Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Nist Salah?!


__ADS_3

"Kau gila!!"


Yudha begitu emosi saat mendengar ucapan Bima. Dia kecewa, dia sakit dan hancur saat tahu jika Safira bukanlah anak kandungnya.


Tapi, dia juga tidak membenci anak itu meskipun dia bukan anak kandungnya. Safira tak berhak untuk di salahkan. Tidak ada seorang anak yang ingin lahir ke dunia dengan keadaan seperti ini.


"Silahkan kau ikuti sidang hak asuh anak, yang jelas mereka akan memenangkan hak asuh Safira karena mau bagaimana pun mereka adalah keluarga kandung Safira. Ada darah yang sama mengalir di tubuh Safira" jelas Bima


Yudha menghela nafas, benar juga apa yang di bicarakan oleh Bima. Tapi, apa harus dengan merelakan Safira bersama kedua orang tua Eliana? Rasanya Yudha masih belum percaya dengan kenyataan ini.


"Kau tenang saja, orang tua Eliana sudah berjanji akan menjaga dengan baik cucu satu satunya mereka itu. Safira tidak akan kehilangan kasih sayang, kau dan Anista pun masih bisa menemui Safira sesekali" jelas Bima


"Apa kau bisa memastikan jika mereka benar benar akan menjaga anaku dengan baik?" Tanya Yudha, masih merasa ragu dengan keputusan yang akan dia ambil


Bima mengangguk yakin "Tentu saja, aku juga tidak akan membiarkan keponakan ku itu tersakiti dan di asuh oleh orang yang salah. Mereka ingin menjaga Safira sebagai rasa bersalahnya karena ulah Eliana, Safira menjadi korban nya"


Lagi dan lagi Yudha menghembuskan nafas kasar "Baiklah, tapi tunggulah sampai dia benar benar pulih dan istriku juga belum tahu soal ini"


"Semuanya bisa aku atur, kau hanya perlu memberi pengertian pada Safira sedikit demi sedikit. Oh ya, Nyonya besar telah aku beri tahu soal keadaan cucu dan menantunya. Mungkin besok pagi akan sampai" kata Bima


Nyonya Varinda dan David kembali ke luar negara tempat mereka tinggal. Setelah memastikan Yudha dan keluarga kecilnya bahagia. Maka, Nyonya Varinda bisa meninggalkan Yudha dengan tenang. Namun, tidak di sangka jika hal ini akan terjadi saat dia tidak berada di tanah air.


"Baiklah, kau jemput mereka besok di Bandara"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"APA??"


Varinda memegang dadanya yang terasa sesak. Fakta yang baru saja dia dengar bagaikan petir yang menyambarnya.


"Tenang Mam, kendalikan emosimu"


David terus mengelus punggung istrinya agar lebih tenang. David memapah Varinda untuk duduk di sofa. Yudha memberikan segelas air putih untuk Ibunya.


"Minum dulu Mam"


Varinda segera mengambil gelas berisi air putih yang di sodorkan Yudha. Meminumnya hingga setengahnya. Nafasnya masih naik turun, dia masih mencerna apa yang baru saja di jelaskan oleh Yudha dan Bima.


Hiks...hiks..

__ADS_1


Varinda menunduk dan mulai terisak pelan, perasaan bersalah semakin merasuki hatinya saat dia menatap mata anaknya.


"Maaf" lirihnya semakin terisak "Mami tahu ini terlambat, tapi mohon maafkan Mami Yudh. Mami telah membuatmu terluka, Mami telah memilihkan istri yang salah dan membuatmu terjerumus ke luka yang dalam ini"


David berdiri dan mempersilahkan Yudha untuk duduk di samping Ibunya. Yudha memeluk Ibunya "Aku sudah memaafkan nya Mam. Aku sudah bisa menerima semua takdir dalam hidupku ini. Berterimakasihlah pada menantu Mami yang telah membuatku berubah seperti ini"


Varinda memeluk putranya dengan erat, di ciumnya kening Yudha dengan penuh kasih sayang "Iya Nak, Mami benar-benar beruntung bisa mempunyai menantu seperti Anista. Dia bisa merubah anak Mami yang arogan ini menjadi lebih baik lagi"


Yudha mengangguk "Tapi, aku telah melakukan kesalahan besar pada istriku Mam"


"Melakukan apa?"


Yudha menceritakan apa yang telah dia lakukan pada istrinya. "Aku benar-benar terbakar emosi Mam. Aku khawatir terjadi sesuatu pada Fira. Sampai aku tidak sadar telah mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan untuk istriku"


Varinda menghela nafas "Sifatmu ini persis sekali seperti Papimu. Dia selalu gampang sekali emosi dan pada akhirnya dia selalu menyesali perbuatan nya itu. Minta maaflah pada istrimu, dia pasti sangat terluka dengan ucapanmu"


"Sudah Mam, tapi Anista masih saja mendiamkanku" keluh Yudha


"Nanti juga istrimu pasti akan memaafkanmu dan tidak lagi mendiamkanmu. Dia hanya kecewa, biarkan dia sendiri dulu untuk menengkan pikirannya" nasihat Varinda


Yudha mengangguk "Hari ini dia akan pulang, Mami tolong antar dia ke rumah. Dia masih membenciku dan tidak ingin melihatku. Aku tidak mau dia kesakitan lagi"


Yudha menggeleng pelan "Aku tidak mau dia kepikiran dan menjadi masalah untuk kondisi kandungannya"


Varinda mengangguk mengerti "Baiklah kalau begitu Mami akan ke ruangan istrimu dulu"


Varinda berjalan ke arah ranjang pasien dimana Safira sedang terlelap di sana. Bahkan bocah itu tidak terusik dengan kebisingan yang terjadi. Mungkin juga karena pengaruh obat yang di berikan dokter padanya.


Cup


Varinda mengecup kening cucunya dengan tatapan sendu. Bahkan air mata menetes mengenai kening Safira.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Minum dulu obatnya Neng"


Bu Nina menyimpan mangkok yang masih terisi bubur setengahnya lagi. Dia mengambil obat yang sudah di siapkan oleh perawat dan memberikan nya oada Anista dengan segelas air.


"Terimakasih, Bu"

__ADS_1


Anista meminum obatnya dan memberikan kembali gelas yang masih terisi setengah air putih itu pada Bu Nina.


Bu Nina menyimpan gelas itu di atas nakas "Jangan terlalu banyak pikiran, itu akan semakin mempengaruhi keadaanmu dan bayimu"


"Iya Bu, terimakasih"


Ceklek


Pintu terbuka dan munculah Varinda dan David. Mereka masuk ke dalam ruang rawat Anista.


"Bagaimana keadaanmu dan bayimu?" Tanya Varinda sambil mengelus tangan Anista


Anista tersenyum "Baik baik saja Mam, Mami sama Ayah kapan datang?"


"Baru saja, tadi lihat keadaan Safira dulu"jawab David tersenyum tipis


"Bagaimana keadaan Fira?" Tanya Anista, terlihat sekali dia sangat khawatir


Varinda tersenyum "Sudah lebih baik, tadi habis minum obat dan langsung tidur lagi"


"Oh ya, Bu Nina apa kabar?" Varinda


"Baik Nyonya" kata Bu Nina tersenyum sopan


Varinda memeluk Bu Nina dengan hangat "Kita ini adalah keluarga, jangan panggil Nyonya"


Bu Nina mengangguk dan tersenyum "Baik Bu Varinda"


"Nah gitu dong"


Anista tersenyum melihat mertuanya benar-benar telah berubah. Varinda terlihat tulus dan mau menerima keluarga Anista.


"Kamu pulang sekarang Nist?" Tanya Varinda


Anista mengangguk "Iya Mam, tapi aku ingin menemui Fira dulu sebelum pulang"


"Baiklah"


Bersambung

__ADS_1


Ayo dong like komen sama kasih votenya.. hadiahnya ya.. 🤗


__ADS_2