
Dua jam yang lalu Anista dan Yudha telah kembali ke rumah Yudha. Rumah tempat Anista dulu bekerja sebagai pengasuh untuk Safira. Sampai hal yang tidak duga pun mereka lewati. Saling jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih.
Anista menatap ke luar jendela kamarnya. Tidak menyangka jika dia akan kembali ke rumah ini. Tatapan matanya melihat ke setiap penjuru kamar ini. Kamar anak yang di asuhnya dan sebentar lagi akan segera menjadi anaknya.
Terperanjat kaget saat tangan kekar melingkar di perutnya "Ngagetin aja"
Yudha tersenyum, dia sandarkan dagynya di bahu Anista "Lagi ngapain Sayang? Mendingan kamu tidur, istirahat pasti lelah banget kan kemarin habis jagain aku"
Sebenarnya bukan lelah karna jagain kamu, Mas. Tapi aku terlalu shock melihat keadaan kamu kemarin.
"Jangan kaya gitu lagi ya Mas, jangan luakin diri kamu sendiri yang sudah sangat terluka ini" Anista menempelkan pipinya dengan pipi Yudha yang bersandar di bahunya
"Aku terlalu lelah sayang, seolah kebahagiaan yang aku perjuangkan itu selalu saja ada yang menghalanginya" lirih Yudha
Anista menghela nafas pelan "Aku tau Mas, tapi masa Mas mau terus kaya gini. Nist aja bisa melawan rasa takut yang satu tahun selalu menghantui Nist"
"Bahkan Nist sampai di kurung di kamar karna selalu histeris dan teriak teriak. Nist udah di bilang gila sama tetangga yang lainnya" lanjut Anista lagi
Anista menghembuskan nafas kasar, ingatan nya kembali pada saat itu. Dimana dia layaknya orang gila yang tidak tahu arah tujuan. Tatapan mata yang kosong dan gelisah penuh ketakutan.
Yudha mencium pipi Anista, dia merasa hidup wanitanya juga menderita. Keduanya sama sama terluka dengan cara yang berbeda.
"Gak usah di inget inget lagi ya, biarin itu jadi masa lalu kita" lirih Yudha
Anista mengangguk, lalu dia menguap yang langsung dia tutup dengan tangan kanan nya, sepertinya ngantuk mulai menyerang.
"Tidur sana, kamu kelihatan lelah banget" kata Yudha
"Iya, tumben banget ngantuk jam segini. Aku jarang tidur siang loh" kata Anista lagi lagi kembali menguap
Cup
Yudha mencium pipinya lagi "Yaudah, tidur aja sana. Aku juga lagi nungguin Bima, ada pekerjaan yang harus di bahas"
Anista mengangguk "Yaudah aku tidur ya"
Akhirnya Anista pun terlelap, setelah Yudha terus mengelus kepalanya. Cup.. Di kecupnya kening Anista lalu Yudha menarik selimut sampai ke pinggang wanitanya itu.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Bodoh, apa yang kau lakukan dengan tanganmu?" Kata Bima setengah berteriak
Bima meraih tangan Yudha yang masih di balut perban. Matanya menatap tajam pada sahabatnya itu.
"Jelaskan!!" Kata Bima dengan suara dingin
__ADS_1
Yudha menghela nafas, dia sudah biasa dengan reaksi Bima dan Yudha merasa begitu di perhatikan dan Bima yang begitu peduli padanya.
"Hanya memukul kaca wastafel di kamar mandi" kata Yudha santai
Bima berdecak malas "Sampai kapan kau akan seperti ini?"
Yudha mengangkat kedua bahunya acuh "Entahlah"
"Kenapa kau sampai melakukan itu?" Tanya Bima lagi, kali ini laki laki itu duduk di kursi depan Yudha yang terbatasi oleh meja kerja Yudha.
Yudha tak bisa lagi menyembunyikan apapun dari Bima. Dia menceritakan semuanya pada Bima yang terjadi di rumah Ibunya.
"Jadi kau akan segera menikah?"
Yudha mengangguk "Minggu depan, kau urus semuanya. Anistaku tidak ingin pernikahan yang terlalu mewah"
Bima mengangguk "Baiklah aku mengerti"
Hening...
Keduanya diam dengan fikiran masing masing. Bima masih memikirkan gadis yang beberapa hari ini mengganggu fikirannya. Kasihan dengan nasib gadis itu. Ya, Bima hanya kasihan. Tapi entahlah.
"Jadi bagaimana Bim?" Tanya Yudha
"Sebaiknya segera pertemukan mereka Yudh, aku rasa keadaan Anista juga baik baik saja. Masalahnya gadis itu harus kembali lusa ke kota asalnya. Dia mempunyai adik yang masih kecil di sana" jelas Bima
Yudha mengangguk mengerti "Baiklah, kau bawa gadis itu sore ini"
Bima mengangguk, dia berdiri lalu pergi dari sana. Kini, tinggal Yudha yang berada di ruang kerja itu. Tangannya sedikit memijit pelipisnya yang terasa pening.
Sepertinya dia juga harus ikut tidur siang dengan Anista. Semalam setelah dia kembali dari kamar Anista, Yudha tidak lagi bisa tidur dan akhirnya dia hanya diam di atas tempat tidur sampai subuh.
Akhirnya Yudha keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar Safira yang sedang di tempati calon istrinya.
Ceklek
Masuk ke dalam kamar, Yudha tersenyum melihat wanitanya sedang terlelap. Dia pasti kelelahan karna kemarin habis melakukan perjalanan jauh, tapi malah dapat kekacauan di rumah itu.
Maaf Sayang karna sudah membuatmu lelah seperti ini.
Yudha mencium kening Anista sebelum akhirnya dia ikut naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Anista. Dia peluk dengan erat wanitanya itu.
Anista malah semakin beringsut masuk ke dalam pelukan Yudha. Mungkin gadis itu merasa nyaman berada di pelukan laki laki ini.
Cup
__ADS_1
Yudha tersenyum dan memberikan kecupan di kening Anista. Keduanya pun terlelap setelah melewati hari yang melelahkan.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Anista mengerjap kaget saat ada sosok di depannya. Dia terbangun terkejut melihat Yudha berada di sampingnya. Membuka selimut yang menutupi tubuhnya dengan kasar.
Hah... Masih utuh, syukurlah..
Anista mengelus dadanya sambil menghembuskan nafas lega saat melihat pakaiannya masih utuh.
Akibat wanitanya yang sibuk dengan keterkejutannya membuat pria tampan yang tidur di sampingnya terbangun.
Anista masih saja meneliti pakaian nya, takut kalau Yudha melakukan hal hal tidak baik dan memakaikan kembali pakaiannya untuk menghilangkan jejak. Bodoh memang, Anista terlalu polos sehingga lebih menjerumus ke Bodoh.
"Apa si Sayang" Yudha melingkarkan tangannya di perut Anista yang masih setengah berbaring.
Anistaterperanjat, dia menoleh dan menatap Yudha "Kamu ngapain tidur disini?"
Yudha malah menempelkan pipinya di paha Anista, tangan nya semakin erat melingkar di perutnya. Yudha tidak memperdulikan pertanyaan Anista.
"Lepasin Mas, ngapain kamu tidur disini?" Kesal Anista
Yudha menggesekan pipinya pada paha Anista, matanya masih terpejam "Emangnya kenapa?"
"Ck, aku kaget tau Mas. Takut kamu apa apain aku, lagian kita'kan belum menikah. Kok kamu malah sudah tidur sama aku gini" jelas Anista
"Tadi aku ngantuk banget dan gak bisa tidur. Jadi aku kesini buat tidur sama kamu dan aku nyaman banget tidur sambil meluk kamu. Kamunya aja langsung meluk aku erat banget" kata Yudha masih dengan mata terpejam
Hah.. Masa si? Kok bisa ya aku langsung nyosor kayak gitu.
"Bohong" Anista menyubit tangan calon suaminya yang melingkar di perutnya "Aku gak mungkin kayak gitu"
Yudha terkekeh "Itu kenyataan nya kok, sudahlah sana mandi. Kamu bau"
Anista medengus kesal, bibirnya merengut kesal pada Yudha "Kalau aku bau ngapain kamu masih nempel nempel sama aku"
"Hehe.. Aku suka bau kamu"
Alasan.
Anista langsung turun dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.
Bersambung
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah... 😔 Jumlah pembaca banyak, yang favoritin juga lumayan. tapi yg like sama komen dikit bgt. sedih ihh..
__ADS_1