
Anista membawa Yudha untuk duduk di sofa yang ada disana. "Mas kok belum tidur?"
"Tadi udah tidur, tapi kebangun gara gara mimpi itu kembali datang" lirih Yudha dengan tatapan kosong
Anista mengerutkan keningnya bingung, tentu saja dia belum tahu soal mimpi yang sering Yudha alami selama 4 tahun terakhir ini.
"Mimpi yang selalu menghantuiku sejak kejadian malam itu di kamar hotel 302. Suaramu yang memintaku untuk berhenti menggerayangi tubuhmu. Teriakan minta tolong yang keluar dari mulutmu selalu menghantuiku" lirih Yudha
Deg
Anista terdiam, fikirannya kembali pada saat itu. Dimana dia berteriak sekencang mungkin hanya berharap ada yang menolongnya dari kemalangan itu.
Menangis terisak dengan suara mengiba agar pria yang ada di atas tubuhnya menghentikan semuanya.
Namun, hal itu sama sekali tidak terjadi. Tidak berguna dia berteriak sekencang apapun karena nyatanya tidak mungkin ada yang mendengarnya.
Yudha meraih tangan Anista dan menggenggam nya dengan erat, menatap wajah wanitanya yang terlihat gelisah. Dia tahu apa yang sedang di fikirkan oleh Anista.
Mereka berdua memiliki rasa trauma yang sama.
"Sayang, aku minta maaf untuk semuanya. Kesakitanmu, penderitaanmu, bahkan kau harus berjuang sendiri saat mengandung dan melahirkan Evan. Aku janji akan menebus semuanya dengan kebahagiaan"
Yudha mencium tangan Anista dengan lembut "Temani aku untuk selalu mendapatkan kebahagiaan itu. Kita raih kebahagiaan itu bersama sama"
Anista menatap wajah Yudha dengan mata berkaca kaca, dia mengangguk pelan bersamaan dengan air matanya yang luruh begitu saja di pipinya.
Yudha menghapus air mata wanitanya, di kecupnya dua mata teduh milik Anista itu.
"Jangan pernah meninggalkan ku, berfikir untuk itu saja aku tidak mengizinkanmu. Pokoknya apapun yang terjadi temani aku, aku sudah terlalu lelah menjalani semuanya sendiri" kata Yudha begitu terdengar begitu rapuh
Pria tegas dan dingin yang Anista kenal saat pertama kali bertemu dengannya. Dia terlihat begitu rapuh dan terluka, dia benar benar menunjukan sisi lemahnya pada Anista.
Anista mencium tangan Yudha yang sedang menggenggam tangannya "Iya Mas, aku janji tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi"
Yudha tersenyum, dia mendongakan wajahnya dengan tangan sedikit mengusap ujung matanya yang berair. Dia hampir saja menangis di depan Anista.
Anista mengelus rambut Yudha "Sekarang tidur sana"
Yudha mengangguk "Pengennya tidur sama kamu"
Anista menggeleng tegas "Halalin dulu"
Hahh....
Yudha menghembuskan nafas kasar "Yaudah aku tidur dulu ya, kamu juga. Cup"
Anista tersenyum saat Yudha mencium keningnya "Jangan lupa sholat subuhnya"
Yudha mengangguk sebelum dia menutup pintu kamar itu. Anista kembali ke tempat tidur dan menatap kedua anaknya yang terlelap dengan tenang. Anista mencium kening Evan dan Safira secara bergantian.
"Selamat tidur anak anaknya Bunda"
__ADS_1
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Pagi ini keadaan Yudha terlihat lebih baik dari kemarin. Tangannya masih terbalut perban, namun sepertinya Yudha tidak terlihat tidak nyaman dengan kondisi tangannya yang terluka. Bahkan dia terlihat biasa saja saat sarapan bersama di meja makan.
Anista mengamati orang orang dewasa yang ada di meja makan ini. Suasananya terasa begitu sepi, Yudha juga masih mendiamkan Ibunya. Tentu saja hal itu membuat Anista merasa tidak nyaman.
"Yudh, kamu masih akan tinggal disini'kan?" Varinda mulai membuka pembicaraan
Yudha minum air putih yang sudah di siapkan oleh Anista, mengelap bibirnya dengan tisu. Dia melirik sekilas pada Ibunya itu.
"Bukannya kalian akan kembali ke luar negara?" Tanya Yudha
Varinda tersenyum tipis, akhirnya anaknya berbicara lagi dengannya setelah pertengkaran hebat kemarin siang.
"Kami mengundurnya, mungkin akan lebih lama berada di tanah air. Kami juga ingin menyaksikan perniakahan kalian" kata Varinda tersenyum tulus
Uhuk uhuk...
Anista sampai tersedak saat mendengar ucapan Varinda. Me...menikah? Apa ini maksudnya Nyonya Varinda sudah merestui kami?
"Pelan pelan makannya, minum dulu" Yudha menyodorkan segelas air putih pada Anista
Anista mengangguk masih dengan terbatuk batuk, segera dia meminum air yang di berikan oleh Yudha.
Aku'kan benar benar terkejut tadi. Anista
Yudha juga cukup terkejut dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Ibunya. Namun, pria ini bisa menetralkan ekspresinya sehingga terlihat datar dan biasa saja.
"Tapi, mulai sekarang Mami akan menuruti keinginanmu dan mendukung semua keputusanmu" kata Varinda saat Yudha tidak juga mengeluarkan kata apapun
"Mami dan Ayahmu merestui hubungan kalian. Kami menerima Anista sebagai menantu dan Evan sebagai cucu pertama kami" kata Varinda penuh dengan keyakinan dan ketulusan
David mengangguk mengiyakan ucapan istrinya "Iya Yudh, segeralah menikah dengan Anista. Kasihan juga Evan kalo kalian masih seperti ini"
"Baiklah"
Akhirnya penantian mereka terwujud juga. Setelah bertengkar hebat hingga membuat Yudha frustasi, kini restu itu telah di dapat.
Mungkin sudah saatnya aku memperbaiki hubunganku dengan Mami.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Sungguh Anista merasa lega sekarang, akhirnya Varinda memberikan restu juga. Meskipun Anista pun masih merasa canggung dengan Ibu dari calon suaminya itu.
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan ini?" Tanya Varinda
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Sementara Evan dan Safira sedang bermain di taman bersama pengasuh.
"Minggu depan" jawab Yudha enteng
Anista langsung terbelalak kaget "Ming...Minggu depan?"
__ADS_1
Yudha menoleh ke arah wanitanya yang sedang duduk di sampingnya "Iya minggu depan"
"Apa gak kecepetan Mas?" Tanya Anista
Yudha menggeleng pelan sambil tersenyum, tangannya mengelus kepala Anista "Tidak Sayang, kau tidak perlu memikirkan apapun. Hanya persiapkan saja dirimu, aku dan Bima yang akan mengurus semuanya"
"Ayah juga akan membantu" kata David ikut menimpali
Yudha menoleh, dia tersenyum tipis dan mengangguk. Mungkin sudah saatnya Yudha menerima keadaan ini. Menerima jika dia mempunyai seorang Ayah tiri.
"Tapi Mas, Nist mah pengennya nikahan yang sederhana saja" kata Anista apa adanya
Yudha tersenyum "Tidak akan terlalu mewah kok, aku akan mengundang orang orang penting saja. Tapi, aku tetap ingin pernikahan kita di publick karna aku ingin semua orang tahu jika kamu adalah istriku"
Anista menatap tidak percaya pada Yudha, pria itu bahkan tidak malu mengumumkan pernikahan dengan dirinya.
Padahal Anista jauh dari kata sempurna, jika di bandingkan dengan Eliana. Anista tidak ada apa apanya, penampilan pun sungguh jauh berbeda.
Apalagi dengan latar belakang keluarganya. Namun, disini Anista semakin yakin dan melihat bagaimana ketulusan seorang Yudha Abimana Walton, yang mungkin tidak di ketahui orang lain.
Terimakasih Mas karena sudah menerimaku apa adanya.
Varinda mengangguk dengan wajah bahagia "Oke, masalah WO sama baju pengantin nya biar Mami yang urus. Banyak teman teman Mami yang mempunyai usaha WO"
"Terimakasih Nyonya" lirih Anista
"Mulai sekarang panggil aku Mami, kau itu menantuku" kata Varinda tegas
Anista mengangguk "Baik, Mam..Mami"
"Nah, Good"kata Varinda sambil mengacungkan jempolnya
Yudha tersenyum tipis melihat kelakuan Ibunya itu "Oh ya Mam, aku mau kembali dulu ke rumahku"
"Kenapa? Kau tidak betah tinggal disini?" Tanya Varinda
"Bukan begitu Mam, aku ada urusan yang harus di bicarakan dengan Bima. Dan aku akan membicarakan soal perniakahan ini" jelas Yudha
Varinda menghela nafas, lalu dia mengangguk "Baiklah, tapi Evan dan Safira biarlah disini bersama Mami"
Anista langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi setengah menunduk itu "Tapi itu akan merepotkan Mami"
"Merepotkan apa? Mereka itu cucu cucuku, kau ini bagaimana?" Kata Varinda sedikit kesal
Hah...
Kenapa Ibu dan anak ini sama sama seenaknya kalau bicara ya..
Anista pun mengangguk "Baiklah Mam"
Bersambung
__ADS_1