Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Di Kamar Mandi


__ADS_3

Saat ini akhirnya tiba juga, saat dimana Yudha dan Anista harus rela melepaskan Safira bersama keluarga kandungnya.


Anista yang selalu menguatkan Yudha dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Kini nyatanya malah dia yang sudah terisak dan masih memeluk Safira erat.


"Nda dangan nangis" kata balita itu


Anista mengusap air matanya, meski masih terus mengalir dan terisak "Fira harus sering-sering datang ke sini ya. Temui Bunda"


Safira mengangguk cepat "Iya Nda, Fiya akan cini temu Nda"


Anista kembali memeluknya dan mencium seluruh bagian wajah Safira. Bahkan Yudha yang selama ini bersama Safira dari anak itu masih dalam kandungan. Tidak sesedih Anista, dia mulai bisa menerima kenyataan yang ada.


"Kami tidak akan melarang Safira untuk datang ke sini atau kalian yang datang ke rumah kami. Sekarang kita adalah keluarga" kata Nyonya Indri, Neneknya Safira


"Baik Jeng, kita adalah keluarga" kata Varinda sambil memeluk mantan besannya itu.


Di sisi lain ada dua anak laki-laki berbeda usia yang menatap kepergian itu dengan tatapan datar dan biasa saja.


"Bunda lebay deh, lagian Safira masih bisa datang kesini. Kenapa sampai menangis seperti itu" kata Evan


Hisyam melirik Evan "Dasar bocah, kau tidak mengerti keadaannya ya"


"Ck. Aku ini tidak bodoh, aku tahu kok kalo Safira bukan anaknya Daddy" kata Evan santai


"Kau tahu, tapi kenapa kau bisa tahu?" Tanya Hisyam


"Salahkan saja mereka, suka bermesraan di mana saja. Dan bicara soal Safira pun suka seenaknya, alhasil aku jadi tahu"


Hisyam hanya menggelengkan kepalanya. Benar-benar bocah cerdas. Tapi juga menyebalkan!


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Semuanya kini tengah menatap kepergian Safira. Mobil yang di tumpangi oleh Safira mulai melaju dan keluar dari gerbang rumah Yudha.


Anista masih sesenggukan di dalam pelukan suaminya. Nyonya Varinda terlihat lebih tegar, dia sudah menghabiskan waktu bersama Safira selama seminggu ini. Setidaknya Safira masih bisa bertemu mereka kapan pun dia mau.


Hasna mengusap ujung matanya yang berair. Dia tidak ada bedanya dengan Anista. Sudah terisak sejak tadi, tapi Hasna sudah mulai menghentikan tangisannya.


"Udah Nist, jangan nangis terus" kata Hasna


"Hiks.. Aku sedih Na, Fira itu aku asuh dari dia kecil dan belum bisa jalan. Sekarang malah harus pergi meninggalkan rumah ini" kata Anista masih terisak


Hasna menepuk pelan pundak sahabatnya itu "Iya aku tau perasaan kamu. Tapi, gak baik juga kalo sedih berkepanjangan"


Anista menghembuskan nafas kasar, dia hapus sisa air matanya. Benar apa yang di katakan Hasna, dia tidak boleh terus bersedih seperti ini.


Yudha membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Anista masih terlihat sedih dengan kepergian Safira.


"Sudah Sayang, Fira akan baik-baik saja bersama keluarganya. Bima sudah memastikan jika Safira akan mereka rawat dengan baik dan tidak akan kekurangan kasih sayang. Kau tentu percaya pada itu'kan" kata Yudha

__ADS_1


Hah...


Lagi-lagi Anista menghembuskan nafas kasar. Ya, dia tahu dan yakin jika Kakek dan Neneknya Safira pasti akan merawat dan menyayangi cucu mereka dengan baik. Apalagi Bima telah meyakinkan hal itu. Tentu saja Anista percaya.


Tapi, tetap saja dia merasa sangat sedih saat anak asuhnya harus pergi dari rumah ini.


Anista menyandarkan kepalanya di bahu suaminya "Masih sedih aja, Safira harus pergi dari rumah ini. Padahal dia dari bayi tinggal disini dan selalu bersama kamu, Mas"


Yudha mengecup kepala Anista yang bersandar di bahunya "Sudahlah, aku sudah bisa menerima kenyataan ini. Setidaknya, aku masih punya kamu, Evan dan calon bayi kita yang masih berada di sampingku dan akan selalu menjadi kekuatanku"


Anista mengelus perutnya "Tapi, kapan-kapan kita harus menemui Safira ya Mas. Baru beberapa jam aja aku sudah merasa kangen"


"Kemarin-kemarin aja mendiamkan suamimu apa kau tidak merasa rindu? Aku yang hampir gila karena sikapmu itu. Meskipun aku tahu jika aku yang salah" kata Yudha


Anista tersenyum "Kamu'kan emang udah tergila gila sama aku. Hehe"


Yudha mencubit gemas hidung mungil Anista "Bisa banget ya jawabnya. Jangan kayak gitu lagi, aku paling gak bisa kamu diemin kayak gitu"


"Salah sendiri"


Yudha mendengus kesal mendengar jawaban istrinya yang terlalu jujur itu.


"Kemarin-kemarin aja sok nguatin aku. Terus selalu nanya, 'Mas gak papa?' Ehh malah kamu yang sedih sampe nangis sesenggukan gitu" kata Yudha sambil terkekeh


Anista memukul paha suaminya dengan kesal "Kamu gak sedih emang? Aku'kan gak bisa nahan air mata aku pas lihat Safira di bawa sama Kakek Neneknya"


"Jadi untuk apa terlalu bersedih" kata Yudha


"Sudahlah, Nist teh mau mandi"


Anista bangun dari duduknya, tapi langkahnya langsung terhenti karena cekalan di tangan kirinya.


"Apasi Mas?" Tanya Anista tanpa menoleh ke arah suaminya, sepertinya Anista sudah mengetahui maksud tertentu dari suaminya ini.


"Mandi bareng, udah lama aku gak mandi bareng kamu" kata Yudha "Eittt.. Tidak ada penolakan Sayang"


Hah..


Anista menghela nafas kasar saat suaminya sudah menebak apa yang akan dia katakan. Akhirnya mau tidak mau Anista harus menuruti keinginan suaminya.


Yudha menariknya ke dalam kamar mandi dan langsung mengunci pintu.


"Hanya mandi ya, ingat aku lagi hamil muda dan belum di izinkan untuk melakukan itu"


"Iya, aku mengerti. Tapi sampai kapan?"


"Tunggu saja sampai lahiran"


"Kau gila? Bisa mati aku"

__ADS_1


"Hahaha.. Kenapa bisa mati?"


"Sayangggg"


"Sudah, mandi mandi... Jangan aneh aneh"


Suara gemercik air dan perdebatan sepasang suami istri itu terdengar saling bersahutan.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Dua orang yang keluar dari ruang ganti dengan ekspresi berbeda. Si pria yang terlihat segar bugar dan begitu berseri seri. Sementara si wanita yang terlihat kesal setelah kejadian di dalam kamar mandi itu.


Anista duduk di depan meja rias "Tangan aku sampe pegel Mas, terus dingin banget lagi lama-lama di kamar mandi"


Yudha tersenyum sambil berjalan menghampiri istrinya yang siap untuk mengeringkan rambutnya.


"Maaf Sayang, salah kamu sendiri telah membangunkannya. Jadi, ya harus tanggung jawab menidurkannya kembali dong" kata Yudha santai


Dasar gila.. Eh dosa ngatain suami sendiri.


Anista hanya mendengus kesal, tangannya benar-benar terasa pegal saat harus menuruti keinginan suaminya itu. Belum lagi leher dan dadanya yang di penuhi stempel milik Yudha.


"Sudah, sini biar aku yang keringkan rambut kamu"


Yudha mengambil hair dryer di tangan istrinya. Yudha mulai mengeringkan rambut istrinya sampai benar-benar kering.


Anista masih saja cemberut kesal karena kelakuan suaminya itu. Dia tidak sadar jika ekspresi wajahnya itu justru malah membuat Yudha semakin di buat gemas.


Menggemaskan sekali si istriku ini.


"Nah sudah kering, sekarang kamu tidur saja. Pasti kelelahan gara-gara menenangkan jagoanku" kata Yudha di akhiri kekehan kecil


"Gak usah di bahas!" ketus Anista


Anista berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Merebahkan tubuh lelahnya disana.


"Yang bener tiduran nya, Sayang"


Yudha menggendong istrinya dan membenarkan posisi tidurnya. Setelah memastikan istrinya nyaman, barulah dia ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Anista.


"Tidur siang dulu, pasti lelahkan"


Iyalah aku lelah gara-gara kamu.


Yudha menarik selimut untuk mereka berdua. Menarik Anista ke dalam pelukannya lalu terlelap bersama.


Bersambung


Jangan lupa, Like komen dan Votenya.

__ADS_1


__ADS_2