
Anista sampai di rumahnya setelah tadi cukup lama berada di rumah Bi Nenti. Anista mengerutkan keningnya saat melihat mobil mewah berada di pekarangan rumahnya. Dia ingat betul jika itu bukanlah mobil yang di pakai oleh Yudha.
Siapa lagi yang datang ke sini?
Anista terus berjalan melewati mobil yang terparkir di halaman rumahnya itu. Anista melihat seseorang sedang berdiri menyandar di bale rumahnya.
Tuan Bima.
"Ekhem. Assalamu'alaikum, Tuan Bima"
Bims mendongakan wajahnya yang dari tadi fokus pada ponselnya "Ehh. Anista, emmm.. Wa..waalaikumsalam"
"Ada apa Tuan kesini? Tuan Bima mau menjemput Tuan Yudha ya? Dia sedang keluar, tunggu saja" cerocos Anista
"Saya kesini ingin mengantar barang barang yang Tuan Muda butuhkan selama tinggal disini" kata Bima datar seperti biasanya
"Hah??" Anista sampai melongo mendengar ucapan Bima barusan "Bukannya Tuan Bima akan menjemput Tuan Muda?"
Bima menggeleng "Tidak, sepertinya Tuan Muda betah berada di sini dan akan lebih lama tinggal di sini"
Sampai kau mau ikut dengannya. Bima
Hah....
Anista menghela nafas kesal "Terserahlah"
Anista naik ke bale rumahnya lalu membuka kunci pintu rumahnya dan segera masuk.
"Masuklah, tunggu di dalam" kata Anista sebelum dia berlalu ke kamarnya
Bima tersenyum tipis dan dia pun masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana itu. Duduk di atas karpet plastik yang tersedia di sana. Hanya ada televisi kecil yang masih keluaran jaman dulu.
"Demi cinta bahkan Yudha sanggup tinggal di tempat seperti ini. Yahh aku tahu dulu juga Yudha pernah mengalami masa masa sulit ekonomi. Tapi tidak sampai seperti ini"
"Ya Tuhan betapa kurang bersyukurnya aku selama ini. Lihatlah bahkan ada yang kehidupan nya lebih susah dari padaku" lirih Bima
Meskipun Bima dulunya bukanlah dari kalangan orang kaya. Bahkan dia harus menghidupi dirinya sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Namun, kehidupan nya masih bisa di sebut layak di bandingkan kehidupan Anista saat ini.
Begitupun dengan Yudha, meski dulu orang tuanya tidak sekaya sekarang. Ayahnya masih berusaha merintis usahanya yang tentunya masih banyak rintangan rintangan lainnya.
Namun, hidup Yudha tidak seperti kehidupan Anista. Hidupnya masih di sebut layak, sangat layak jika di bandingkan dengan keadaan Anista.
__ADS_1
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Kita pulang sekarang ya, nanti Bunda marah kalo pulang nya ke sorean" ajak Yudha
"Iya Om"
"Udah puas mainnya kan?" Yudha mengelus kepala anaknya itu
Evan mengangguk penuh semangat "Seneng banget Om, Evan udah puas mainnya. Sekarang kita pulang aja, nanti Bunda marah"
Yudha mengangguk dan langsung menuntun tangan bocah itu "Oke"
Dengan menempuh waktu kurang lebih satu jam akhirnya Yudha bisa membawa jalan jalan anaknya ke mall di kota ini. Meskipun tidak sebersar mal mal di Ibu kota.
Tapi setidaknya Yudha bisa membuat anaknya bahagia dengan membawanya ke tempat bermain juga membelikan nya mainan dan baju baju baru.
Yudha juga membelikan beberapa potong baju untuk Anista. Tidak peduli dia akan menyuakainya atau tidak.
"Udah sampai deh, ayo turun" kata Yudha
Yudha pun turun dengan membawa belanjaan Evan dan juga menuntun Evan. Tersenyum saat melihat mobil Bima sudah terparkir di sana.
"Bundaaaa.. Bundaaa... Evan pulang... Bundaaa" teriak Evan sambil membuka sepatunya di bale rumah.
"Apasi Nak, gak usah teriak teriak malu sama tetangga ihh"
Anista muncul dari dalam rumah sambil mengomel pada anaknya itu. Pemandangan yang indah menurut Yudha. Terlihat jelas kasih sayang yang besar antara seorang Ibu dan anak. Hal yang belum pernah Yudha lihat dari mantan istrinya dulu.
"Ayo masuk, sudah sore. Mandi dulu kamu" kata Anista sambil membantu anaknya membuka sepatu
"Evan mau buka mainan yang tadi di beliin Om dulu Bunda" rengek Evan
"Iya nanti kita buka, sekarang Evan harus mandi dulu" kata Anista lembut sambil mengelus kepala anaknya.
Evan pun langsung mengangguk menuruti perkataan Bundanya. Yudha tersenyum lucu melihat anaknya yang begitu menurut pada ibunya itu.
Sepertinya kita akan mempunyai kelemahan yang sama, Van. Wanita yang sangat kita sayangi adalah kelemahan kita.
"Aku gak di ajak masuk Sayang?" Tanya Yudha saat melihat Anista sudah berdiri dengan menggendong Evan
"Ya masuk saja kalo mau masuk, bukan anak kecil ini" kata Anista cuek
__ADS_1
Hah...
Yudha hanya menghela nafas, dia pun masuk ke dalam rumah itu melihat Bima yang duduk di ruang tengah. Sedang memainkan ponselnya.
"Bim, kapan kau sampai?" Yudha duduk di samping Bima
Bima menoleh "Tadi siang, semua yang kau perlukan sudah ada di dalam mobil. Aku juga sudah memesankan penginapan terdekat dari sini. Tapi, fasilitasnya..."
"Tak apa, aku ngerti kok karna disini ada penginapan saja sudah sangat bersyukur. Lihatlah ini benar benar kampung" kata Yudha sambil melihat ke sekeliling nya.
"Apa saja yang kau beli?" Tanya Bima sambil melirik paper bag yang di bawa oleh Yudha
"Mainan dan beberapa pakaian untuk Evan juga Anista. Nanti biar aku belikan lagi saja jika sudah di kota." Jelas Yudha
Bima mengangguk mengerti "Apa dia akan mau kembali bersamamu?"
Yudha menepuk bahu Bima "Aku akan terus berusaha sampai dia mau. Tak peduli seberapa lama pun aku akan terus memperjuangkan nya"
"Mengingat bagaiamana perjuangan dia selama ini untuk membesarkan anaku. Aku ingin menebusnya dengan memberikan kebahagiaan untuknya dan Evan" kata Yudha penuh dengan keyakinan
Bima tersenyum "Perjuangkanlah dia sampai kau mendapatkan nya"
Yudha mengangguk "Ohya, bagaimana dengan wanita yang kau ceritakan itu padaku?"
"Sepertinya dia akan kembali dulu ke kotanya. Biar nanti aku akan menjemputnya kembali setelah kau dan Anista kembali ke Ibu kota. Kau tenang saja wanita itu tidak akan melarikan diri. Aku jamin itu" jelas Bima
Yudha tersenyum puas "Kau memang paling bisa di andalkan Bim"
"Sepertinya aku tidak bisa lama lama disini Yudh. Karna aku harus mengurus perusahaan selama kau berada disini"
Yudha mengangguk "Iya, terimakasih sudah menemaniku selama ini. Dan tolong kau perhatikan keadaan Safira. Selama aku disini dia akan bersama Omanya dulu"
"Iya"
Karna masih banyak pekerjaan yang harus Bima urus di perusahaan sebagai pengganti Yudha yang sedang mengejar cinta masa depan nya. Bima pun kembali ke kota hari ini juga.
"Terimakasih untuk semuanya Bim" kata Yudha sambil menepuk bahu Bima
"Tidak masalah, cepatlah bawa anak dan ibunya ke kota"
Yudha mengangguk cepat "Pasti akan segera aku bawa mereka bersamaku"
__ADS_1
Bersambung
Up lebih awal nih.. ayo dong dukungan nya.. Like, komen sama kasih hadiahnya jg.. Vote juga karya aku yang ini ya.. Biar lebih semangat.. 🤗🤗