Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Obrolan Sepasang Suami Istri


__ADS_3

"Habisin dulu susunya Van" kata Anista saat melihat anaknya menyimpan kembali gelas berisi susu yang baru terminum sedikit itu.


"Gak mau Bunda, Evan gak suka sama baunya" kata bocah kecil itu


"Nanti kalau Daddy tahu, kamu pasti di omelin deh" kata Anista menatap gemas pada anaknya itu


Evan bersidekap dada, menatap Bundanya "Evan gak takut, lagian emang Evan gak terlalu suka sama bau susu"


Anista terkekeh melihat tingkah anaknya itu "Yaudah, sekarang ayok tidur biar Bunda temani. Besok sekolah"


Evan langsung berjalan ke arah Bundanya. Anista menggandeng anaknya dan membawanya ke kamar.


Anista membacakan cerita dan terus mengelus kepala Evan sampai anaknya itu terlelap. Anista mencium kening Evan dan menarik selimut sampai ke pinggangnya.


Anista turun dengan perlahan, takut jika anaknya akan terbangun. Dia mengelus dan mengecup kembali kepala anaknya sebelum dia berlalu ke luar kamar.


"Titip Evan ya Teh" kata Anista setelah keluar dari kamar Evan dan sudah mendapati Isni yang menunggunya di depan kamar Evan.


"Iya Nona"


Beginiliah rutinitas Anista setiap harinya. Jika suaminya belum pulang, maka dia akan menemani putranya itu tidur. Barulah setelah Evan terlelap, Isni yang akan menjaga putranya itu.


Anista berjalan ke ruang tamu, menunggu suaminya pulang bekerja. Hari ini Yudha kembali pulang terlambat. Memang akhir-akhir ini suaminya itu terlalu banyak pekerjaan.


Pak Danu datang menghampiri Anista "Lebih baik Nona tidur duluan saja"


Anista cemberut, mendengar Pak Danu memanggilnya seperti itu, terasa aneh dan tidak nyaman. Pak Danu itu selalu mengingatkan Anista pada Ayahnya.


"Jangan panggil gitu dong Pak" kata Anista cemberut kesal


Pak Danu tersenyum tipis "Baiklah, Nist tidur saja duluan. Biar saya yang menunggu Tuan Muda disini"


Anista memang sudah beberapa kali menguap, padahal waktu masih setengah sembilan malam. Tapi, dia sudah merasa mengantuk.


"Yaudah Pak, Nist tidur duluan ya" kata Anista beranjak dari duduknya


Pak Danu mengangguk "Selamat malam"


"Selamat malam juga, Pak"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...

__ADS_1


Tepat pukul 10 malam, Yudha baru sampai di rumahnya. Pak Danu langsung menyambutnya dan mengambil tas kerja juga jasnya.


"Istriku sudah tidur Pak?" Tanya Yudha sambil membuka sepatu dan kaos kakinya, menggantinya dengan sandal rumah yang sudah di siapkan oleh Pak Danu.


"Tadi Nona memaksa untuk menunggu Tuan. Tapi, saya menyuruhnya untuk tidur lebih dulu. Nona sepertinya kelelahan, sudah beberapa kali menguap" jelas Pak Danu


Yudha mengangguk mengerti, dia naik ke lantai atas dengan di ikuti Pak Danu di belakangnya yang membawa tas kerja dan jasnya.


"Sampai disini saja Pak" kata Yudha setelah sampai di depan pintu kamar utama


"Baik Tuan, selamat istirahat" kata Pak Danu mengangguk hormat


"Beristirahatlah Pak"


Yudha mengambil tas kerja dan juga jasnya dari tangan Pak Danu. Dia masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang tidur meringkuk kedinginan.


Kebiasaan buruk Anista jika tidur suka tidak memakai selimut. Pada akhirnya dia suka kedinginan sendiri seperti saat ini.


Yudha meraih remote pendingin ruangan dan mematikannya. Tidak ingin kesayangannya tidur dengan kedinginan. Yudha menarik selimut untuk menutupi tubuh Anista.


Cup


Yudha keluar dari ruang ganti setelah bersih-bersih dan berganti pakaian. Dia melihat istrinya sudah terbangun dan sedang duduk menyandar di tempat tidur.


Yudha segera menghampiri istrinya dan duduk di pinggir tempat tidur, tangannya mengelus kaki Anista yang berselonjor.


"Kenapa bangun Sayang?" Tanya Yudha lembut


"Kebangun aja Mas, maaf ya gak nungguin kamu di bawah" kata Anista sambil mengelus tangan suaminya yang berada di kakinya


"Gak papa, kalo ngantuk langsung tidur aja. Tidak perlu menungguku! Maaf ya aku pulang telat, lagi banyak kerjaan. Gara-gara si Bima yang malah mengurus percintaan nya itu" gerutu Yudha


Anista tersenyum kecil melihat suaminya yang menggerutu kesal pada sang Asisten. Tidak ingatkah dia juga sama dengan Asistennya jika menyangkut soal hati dan perasaan.


"Kamu juga dulu sering nyerahin pekerjaan kamu ke Bima loh Mas. Waktu kamu nyusul aku ke kampung, juga'kan Bima yang menghandle pekerjaanmu disini. Lagian sekarang'kan Bima ke luar kota juga bukan hanya urusan cinta dan perasaan, kata kamu juga ada kerjaan disana" kata Anista


Yudha beringsut naik ke atas tempat tidur dan memeluk dada Anista "Makanya jangan suka kabur-kaburan kayak gitu. Kamu gak tahu gimana paniknya aku pas kamu gak bisa aku temuin dimana-mana"


Anista mengelus tangan Yudha yang melingkar di dadanya "Abisnya kamu bentak-bentak aku si. Nist teh kan jadi takut"


"Maaf ya, aku janji gak bakalan ulangi kesalahan itu lagi. Aku benar-benar akan berubah Sayang" kata Yudha penuh kesungguhan

__ADS_1


Anista menoleh dan menatap wajah suaminya "Iya Mas, aku percaya kalo kamu bisa berubah. Lagian sekarang aku ngerti kok, kenapa dulu kamu begitu emosional. Itu karena pengaruh psikis kamu yang sedikit terganggu itu"


"Oh ya, kapan kamu chek up lagi Mas?" Tanya Anista


Yudha menyandarkan kepalanya dibahu sang istri "Aku sudah buat janji besok, aku'kan sudah lama menjalani terapi dan minum obat yang di berikan dokter. Aku ingin lihat bagaiamna perkembangan penyembuhannya"


"Aku ikut ya Mas"


Yudha mencium pipi istrinya itu, tangan mereka saling bertaut dan mengusap dengan jari-jemarinya.


"Tidak perlu Sayang"


Anista menoleh, menatap suaminya itu "Kenapa? Aku juga ingin tahu perkembangan penyembuhan kamu itu"


"Nanti kamu kelelahan, ingat perutmu sudah sebesar itu" kata Yudha sambil mengelus perut Anista


"Terus kenapa kalo perut aku besar? Kamu malu gitu bawa istri kamu yang gendut dan gak cantik ini?" kesal Anista


Sepertinya Yudha sudah salah bicara, lupa dengan apa yang pernah di katakan dokter jika Ibu hamil itu emosinya selalu berubah-ubah. Terlalu sensitif.


Yudha menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anista. Mencium dan menghirup aroma tubuh istrinya. Dia sedang mencari jawaban yang tepat untuk menjawab ucapan istrinya itu.


"Bukan begitu Sayang, perutmu yang buncit itu semakin membuatmu terlihat seksi. Aura kecantikanmu itu semakin terpancar, aku saja sangat sulit untuk mengendalikan gairahku bila melihat tubuh indahmu ini. Dan aku tidak mau jika di luar sana akan banyak pria sialan yang akan menatap kecantikanmu itu"


Gila.. Bahkan Yudha bisa mengeluarkan kata-kata begitu manis. Entah belajar darimana, yang jelas semua perkataan manis itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Aneh-aneh saja, perut buncit kok di bilang semakin cantik. Dasar mengada-ngada.


"Pokoknya aku tetap ingin ikut, lagian besok bisa sekalian untuk periksa kandunganku. Waktu pemeriksaan waktu itu'kan belum terlihat jenis kelaminnya. Nah besok'kan siapa tahu sudah bisa terlihat" kata Anista


Yudha berbinar, setiap kali mengantar istrinya periksa ke dokter kandungan. Maka selalu ada perasaan bahagia saat mendengar detak jantung bayinya dan juga melihat perkembangan anaknya di layar monitor. Dadanya selalu berdegup senang.


"Oh ya Mas, kamu ingin bayi ini perempuan atau laki-laki?" Tanya Anista


Yudha kembali mengelus perut istrinya "Aku tidak peduli mau laki-laki ataupun perempuan. Yang penting dia terlahir sempurna dan sehat. Bundanya juga sehat"


Anista tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya itu.


Bersambung


Jangan lupa like dan komen nya, kasih hadiahnya juga dong.. TerimakasihπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2