Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Telah kembali


__ADS_3

Setelah selesai makan dan minum obat, Safira kembali terlelap. Anista mengelus lembut pipi gembil anaknya itu. Setetes air mata menetes dari sudut matanya. Mengalir melewati hidungnya dan akhirnya menetes di atas tangan mungil Safira.


"Hiks.. Maafkan Bunda Nak, gara gara Bunda kamu jadi kayak gini. Daddy mu benar, Bunda salah dan telah lalai menjaga mu" lirihnya


Yudha diam mematung mendengar suara lirih istrinya itu. Evan sedang keluar bersama Bima, saat tadi datang untuk mengantarkan berkas pada Yudha.


Yudha menaruh berkas-berkas di atas pangkuannya di atas sofa. Dia berdiri dan berjalan menghampiri istrinya yang menunduk dengan bahu bergetar.


Sepasang tangan kekar yang selalu memeluknya hangat kini tengah melingkar di tubuhnya. Yudha memeluknya, dia menyandarkan dagunya di puncak kepala Anista dan sesekali mencium rambutnya.


Anista masih mendongakan wajahnya, dia tidak mencoba melepaskan tangan Yudha yang masih memeluknya. Tapi, Anista juga tidak berbicara apapun.


"Pulanglah ke rumah" suara Yudha terdengar lembut dan penuh keputus asaan.


Akhirnya Anista melepaskan lingkaran tangan Yudha. Dia berdiri dan berbalik menatap suaminya.


"Aku gak tau aku kenapa, ada apa dengan hatiku? Aku gak tahu, yang jelas aku cuma merasa ada yang perih tapi tidak ada luka. Rasanya itu sesak dan sangat menyakitkan" kata Anista


Yudha terdiam, perkataan Anista yang benar benar sebuah kata yang menggambarkan keadaannya saat ini. Istrinya benar-benar terluka dan rapuh. Yudha merasa sesak sendiri dengan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh istrinya.


"Kayak yang aku menyimpan rasa percayaku pada orang yang aku yakini akan selalu melindungiku dan percaya padaku apapun keadaannya. Terus..."


Anista menghela nafas saat terasa suaranya mulai tercekat di tenggorokannya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Terus orang itu malah menghancurkan pikiranku selama ini Dia menghancurkan rasa percaya itu sampai aku merasa jika pelindungku telah hilang. Kayak ada yang nusuk hatiku tapi gak terluka. Cuma terasa perihnya saja"


Setelah mengatakan itu Anista langsung pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Yudha yang masih diam dengan rasa sesak semakin menderanya. Perkataan Anista benar-benar berhasil menampar alam sadarnya.


Apa yang telah aku lakukan? Aku benar-benar membuat istriku terluka sampai separah itu. Tuhan, tolonglah aku untuk bisa mendapatkan kembali istriku dan mengobati lukanya yang telah aku ciptakan di hatinya.


Anista berlari ke kamar mandi, menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi yang telah dia kunci. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.


"Kenapa aku berkata seperti itu? Mas Yudha pasti akan semakin merasa bersalah. Disini aku yang salah, Nist yang salah. Kenapa malah Nist seolah menyalahkan Mas Yudha. Hiks.." racau Anista terisak tertahan


Anista memegang bagian dadanya "Tapi disini benar-benar sakit"

__ADS_1


Keduanya sama-sama merasa bersalah dan tersakiti dengan cara yang berbeda. Keduanya sama-sama menyesal dan tidak ingin kehilangan satu sama lain.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Bagaimana Bim?" tanya Yudha saat Bima baru saja datang


"Keduanya di beri hukuman yang setimpal. Sekarang keduanya telah di tahan" jawab Bima tersenyum puas


Yudha mengangguk mengerti, dia terlihat santai saja karena Yudha sudah tidak terlalu memperdulikan urusan kedua orang biadab itu. Yang dia pikirkan hanya tentang istrinya yang masih di rumah Bu Nina sudah hampir seminggu ini.


"Kalau begitu saya mau ke kantor dulu. Banyak pekerjaan yang harus saya urus selama Tuan berada disini" kata Bima


Yudha mengangguk "Terimakasih untuk semua bantuannya Bim"


"Tak perlu sungkan, Tuan"


Yudha tersenyum tipis, dia merasa beruntung memiliki asisten seperti Bima. Laki laki yang selalu ada di keadaan apapun untuk Yudha.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Seminggu berlalu setelah hari dimana Anista memutuskan untuk pulang ke rumah Bu Nina. Evan juga dia bawa kesana dengan di antarkan oleh supir.


Masih dengan perban melilit di bagian kepalanya. Yudha menggendong Safira melewati lorong rumah sakit itu. Varinda dan David tidak ikut menjemput karena mereka sibuk menyiapkan penyambutan untuk anak kecil itu.


Apalagi mengingat ketika Safira akan segera di bawa oleh Kakek dan Neneknya. Meski berat, tapi Yudha dan yang lainnya tetap harus merelakannya. Asalkan mereka masih bisa bertemu dan mengawasi jika keadaan Safira baik-baik saja.


Di sisi lain ada seorang wanita yang menangis sesenggukan di pelukan Ibunya. Penjelasan yang baru saja dia dengar benar benar membuatnya hancur.


Kenapa aku sampai tidak tahu hal ini. Ya Allah, apa Nist teh terlalu egois karena mengacuhkan suami Nist selama ini. Maafkan Nist, Ya Allah karena telah lalai menjadi seorang istri.


"Terus kapan Fira akan di bawa oleh keluarga Teh Eliana?" Tanya Anista


Varinda mengelus tangan menantunya itu "Setelah Fira pulang dari rumah sakit hari ini. Maka kita hanya punya waktu seminggu untuk bersama dia dan menjelaskan semuanya"


Anista semakin terisak, dia membayangkan bagaimana perasaan suaminya. Dia saja yang baru beberapa bulan bersama Safira sudah sehancur ini.

__ADS_1


Apalagi Yudha yang hidup bersama Safira dari balita itu masih dalam kandungan mantan istrunya.


Ya Allah, Mas Yudha... Hiks


"Ayo kita segera pulang Mam"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Nda kok dak itut jemput?"


Celoteh balita itu yang selalu membuat Yudha bingung untuk menjawabnya.


Bahkan setelah pembicaraan waktu itu dimana keduanya juga sama-sama terluka. Anista hanya mengunjungi Safira dua kali dan itu pun tanpa mau berbicara atau bertegur sapa dengan Yudha.


"Bunda harus banyak istirahat sayang, kan lagi menjaga adik bayi" kata Yudha


Safira selalu berbinar saat Yudha menyebutkan bayi di depannya. Dia begitu antusias saat Yudha mengatakan jika dia akan segera mempunyai adik bayi.


Yudha tersenyum lega saat putrinya tidak lagi mempertanyakan soal Bundanya. Meski jujur saja Yudha juga sangat merindukan sosok itu.


Wanita ceria dan penuh kehangatan yang berhasil membuatnya jatuh cinta lagi setelah lama Yudha dikecewakan dengan cintanya.


Mobil terparkir di halaman rumahnya. Yudha turun dan menggendong Safira, dia berjalan masuk ke dalam rumah itu di ikuti kedua orang tua Eliana.


Pintu utama terbuka dan langsung di sambut oleh suara terompet yang di tiup dan anggota keluarganya yang menyambutnya dengan bahagia. Bahkan para pelayan pun ikut menyambut kepulangan Safira.


"Selamat datang Nona kecil" kata mereka serempak


"Wahh.. Fiya suka..." teriak antusias dari Safira dengan bicaranya yang masih belum benar-benar fasih.


Sejak tadi tatapan Yudha terpaku pada seorang wanita yang juga memegang terompet di tangannya. Yudha merasa tidak percaya jika istrinya berada disini. Di rumah mereka dan ikut menyambut kepulangan Safira.


Anista menatap suaminya dengan tatapan sulit di artikan. Dia tersenyum dan menganggukan kepalanya seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya.


Ya Tuhan, terimakasih. Alhamdulillah. Akhirnya istriku telah kembali.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like dankomen nya... kasih hadiah juga..


__ADS_2