
Satu minggu sudah Yudha berada di kota, terpisah dari belahan jiwanya. Namun, dia selalu mengabari Anista setiap hari. Seperti saat ini Yudha sedang melakukan panggilan video dengan Anista dan Evan.
Saat kembali ke ibu kota, Yudha langsung mengirimkan ponsel yang dulu di belikannya untuk Anista. Sehingga sekarang dengan mudah Yudha menghubunginya.
"Kamu baik baik di sana, jangan genit genit sama si lampu itu" kata Yudha ketus
Anista mengerutkan keningnya "Lampu? Siapa?"
"Itu pria menyebalkan yang suka sama kamu" Yudha mendesah kesal saat mengatakan itu
Anista berfikir keras, siapa maksud calon suaminya ini. Sampai satu nama terbesit di fikirannya "A Surya maksud Mas?"
Kerutan di dahi Yudha, memperlihatkan jika dia tidak suka dengan apa yang baru saja di ucapkan Anista.
Anista cengengesan "Hehe, iya iya maaf"
Lagian Surya kok jadi Lampu si? Oh iya ya, kan Surya itu artinya cahaya. Lampu juga salah satu sumber cahaya. Hahaha. Ya ampun aya aya wae°
(Ada ada saja°)
Setelah cukup lama mereka mengobrol, Anista pun memutuskan sambungan teleponnya saat di sadari Evan yang duduk di pangkuannya ternyata telah terlelap.
Anista mencium puncak kepala Evan "Kasihan sekali anak Bunda sampe ketiduran gini"
Anista menggendong Evan dan membawanya ke kamar. Menidurkan Evan di tempat tidur mereka. Sejenak Anista menatap wajah polos putranya itu.
Ya Allah, benarkah keputusan yang telah Nist ambil saat ini? Menerima kembali pria yang telah menghancurkan hidupku, hanya untuk Evan, hanya demi Evan Nist melakukan ini.
Bohong!!
Anista mulai membuka kembali pintu hatinya untuk Yudha juga karna perasaan nya yang sudah terlanjur terpahat di hatinya. Meski rasa kecewa itu masih belum hilang sepenuhnya.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Yudha...."
Teriakan seseorang berhasil menghentikan langkah kakinya saat Yudha baru saja keluar dari cafe tempat dia meeting dengan client nya.
Yudha menoleh saat merasa jika suara itu tidak asing... Deg... Wanita itu, wanita yang pernah memiliki hatinya. Wanita yang juga telah menghancurkan kehidupan nya.
Nathali berlari mendekat ke arah Yudha, wanita cantik itu tersenyum dengan manis pada mantan kekasihnya itu.
Nathali mengulurkan tangannya "Apa kabar, Yudh?"
"Baik" menjawab tanpa menatap orang yang sedang mengajaknya berbicara. Bahkan Yudha tidak menerima uluran tangan Nathali.
Nathali tersenyum miris, dia menarik kembali uluran tangannya "Ohh. Syukurlah kalau kamu baik baik saja selama ini"
"Memang kau fikir aku akan tidak akan baik baik saja selama ini?" Tanya Yudha sinis
"Yeahh... Aku tahu kau akan selalu baik baik saja selama ini. Aku takut saja keadaanmu tidak baik baik saja karena perceraianmu dengan model terkenal itu" kata Nathali santai
__ADS_1
Yudha tersenyum sinis "Hmm. Memangnya apa urusanmu dengan keadaanku?"
"Ya tidak ada urusan apapun si, tapi setidaknya kau adalah mantan pacarku dan aku pernah sangat mencintaimu" jujur Nathali tanpa rasa bersalah sedikit pun setelah apa yang dia lakukan waktu dulu.
Yudha tertawa sinis "Hahaha.. Apa kau lupa? Apa yang kau lakukan dulu, di saat aku sangat mencintaimu. Tapi, apa yang telah kau lakukan?"
"Itu semua aku lakukan karna aku terpaksa Yudh" lirih Nathali, wajahnya berubah sendu
Yudha mengangkat satu alisnya menunggu Nathali melanjutkan ucapannya.
"Aku melakukan itu karna aku membutuhkan banyak uang" lanjutnya
Nathali mendongak'kan wajahnya dan terlihat air mata yang berlinang di pipinya "Aku membutuhkan banyak uang untuk pengobatan Ibuku"
"Bodoh!! Kau fikir aku akan percaya? Tentu tidak! Kau lupa siapa kekasihmu saat itu? Apa kau fikir aku tidak bisa membiayai kebutuhanmu, hah?? Sudahlah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Kita sudah berakhir" kata Yudha dengan dingin
Tatapannya sangat tajam, penuh luka dan kesedihan di balik tatapan itu "Dan perlu kau ingat, rasa kecewa yang telah kamu berikan padaku berhasil membuatku tidak peduli lagi denganmu"
Setelah mengatakan itu, Yudha langsung pergi meninggalkan Nathali yang masih diam mematung. Kemana Yudhanya yang dulu?
Nathali merasa bingung dengan sikap Yudha sekarang. Yudha yang dulu sangat hangat dan begitu mencintainya. Kini berubah dengan Yudha yang dingin dan tidak lagi peduli padanya.
Bahkan Yudha yang dulu tidak pernah membentaknya apalagi mengatakan kata kata menyakitkan seperti barusan.
Kau telah berubah Yudha.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Yudha mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia benci dengan keadaan ini. Bertemu lagi dengan wanita yang telah menghancurkan segalanya. Cahaya dalam hidupnya mulai redup saat wanita yang sangat dia cintai menghianatinya di saat dia sangat mencintainya.
Hiks.. Tuhan, akhirnya aku mengerti kenapa mimpi itu selalu datang. Inilah jawabannya, Anista adalah hidupku, jodohku dan segalanya untuku.
Yudha mengusap air mata nakal yang meluncur begitu saja di pipinya. Jika mengingat bagaiamana hidupnya selama ini dan juga bagaimana kehidupan Anista yang telah dia dengar dari cerita Sumintar.
Membuat Yudha menjadi laki laki lemah yang gampang sekali mengeluarkan air matanya.
"Aku menginginkan bahagia, aku ingin menemukan cahaya hidupku lagi Tuhan"
Ya, seterpuruk itulah Yudha dan selemah itulah dia jika mengingat semua yang pernah dia lalui selama ini.
Kehidupan tanpa cahaya dan hanya ada kegelapan. Hanya di sibukan dengan berkerja tanpa ada kehangatan keluarga. Semenyedihkan itulah hidup Yudha.
Luka bertemu luka berharap akan menjadi bahagia...
Ibaratkan kata itulah yang tepat untuk Yudha dan Anista. Mengalami kepedihan masing masing dalam hidup mereka dan sekarang mereka di pertemukan dan berharap bisa menemukan kebahagiaan mereka.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Langkah kaki Yudha sampai di depan Apartemen mewah. Dia menekan bell di sana. Menunggu seseorang segera membukakan pintu.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka dan menampilkan gadis cantik dengan penampilan sangat sederhana. Gadis itu terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Yudha.
"Tu...Tuan"
"Boleh aku masuk?" Tanya Yudha datar dan dingin seperti biasa
Hasna mengangguk "Si...silahkan Tuan"
Hasna membuka pintu apartemennya lebih lebar dan membiarkan Yudha masuk terlebih dahulu.
Setelah menutup pintu, Hasna kembali masuk ke dalam dan menghampiri Yudha yang sudah duduk di ruang tengah Apartemen mewah milik Bima ini.
"Duduklah" kata Yudha datar
Hasna mengangguk dengan tangan saling bertaut. Dia duduk di sofa depan Yudha. Dia terasa sulit bernafas, udara di sekitarnya seolah membeku begitu saja.
Temannya tidak kalah menyeramkan dari Tuan Bima. Tuhan.. Tolong aku..
Lagi lagi Hasna harus berada di posisi seperti ini. Berhadapan dengan pria menyeramkan, menurutnya.
"Kau tahu siapa aku?" Tanya Yudha
Hasna mengangguk "Tuan kan Temannya Tuan Bima"
Hah?? Jadi hanya itu yang dia tahu. Yudha menggeleng pelan
"Apa Bima belum memberi tahu kamu tentangku?" Tanya Yudha
Hasna menggeleng "Tuan Bima hanya bilang kalo ada temannya ingin bertemu dengan saya"
"Aku adalah pria di malam itu, pria yang menghancurkan kehidupan gadis yang kau tolong" jelas Yudha dengan tatapan kosong
Hasna tentu sangat terkejut mendengarnya. Selama ini dia hanya mendengar kata Tuan Muda dari Bima. Hasna juga belum bisa memastikan jika Tuan Muda yang Bima katakan adalah pria yang telah menodai Anista malam itu.
"Ja..Jadi, Tuan adalah Tuan Muda yang selalu Tuan Bima katakan?" Tanya Hasna polos
Yudha tersenyum tipis "Iya, akulah pria di malam itu"
Hasna memang tidak mengetahui pria yang berada di dalam kamar 302 malam itu. Dia tidak melihat wajahnya.
"Jadi, apa yang Tuan inginkan dari saya?" Tanya Hasna takut
"Aku hanya ingin kau menemui gadis itu dan memastikan jika gadis itulah yang kau tolong. Dan kau tidak berbohong" jelas Yudha
"Tap...tapi, saya tidak tahu keberadaannya Tuan"
"Kau hanya perlu mendengarkan perintah dari Bima"
Setelah berkata seperti itu, Yudha langsung pergi dari apartemen itu. Membuat Hasna semakin bingung dengan keadaan ini.
Tuan dan Asistennya sama sama membingungkan.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga. Votenya jangan lupa biar aku semakin semangat