
Malam harinya Yudha pulang ke rumah, terlihat lelah sekali. Anista yang sedang membantu pelayan untuk menyiapkan makan malam di meja makan melirik sekilas ke arah Yudha yang sedang berjalan menuju ruang keluarga.
Karunya pisan atuh Tuan Yudha teh, sepertinya beban hidupnya sangat berat.
(Kasian sekali Tuan Yudha, sepertinya beban hidupnya sangat berat)
"Nist, tolong bilang pada Tuan Yudha jika makan malam sudah siap" kata kepala pelayan
Anista mengangguk "Iya"
Anista berjalan menuju ruang keluarga dimana Yudha sedang duduk menyandar di sofa. Matanya terpejam, terlihat sekali sangat lelah dari wajahnya. Anista menjadi ragu untuk menggangu Tuannya yang kelihatan nya sedang tertidur.
Bangunin gak ya?? Kalu di bangunin takut marah, kalau enggak juga kasihan kan belum makan malam.
Anista berjalan dengan perlahan ke samping Yudha, duduk di sofa yang sama dengan Tuannya. Lama Anista bimbang untuk membangunkan Yudha atau tidak. Melihat bagaimana Yudha tidak terusik sama sekali dengan pergerakan nya.
"Bangunin gak ya?" Lirihnya
Refleks begitu saja tangan Anista terangkat dan merapikan rambut Yudha yang berantakan dan mengenai matanya, terlihat sangat mengganggu.
"Kalau saja kamu teh gak dingin kaya es batu, udah pasti Nist bakalan jatuh cinta sama ketampanan kamu ini. Tapi, sayang kamu bukan tipe Nist" kata Anista tanpa sadar dengan ucapan nya
Anista langsung menggeleng cepat saat fikirannya yang mulai melayang kemana mana. Apaan si Nist, kamu teh harus sadar siapa diri kamu. Lagian kamu itu hanya perlu fokus untuk membesarkan Evan dengan baik.
Ya semenjak kehadiran Evan di kehidupan Anista, semua tujuan hidup Anista hanya untuk Evan. Tidak ada lagi tujuan lain selain memberikan yang terbaik untuk bocah kecil itu.
Evan adalah anugerah untuknya, Evan bagaikan malaikat kecil yang menolongnya di saat dia hampir putus asa dengan hidupnya.
"Hmmm"
Anista menoleh kaget saat mendengar lenguhan dari seseorang di sebelahnya. Refleks tangannya langsung mengelus lembut kepala Yudha, agar pria tampan itu kembali tertidur. Lama dia mengelus kepala Yudha sampai sang empunya kembali tertidur.
"Sepertinya Tuan Muda Yudha memang sangat lelah. Biarkan saja dia tidur dulu, biar nanti aku bangunin aja sebentar lagi"
Anista pun beranjak dari duduknya, berniat akan kembali ke ruang makan untuk memberi tahukan pada kepala pelayan jika Tuan mereka sedang tertidur pulas.
Namun saat baru saja Anista ingin melangkah, tiba tiba tangan nya di tahan oleh tangan kekar. Anista menoleh ke arab Tuannya yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Mau kemana?" Tanya Yudha
"Saya di suruh Pak Danu untuk memberi tahukan jika makan malam sudah siap. Ta..tapi, saya tidak tega membangunkan Tuan" jelas Anista sedikit gugup dan tegang
"Ohhh" Yudha mengangguk dengan senyum jahilnya "Kamu yakin saya ini bukan tipe kamu?"
Deg
Anista terbelalak kaget saat mendengar pertanyaan Yudha. Mungkinkah Yudha hanya pura pura tidur dan mendengar segala celotehan dan apa yang di lakukannya dari tadi.
Dia tahu??
__ADS_1
Anista melepas dengan perlahan tangan Yudha yang masih mencekal pergelangan tangan kirinya.
"Saya permisi dulu Tuan" kata Anista
Tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini, Anista lebih memilih segera pergi dari hadapan Yudha. Apalagi melihat senyum meremehkan dari Yudha yang dia lihat tadi.
Kenapa Nist teh sampai tertipu kalau dia hanya berpura pura tidur. Arghhhh...
Anista berjalan cepat sambil menundukan kepalanya sampai dia tidak benar benar memperhatikan langkah kakinya yang tidak sengaja tersandung kaki meja.
"Aduhhh sakittt"
Anista segera menutup mulutnya yang refleks berteriak karna kakinya yang tersandung kaki meja. Melihat sekilas ke arah Yudha yang menatapnya sambil tersenyum.
Segera Anista berlari dengan kaki yang sedikit pincang. Kenapa malah salah tingkah gini si Nist?? Huhh
Yudha berjalan menuju kamarnya sambil senyum senyum sendiri. Entahlah kenapa dia bisa sebahagia ini melihat tingkah konyol pengasuh anaknya itu.
Sial.. Kenapa dengan aku?? Kenapa aku bisa sebahagia ini hanya melihat tingkah konyol dia dan apa yang dia lakukan padaku tadi.
Ya, Yudha sadar saat tangan Anista mengelus lembut kepalanya dan entah kenapa semua yang di lakukan Anista terasa sangat nyaman untuk Yudha.
Sial.. aku tidak boleh sampai terlibat scandal dengan pengasuh anaku. Bisa bisa nama baik keluarga Walton akan tercemar.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Yudha sudah selesai mandi dan sekarang dia sudah berada di ruang makan "Dimana gadis itu?"
"Hmmm"
"Sudah masuk ke kamarnya Tuan, mungkin karna Nona kecil sedang tidak ada disini" jelas Pak Danu
Yudha duduk di kursi meja makan yang biasa dia tempati "Panggilkan dia"
"Untuk ap..."
"Panggilkan dia" perintah Yudha kedua kalinya saat Pak Danu belum selesai bicara
"Baik Tuan"
Anista merasa bingung saat tiba tiba Pak Danu menintanya kembali ke ruang makan. Padahal dia sudah makan malam tadi bersama semua pelayan di rumah belakang.
Ada apa si? Kok Nist teh sampe di suruh ke ruang makan lagi.
Meski bingun Anista tetap melanjutkan langkah kakinya menuju ruang makan. Sampai disana dia langsung terdiam mematung saat melihat Tuannya yang saat ini sedang dia hindari karna kejadian beberapa menit yang lalu.
Aduh.. dia teh mau apa ya?? Apa jangan jangan mau pecat Nist, karna Anis teh udah lancang ngelus ngelus kepala dia tadi.
"Tuan, ada apa ya Tuan memanggil saya?" Tanya Anista setelah mengangguk hormat
__ADS_1
"Ekhem" Yudha melipat kedua tangannya di atas dada, menatap Anista dengan tatapan yang sulit di artikan "Buatkan saya nasi goreng"
Anista langsung mendongak "Tap...tapi kan Tuan, makanan di meja juga masih utuh"
Anista menatap sayang pada makanan yang sudah tersaji sejak tadi di meja makan. Tentu saja makanan yang belum pernah dia cicipi sama sekali.
"Saya bilang, buatkan saya nasi goreng. Faham!!" Kata Yudha dingin
Anista langsung mengangguk saat menatap wajah Yudha yang terlihat tidak suka saat Anista membantah perintahnya.
"Saya akan buatkan nasi goreng, Tuan."
Segera Anista membuatkan nasi goreng untuk Tuannya. Sementara Yudha hanya menatap punggung mungil yang sedang mengaduk nasi goreng di wajan.
Setelah selesai, Ansita segera menyajikan nya di meja makan "Ini nasi goreng yang selalu saya buat di kampung, Tuan"
Yudha mengerutkan keningnya menatap sepiring nasi goreng yang di buatkan oleh pengasuh anaknya itu.
"Kenapa warnanya kuning?"
Anista tersenyum "Saya memakai kunyit untuk perwana nya, juga bawang putih dan bawang merahnya saya ulek halus Tuan"
"Baru kali ini saya melihat nasi goreng berwarna kuning" kata Yudha jujur dan juga penasaran dengan rasanya
"Silahkan di coba Tuan" kata Anista ramah
"Kau tidak berniat meracuniku kan?" Tanya Yudha dengan mata menyipit
Anista menarik salah satu kursi meja makan dan duduk di sana "Tuan cobalah dulu"
Yudha menyendok nasi goreng itu dan menyodorkan nya ke mulur Anista "Makan!! Aku ingin membuktukan jika kau tidak meracuniku"
Nih orang teh bener bener ya.
Dengan tersenyum masam Anista memakan suapan dari Yudha, mengunyahnya dan menelan nya dengan sangat nikmat memang nasi goreng itu enak.
"Sudah Tuan, dan saya tidak kenapa napa kan?" Kata Anista
"Hmm"
Akhirnya Yudha pun mencoba makan nasi goreng itu dengan sendok bekas Anista, dia tidak berniat menggantinya atau mungkin lupa.
Enak sekali nasi goreng ini. Yudha
Apa Dia gk jijik makan pakai sendok bekas mulut aku?. Anista
Nyatanya nasi goreng itu habis di makan oleh Yudha dengan lahapnya.
Doyan juga kan nasi goreng buatan ku. Huh.. makanya jangan suka mengejek dulu.
__ADS_1
Bersambung