadi pada ayahnya.


Anista menggeleng pelan "Neng gak papa kok Bah. Eneng cuma capek aja"


Abah Mintar mengelus kepala putrinya itu "Yakin?"


Anista mengangguk dan tersenyum, mencoba meyakinkan Ayahnya.


"Yasudah, kalo ada apa apa itu cerita sama Abah"

__ADS_1


Anista kembali mengangguk "Iya Bah"


Di saat keduanya masih asyik bercengkrama di bale rumah yang terbuat dari papan kayu itu. Sebuah mobil mewah berhenti di depan pekarangan rumah mereka. Di belakangnya banyak anak anak yang mengikuti mobil mewah itu.


Anista saling melepmpar pandangan dengan Ayahnya. Seolah bertanya siapa yang bertamu ke rumahnya menggunakan mobil semewah itu.


"Siapa Bah?" Tanya Anista


Sumintar menggeleng "Abah juga tidak tahu Neng"


Tubuh Anista langsung membeku melihat siapa yang turun dari mobil itu ditambah dengan laki laki tampan yang menggendong anaknya. Yudha menggendong Evan sambil berjalan mendekat ke arah Anista dan ayahnya.


Evan? Mas Yudha?


"Bundaaaaa" Evan berteriak memanggil Bundanya yang masih diam mematung.


Yudha menurunkan Evan setelah mereka sampai di depan Anista dan Ayahnya.


"Siapa dia Neng?" bisik Abah Mintar pada anak perempuannya


Anista mengerjap, dia harus bisa mengendalikan perasaannya. Trauma di masa lalu itu seolah kembali pada kehidupan Anista.


Setelah beberapa hari yang lalu dia melihat jam tangan yang sama persis dengan jam tangan yang di pakai pria penghancur hidupnya.


Bisa Anista, kamu pasti bisa melewati ini semua.


Anista menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar. Dia menoleh ke arah Ayahnya.


"Nist gak tau Abah, tidak kenal"


Jawaban Anista yang menohok hati Yudha. Namun, Yudha cukup mengerti dengan sikap Anista. Mengingat bagaimana ucapan dia waktu itu sudah sangat keterlaluan.


"Assalamualaikum, saya Yudha" Pria tampan itu menyalamu tangan Abah Mintar dengan sopan "Saya kesini ada hal yang harus saya selesaikan dengan Anista"


"Waalaikumsalam" Sumintar menoleh ke arah anaknya, dia berbisik pada Anista "Katanya Neng teh gak kenal"


Anista hanya diam dan langsung berdiri "Evan ayo masuk"


Bersambung


Cuma bisa kasih dua bab aja ya.. doain aja semoga aku sehat selalu dan lancar dalam segala hal. Biar nulisnya juga lancar.


Jangan Lupa Like, Komen dan kasih hadiahnya.. Kasih Vote juga boleh banget.. 😁🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2