Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Panggilan Baru


__ADS_3

Sepertinya Anista harus terbiasa dengan setatus barunya dengan Yudha. Bahkan dia harus kebal dengan tatapan merendagkan dari para pekerja lainnya.


Mungkin jika aku jadi mereka, aku juga sama bingungnya.


Itulah kata yang selalu menguatkan Anista agar tidak banyak mengeluh dengan sikap para seniornya yang bekerja di rumah mewah ini.


Apalagi saat Yudha yang tidak lagi menutupi hubungan di antara mereka. Bahkan Yudha sudah berani memanggilnya sayang di depan para pekerja yang lainnya.


Mungkin memang mereka tidak berani berbicara dan menanyakan nya pada Anista. Karna aturan di rumah ini yang tidak boleh ikut campur atau berani membicarakan tentang Tuannya apapun yang terjadi dengan Tuannya itu.


Mereka harus siap tutup telinga dan tutup mata. Itulah yang pernah Anista dengar dari Bima saat pertama kali dia bekerja di rumah ini.


Yudha datang dengan senyum sumringahnya. Dia menggendong Safira karna tadi dia menyuruh Anista untuk memasakan sarapan untuknya dan sebagai gantinya dia yang menjaga Safira.


Sepertinya Yudha telah merasa candu dengan masakan Anista. Padahal Anista hanya selalu memasak makanan makanan rumahan atau cenderung ke makanan kampung.


"Sudah selesai?" Tanya Yudha


Anista mengangguk "Sudah, sini Fira biar sama aku"


Yudha menyerahkan Safira pada gendongan Anista "Kau makanlah bersamaku, Safira bisa di titipkan pada Bu Lia"


Anista menggeleng "Aku belum mau sarapan, nanti aja. Tuan duluan saja"


Yudha yang baru saja akan mengambil nasi pada piringnya langsung menghentikan gerakannya dan menatap tajam pada Anista.


"Gak ada lagi kata Tuan, Sayang" kata Yudha penuh penekanan


Anista menghela nafas "Baiklah, aku tadi keceplosan"


"Jangan ulangi lagi" tegas Yudha


Anista mengangguk saja, bisa runyam jika dia terus berdebat dengan Yudha. Bisa bisa prianya tidak jadi berangkat bekerja karna terus mendebatkan hal yang sama.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Yudha yang dulu selalu memikirkan pekerjaan dan lupa waktu karna pekerjaan nya. Yudha selalu gila kerja; bahkan melupakan kesehatannya sendiri.


Tapi, sekarang Yudha sudah bisa mengatur waktunya. Dia bahkan sering pulang cepat hanya karna ingin bertemu dua wanita yang kini sangat berharga di hidupnya.


Papi do'akan dialah yang terbaik untuk aku dan Safira.


Kehilangan ayahnya diusia yang masih sangat muda membuat Yudha merasa sangat terpukul. Dia harus menangung semua beban di usianya yang masih sangat muda.

__ADS_1


Namun, sekarang Yudha mulai bisa menerima kenyataan ini. Mungkin inilah ujian yang Tuhan berikan padanya hanya untuk mendewasakan nya.


Anista sedang bermain dengan Safira di taman belakang. Safira sudah mulai lancar dalam berjalan. Anista terus membimbing Safira untuk terus berjalan.


Hari ini Yudha kembali pulang cepat, dia tersenyum melihat pemandangan indah yang menyambutnya sore ini. Yudha berjalan menghampiri mereka.


"Anaknya Daddy udah pinter berjalan ya" kata Yudha tersenyum bahagia


Anista menoleh dan tersenyum "Sudah pulang, Mas"


Huh.. Ademnya saat dia memanggilku seperti itu. Yudha


"Heem. Fira gak rewel kan?" Yudha mengelus kepala Anista lalu mencium puncak kepala wanitanya itu


"Enggak, dia baik banget kok gak rewel" kata Anista tersenyum


Yudha menggendong Safira dan mencium pipinya dengan gemas "Pintarnya anak Daddy. Jangan suka repotin Mommy mu ya"


Heh.. Apaan tuh Mommy? Gak cocok banget kalo panggilan itu teh buat Nist.


"Siapa Mommy?" Tanya Anista polos


"Ya kamulah sayang, siapa lagi yang jadi Mommy nya Fira" kata Yudha tersenyum gemas melihat wajah polos Anista


Yudha mengangkat salah satu alisnya, bingung "Kenapa?"


"Ya kan biasanya kalo yang di panggil Mommy mah orang bule. Nist mah orang kampung, gak pantes atuh" jelas Anista apa adanya


Yudha terkekeh lucu mendengarnya "Kamu ini ada ada aja deh, yaudah kamu maunya di panggil apa?"


"Kan biasanya juga Safira teh manggil Nist, Teteh" kata Anista


"Teteh?"


"Iya Teteh itu Kakak" jelas Anista


Yudha menggeleng cepat "Kamu itu calon istriku yang berarti bakalan jadi Ibunya Safira. Gak boleh manggil gitu, kamu bukan kakaknya Safira"


Yey. Tapi'kan Nist teh masih pantes dipanggil kakak. Hehe


"Yaudah kalo gitu jangan Mommy manggilnya tapi" kata Anista


"Iya sayang, terserah kamu. Senyaman nya kamu aja" kata Yudha tersenyum dan mengelus kepala Anista

__ADS_1


"Bunda aja". Biar sama kaya Evan manggilnya.


Yudha mengangguk "Yaudah panggilnya Bunda ya Fira"


"Una..una.." celoteh balita itu


Anista tersenyum, panggilan itu mengingatkan dia pada Evan yang dulu masih balita.


Aku akan segera memberi tahukan tentang Evan nanti.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Seperti sudah menjadi rutinitas rutin, sejak Yudha menyatakan perasaan nya pada Anista. Setiap malam mereka bertiga selalu berkumpul di ruang keluarga. Bercanda dan tertawa melihat tingkah laku Safira yang semakin menggemaskan. Mereka benar benar layaknya keluarga bahagia.


Hal yang belum pernah sama sekali Yudha rasakan semenjak menjalin rumah tangga dengan Eliana.


Kebahagiaan ini mulai Yudha rasakan, inilah yang Yudha dambakan sejak dulu. Keharmonisan keluarganya, istri yang mau merawat dan mengurusi Safira. Tidak apa jika tak berkarir pun, untuk Yudha semua itu sudah cukup.


"Emm. Mas" panggil Anista pelan


Saat ini Safira sudah terlelap di pangkuan Anista. Yudha menoleh ke arah Anista yang memanggilnya.


"Apa Sayang?" Kata Yudha lembut


Entahlah Anista selalu merasa ada getaran berbeda di hatinya saat Yudha memanggilnya seperti itu.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan" kata Anista


"Apa? Sayang mau bicara apa?" Tanya Yudha


"Emm.. Sebenarnya, Nist teh sudah mempunyai an..."


"Hoaaam... Lebih baik kamu tidur, kasian juga Safira udah tidur gitu. Aku juga udah ngantuk" kata Yudha memotong ucapan Anista


"Eh.. Tapi, aku mau bicara dulu Mas" kata Anista


Yudha mencium kening Anista lalu dia berdiri "Besok sajalah bicaranya, aku benar benar sudah mengantuk. Kasihan juga Safira"


Baiklah, mungkin emang belum waktunya. Masih ada waktu besok untuk menceritakan pada Mas Yudha.


Anista pun akhirnya mengangguk dan menuruti perintah Yudha untuk tidur dan menidurkan Safira yang sudah terlelap sejak tadi di pangkalannya.


Aduhh. Kenapa aku sudah mengantuk sekali jam segini. Yudha

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2