
Yudha terus mengelus perut istrinya dengan sesekali dia mencium kening Anista. Nafas Anista mulai teratur, sepertinya istrinya ini telah terlelap.
Yudha menarik selimbut sampai ke pinggang istrinya, mengecup kembali keningnya. Lalu dia turun dari atas tempat tidur dengan perlahan. Takut mengganggu tidur sang istri.
Turun ke lantai bawah, di sana tinggalah keluarga terdekat saja yang berkumpul. Rekan kerja dan yang lainnya telah pulang.
Yudha ikut bergabung di ruang tamu itu "Dimana Evan, Mam?"
"Lagi main sama Hisyam dan Safira" jawab Varinda
Ya, Safira juga hadir bersama kakek dan neneknya. Balita itu terlihat begitu antusias saat tadi mengelus dan mencium perut Bundanya.
Yudha mengangguk mengerti, lalu menatap gadis yang dari tadi hanya banyak diam "Oh ya, Hasna apa kamu akan menginap di sini? Istriku aku senang jika kau tinggal sehari saja di sini"
"Emm" Hasna terlihat bingung untuk menjawabnya, dia takut salah menjawab dan begitu canggung dengan keluarga ini.
"Sudahlah Nak, kamu menginap saja biar rumah ini ramai" kata Varinda
Akhirnya Hasna menganggukan kepala "Hmm. Baiklah"
"Bim, dimana pacarmu?" Tanya Yudha
"Sudah ku antar pulang" jawab Bima datar
Yudha hanya mengangguk dan mengedikan bahunya acuh. Dia bertanya seperti itu hanya basa basi saja.
"Sudahlah, ayo mari kita istirahat saja. Hari sudah mau gelap. Biarkan dua pria dingin ini mengobrol di sini" kata Varinda pada yang lainnya
"Na, mau tidur sama Bibi" kata Bi Nenti yang sudah mulai akrab dengan Hasna.
Hasna mengangguk dengan mata berbinar "Mau Bi"
Bi Nenti dan Bu Nina yang begitu keibuan membuat Hasna merasakan kasih sayang seorang Ibu. Keriduannya pada sosok seorang Ibu bisa terobati walau hanya sedikit.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Hari-hari berlalu begitu cepat, usia kandungan Anista sudah menginjak 6 bulan. Perutnya yang semakin membuncit membuat Yudha semakin gemas.
Meski dia belum bisa menyentuh istrinya, karena kandungan Anista yang cukup lemah. Apalagi mengingat Anista pernah mengalami pendarahan di awal kehamilannya. Mengingat dulu juga dia mengandung Evan di usia yang terlalu muda.
"Terlalu banyak resiko jika saat ini anda memaksakan untuk melakukan hubungan suami istri. Tunggulah sampai usia kandungannya 7 atau 8 bulan. Posisi bayi sudah kuat dan tidak terlalu rentan lagi mengingat kondisi kandungan istri anda yang cukup lemah"
Ucapan dokter saat pemeriksaan terakhir itu cukup membuat Yudha mengerti. Dia bisa menahan hasratnya demi anak dan istrinya.
__ADS_1
Ceklek
Anista membuka pintu ruang kerja suaminya. Malam ini Yudha kembali lebih awal dan melanjutkan pekerjaannya di rumah.
"Sayang, sini" Yudha melambaikan tangannya.
Anista langsung masuk dengan tangan membawa secangkir minuman untuk suaminya. Menyimpan minuman yang di bawanya di atas meja. Lalu dia duduk di pangkuan Yudha dengan nyamannya.
"Bawa apa itu?" Tanya Yudha sambil mengelus pipi istrinya, dia bersandar ke sandaran kursi kerjanya. Menatap wajah istrinya lekat-lekat seolah tak ada puasnya untuk menatap kesayangannya ini.
"Teh jahe, akhir-akhir ini Mas sibuk kerja. Jadi, harus menjaga kesehatan. Minum ini dulu buat merilekskan tubuh kamu"
Yudha tersenyum, tangannya meraih minuman yang di bawa oleh istrinya itu. Meminumnya secara perlahan, rasa hangat dan wangi dari jahenya benar-benar merileks'kan tubuhmya yang memang cukup lelah dengan banyaknya pekerjaan akhir-akhir ini.
Yudha menyimpan kembali teh jahe itu di atas meja. Dirinya kembali fokus pada istrinya yang berada di pangkuannya dan memainkan rambutnya.
"Mas, sudah malam. Ayok tidur" kata Anista
Hahh..
Yudha menghembuskan nafas kasar "Kamu ngajakin tidur, kok dia malah bangun ya Sayang"
Anista terbelalak saat meraskaan ada sesuatu yang mengganjal di bawahnya. Dia ingin turun dari pangkuan Yudha, tapi suaminya itu malah menahannya.
Anista menghela nafas, benda keras di bawah sana semakin membuatnya tidak nyaman. Bergerak-gerak seolah ingin segera keluar dari sangkarnya.
Yudha memegang pinggang istrinya, dia menggerakan tubuh istrinya dengan perlahan. Menimbulkan gesekan-gesekan di bawah sana dan membuatnya mengerang nikmat.
"Huh.. Sayang, hanya kau yang bisa membuatku gila seperti ini. Anistaku, kesayanganku.. Huh..."
Bibir Yudha mulai mengecupi leher istrinya dan bahunya. Bibir Anista juga tidak lepas dari sentuhan penuh gairah bibir suaminya itu.
"Mas, ingat kata dokter" lirih Anista, dia juga mulai terbawa suasana. Namun, Anista tersadar saat keselamatan bayinya yang di pertaruhkan.
"Hahh...."
Yudha semakin tidak bisa menahan hasra*tnya itu. Dia menatap sayu istrinya itu, bagian bawahnya benar-benar butuh pelepasan agar terasa lega untuknya.
"Sayang, bantu aku dengan tanganmu dan bibirmu ini ya" kata Yudha sambil menyentuh bibir istrinya
Hah..
Anista menghembuskan nafas kasar, ini bukan pertama kali suaminya memintanya membantunya pelepasan dengan tangan dan bibirnya. Namun, melihat wajah sayu dan tersiksa suaminya itu. Membuat Anista tidak tega untuk menolaknya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita ke kamar"
Yudha mengangguk dengan semangat, dia langsung menggendong Anista dan membawanya ke kamar mereka.
Pintu kamar tertutup dan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
(Cuma bisa segini doang adegan 21 + nya. Gak bisa terlalu lebih kayak yang lain. 😁)
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Pagi ini Yudha terbangun dengan wajah berseri, bahagia. Apa yang di lakukan istrinya tadi malam benar-benar membuat moodnya membaik.
Cup
Yudha mengecup pipi Anista yang masih terlelap. Wajah polos istrinya begitu membuatnya gemas.
"Sayang bangun, sudah pagi. Ayok kita sarapan, kasihan nih adiknya Hervan pengen sarapan" bisik Yudha di telinga istrinya
Emmmm...
Anista hanya bergumam dan menggeliat pelan. Dia menarik kembali selimut sampai menutupi sebagian wajahnya.
Yudha semakin gemas dengan tingkah Kesayangannya ini. Dielusnya rambut Anista dan menciumnya.
"Yasudah, tidur saja ya. Aku berangkat kerja dulu, nanti di usahakan pulang cepat" kata Yudha
Anista mengerjap dan sedikit membuka selimutnya, matanya masih terpejam. "Cium dulu"
Yudha tersenyum mendengar permintaan istrinya setiap kali dia akan berangkat kerja. Padahal dari tadi subuh Yudha sudah menciumnya. Tapi, tentunya dia tidak keberatan dengan permintaan Anista.
Cup..Cup..Cup..Cup
Yudha mencium kening, kedua pipinya dan berhenti cukup lama di bibir Anista.
"Tidur lagi saja, nanti aku suruh pelayan untuk membawakan sarapan untukmu" kata Yudha
Anista mengangguk dan kembali menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya. Yudha mengelus kepalanya dan mengecupnya lagi sebelum benar-benar berangkat kerja.
"Aku pergi Sayang"
Bersambung
Jangan lupa, like komen.. Rate bintang 5 juga..
__ADS_1
Untuk cerita Hasna yang menginap dirumah Yudha. akan di ceritakan di cerita baru saya. setelah novel Light Of My Life ini selesai.