
"Sayang tadi kamu bilang anak anak sama Mami? Kamu beneran?" Tanya Yudha
Anista tersenyum "Iya Mas, ngapain juga aku bohong"
Yudha masih merasa tidak percaya, kalau hanya menjaga Safira. Yudha bisa saja mempercayainya, tapi ini Evan. Anak yang lahir tanpa Ibunya ketahui dan tadi dia melihat bagaimana Ibunya menentang keras hubungannya dengan Anista.
"Beneran? Aku masih gak percaya ahh"
"Mami kamu itu gak seburuk yang kamu fikirkan Mas. Dia juga seorang Ibu yang pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja caranya yang salah"
"Tapi, Mami itu keras. Dia sangat sulit untuk di tentang" kata Yudha
"Anista menggenggam tangan kiri Yudha, mengelusnya lembut "Itu karna kamu salah, harusnya kamu bukan menentangnya. Tapi, berikan pengertian sama Mami kamu. Aku yakin kalo kalian itu jarang berkomunikasi" kata Anista
Yudha terdiam, benar apa yang di katakan Anista. Hubungan dia dan Varinda memang tidak sehangat hubungan Ibu dan anak pada umumnya.
Apalagi setelah Ibunya memutuskan untuk menikah lagi. Yudha semakin menjauhinya dan sangat irit bicara. Bahkan Yudha sudah tidak tinggal serumah sejak Ibunya mempunyai hubungan dengan suaminya sekarang.
"Aku tahu posisi kamu Mas, tapi setidaknya cobalah kamu melihat dari sudut pandang Mami kamu. Dia menikah lagi karna dia juga butuh pendamping hidup yang selalu ada di dekatnya dan menemaninya apapun yang terjadi"
"Coba Mas bayangkan, jika Mami gak menikah lagi lalu saat kamu pergi dan memilih tinggal sendiri. Mami kamu pasti akan kesepian"
Anista mencoba memberi pengertian pada Yudha. Dia ingin hubungan Ibu dan anak ini kembali membaik.
Yudha mencium kening Anista, dia tidak menjawab apapun. Hanya memeluk wanitanya ini tanpa ingin mengatakan apapun.
Anista cukup mengerti, mungkin Yudha masih butuh banyak waktu untuk memikirkan apa yang di katakan olehnya.
Tok tok tok
"Bundaa... Daddy"
Anista melepaskan pelukannya "Iya Nak, tunggu sebentar"
Anista berjalan ke arah pintu kamar dan membukakan pintu kamar. Evan langsung menerobos masuk dan melihat keadaan Ayahnya. Sejak tadi Evan belum bertemu kembali dengan Ayahnya.
"Daddy, tangan Daddy kenapa?" Tanya Evan
Anista kembali menutup pintu dan berbalik. Dia tersenyum melihat anaknya begitu mengkhawatirkan Ayahnya.
Yudha tersenyum, dia mengelus puncak kepala Evan "Daddy tidak papa, ini hanya luka kecil"
__ADS_1
Evan naik ke atas tempat tidur dan duduk di sana "Kata Oma, ayo kita makan malam dulu"
"Oma?"
Yudha mengerutkan keningnya dan menoleh menatap pada Anista seolah minta penjelasan siapa yang di maksud oleh anaknya.
Anista tersenyum "Iya Mas, Mami kamu sudah mengenalkan dirinya sebagai Omanya Evan"
Yudha merasa tidak percaya dengan semua yang di dengar dari Anista. Benarkah Ibunya telah berubah?
"Sudahlah kalo Mas gak percaya, kita lihat langsung saja yuk" kata Anista
Akhirnya mereka pun keluar dari kamar menuju ruang makan di lantai bawah. Di sana sudah ada Varinda dan suaminya. Makan malam telah tertata rapih di atas meja makan.
"Yudh, gimana keadaan kamu? Ayo makan Nak"
Varinda begitu antusias saat melihat anaknya, meskipun Yudha hanya diam dan tidak merespon ucapan Ibunya itu. Tapi, Varinda cukup mengerti kenapa anaknya bersikap seperti ini.
Anista memegang tangan Yudha membuat laki laki itu menoleh dan mengangkat satu alisnya. Anista menggerakan dagunya seolah memberi isyarat jika Yudha harus menyapa Ibunya.
"Hmm"
Varinda tersenyum sedih saat Yudha hanya berdehem menanggapi pertanyaan nya. Tak apalah, salah aku juga yang membuat anaku menjadi seperti ini.
"Hmm"
Lagi lagi hanya itu yang keluar dari mulut Yudha. Seolah mulutnya terkunci dan tidak ingin banyak bicara.
Anista menghela nafas, mungkin Yudha masih butuh banyak waktu untuk bisa merubah sikapnya pada orang tuanya.
"Safira dimana, Nyonya?" Tanya Anista hati hati, meskipun dia sudah melihat langsung jika Varinda mulai melembut padanya. Namun, dia masih tetap tidak berani memanggilnya Ibu atau tanteu.
"Dia sudah tidur bersama pengasuh" jawab Varinda
Anista mengangguk mengerti, lalu tatapan nya beralih pada Evan yang sudah duduk anteng di kursi meja makan "Evan mau makan sama apa?"
"Ayam saja Bunda"
Anista segera mengambilkan makanan untuk Evan. Namun sebelum dia memberikan piring yang sudah diisi dengan makanan. Gerakan tangannya terhenti saat tangan Varinda memegang piring itu.
"Oma tambahkan sayur ya, kamu itu harus banyak banyak makan sayur biar sehat dan pintar" kata Varinda sambil mengambilkan sayur ke piring itu.
__ADS_1
Anista tersenyum melihat perhatian dari Nyonya Varinda. Anista pun menyimpan piring berisi makanan itu di depan Evan.
"Bilang terimakasih pada Oma" kata Anista
"Terimakasih Oma" kata Evan
Varinda mengangguk dan tersenyum tipis. Varinda pun mengambil piring kosong dan mengisi makanan untuk putranya.
"Sayang, ambilkan aku makanan nya" kata Yudha saat Varinda telah menyodorkan piring yang telah terisi oleh makanan kesukaannya.
Varinda terdiam dengan hati yang begitu sakit melihat dengan jelas penolakan yang di lakukan oleh anaknya sendiri.
Anista merasa serba salah dengan situasi ini. Dia mengambil piring yang masih mengambang di depan Yudha.
Anista menyimpan piring berisi makanan itu tepat di depan Yudha "Aku'kan gak tau makanan kesukaan kamu. Jadi, kamu makan ini ya. Nanti biar aku tanya sama Mami kamu apa saja makanan kesukaan kamu"
Varinda kembali duduk di kursinya, bibirnya tersenyum tipis. Terimakasih, kau memang pantas untuk menjadi mennatuku.
Yudha menghela nafas dan akhirnya dia memakan makanan yang di ambilkan oleh Ibunya.
Anista tersenyum, setidaknya dia bisa membuat sedikit demi sedikit hubungan Ibu dan anak yang renggang ini menjadi lebih dekat lagi.
Anista memakan makan malamnya sambil sesekali dia tersenyum tipis. Ya Allah semoga mereka bisa kembali berhubungan baik selayaknya Ibu dan anak.
"Aku sudah selesai"
Yudha mengambil tisu dan mengelap bibirnya, dia langsung berdiri dari duduknya. Anista menatap calon suaminya itu, menghela nafas dalam saat Yudha masih saja bersikap dingin pada Ibu dan Ayah tirinya.
"Habiskan makananmu, setelah itu temui aku di kamar"
Anista tahu jika Yudha berbicara padanya, dia mengangguk dengan perasaan tidak enak dengan kedua orang tua Yudha.
Setelah berkata seperti itu Yudha langsung pergi. Anista menatap tidak enak pada Varinda dan suaminya.
Sementara Evan masih anteng dengan makanan nya. Bocah kecil itu sama sekali tidak terusik dengan keadaan di sekitarnya.
"Sudahlah, kamu turuti apa yang di katakan Yudha. Sepertinya dia masih butuh waktu, berilah dia pengertian" kata Ayah David
Anista mengangguk "Saya akan mencoba memberinya pengertian"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen nya.. 🤗