
Gajian pertama yang Anista dapatkan dari Pak Danu langsung dia transfer pada ayahnya menggunakan rekening Pak Danu dan juga nomor rekening Wahyu di kampung, anaknya kepala desa yang sempat Anista mintai tolong saat akan pergi ke kota ini.
Untung saja Pak Danu mengerti dan mau membantu Anista untuk mentransfer sebagian gajinya untuk ayahnya di kampung.
Hari ini sepasang Ibu dan anak itu terlihat bahagia setelah pulang dari taman bermain. Anista sengaja mengajak Evan untuk pergi ke taman bermain dengan di antar Bu Nina. Karna Anista belum terlalu tahu jalan di kota ini, takutnya dia malah nyasar.
"Seneng mainnya?" Tanya Anista menatap sang putra yang sedang berjalan riang sambil menggandeng tangannya
Evan mendongak lalu mengangguk cepat "Senang sekali, makasih ya Bunda udah ajak Evan jalan jalan sama beliin mainan ini juga" Evan mengangkat kantong plastik di tangan kanannya.
Anista tersenyum "Iya Sayang"
Bu Nina tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. Mereka lanjut berjalan sampai di depan rumah dan duduk diteras rumah untuk beristirahat sebentar.
"Terimakasih ya Nak, semua ini" Bu Nina mengangkat kantong plastik yang dia tenteng dari tadi
Anista tersenyum "Cuma bisa beliin Ibu itu, soalnya uang Nist gak cukup kalo beli yang mahal. Maaf ya Bu, lagian harusnya Nist yang berterima kasih pada Ibu karna sudah menjaga Evan"
"Ibu senang tinggal bersama cucu Ibu ini, Ibu tidak lagi kesepian" kata Bu Nina tersenyum tulus
Bu Nina memang hanya mempunyai satu anak dan sudah meninggal 7 tahun yang lalu akibat kecelakaan bersama sang suami. Sejak saat itu Bu Nina hanya tinggal sendiri dan untungnya sekarang ada Evan yang menemaninya.
"Terimakasih Bu"
"Iya Nak, kamu akan kembali jam berapa?" Tanya Bu Nina
"Mungkin sebentar lagi, sepertinya ini akan hujan ya. Sudah mendung" kata Anista menatap langit yang menunjukan tanda tanda hujan.
"Ya sudah kalo begitu ayo kita masuk dulu"
Bu Nina berdiri dan membuka kunci pintu rumahnya. Anista dan Evan pun ikut masuk ke dalam rumah.
"Kalian istirahatlah dulu di kamar, nanti Ibu bangunkan Nist kalau sudah asar" kata Bu Nina
Anista mengangguk "Iya Bu, Nist emang lelah banget pengen tidur sebentar"
Anista dan Evan pun masuk ke kamar yang dulu di tempati oleh anaknya Bu Nina. Namun, sekarang di biarkan kosong tapi tetap bersih karna Bu Nina selalu membersihkan nya setiap hari.
Sudah lama sekali Anista tidak tidur bersama putranya ini. Sekarang dia tidak mau membuang waktu sia sia untuk bisa menghabiskan waktu bersama anaknya.
"Evan kalo tidur suka sama Oma?" Tanya Anista
__ADS_1
Evan mengangguk "Iya, Evan tidur berdua sama Oma"
Anista mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang " Yaudah sekarang Evan tidur sama Bunda ya, nanti abis asar Bunda akan kembali lagi ke tempat kerja. Evan jangan rewel dan jangan nakal sama Oma"
"Iya Bunda"
Bocah kecil itu langsung memeluk leher Bunda nya dan mulai terlelap di pelukan Anista.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Anista mengerjap dan membuka matanya secara perlahan. Suara gemuruh hujan di luar sana membuat tidurnya terganggu. Anista menatap wajah polos putranya yang terlelap di sampingnya.
Cup
Anista mencium kening Evan "Sehat selalu Sayangnya Bunda, do'ain Bunda ya supaya selalu kuat menjadi orang tua yang bisa memberikan yang terbaik untuk kamu"
Anista menoleh ke arah jendela "Hujan nya cukup lebat, bagaiman aku pulang"
Anista turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Di luar dia bertemu Bu Nina yang baru saja ingin membangukan nya.
"Baru saja Ibu akan membangunkan mu" kata Bu Nina
"Hujannya deras banget Bu, jadi terbangun deh" kata Anista tersenyum
Anista mengangguk "Nist mau sholat dulu Bu"
"Ya sudah, Ibu tunggu di dapur ya"
Anista mengangguk lalu segera pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.
Hujan belum juga reda, Anista bahkan sudah makan dan cukup lama menunggu hujannya reda. Evan pun sudah terbangun, hari sudah mulai gelap.
Anista bingung harus naik apa pulang ke rumah Yudha. Mengingat rumah Bu Nina berada di pinggir kota dan masuk ke dalam gang kecil sehingga sangat sulit kendaraan.
Memesan taxi online pun tidak mungkin karna ponse Anista hanyalag ponsel jadul yang tidak bisa memakai internet.
"Ibu Nist pinjem payung aja biar Nist jalan sampe depan gang. Hujannya makin deras, takutnya kalo Nist telat kembali ke sana nanti Nist di marahin" kata Anista
"Kamu yakin Nak? Hujannya deras banget"
Anista mengangguk "Iya Bu"
__ADS_1
"Yasudah, sebentar biar Ibu ambilkan payung" Bu Nina pun berlalu untuk mengambul payung
"Evan baik baik ya sama Oma, Bunda mau kerja lagi biar bisa beliin Evan mobilan remote yang Evan mau itu" kata Anista tersenyum
Jujur saja Anista merasa sangat sedih saat anaknya tadi ingin mobil remote yang harganya cukup mahal untuk ukuran orang seperti Anista. Bukan karna uang gajinya tidak cukup.
Namun, Anista harus membayar hutang hutangnya di kampung juga untuk kebutuhan Ayahnya dan pengobatan nya yang sekarang sering sakit sakitan.
Do'akan Bunda supaya Bunda bisa membelikan apapun yang Evan mau.
Akhirnya Anista pergi dari rumah Bu Nina dengan menggunakan payung. Sekali lagi dia menoleh ke arah Evan dan Bu Nina yang mengantarnya sampai teras depan. Anista melambaikan tangannya.
"Daahhh Bunda" teriak Evan sambil melambaikan tangannya
Anista berjalan menerobos hujan dengan payung yang di berikan oleh Bu Nina. Hujan sangat deras di tambah dengan petir yang membuat Anista takut apalagi hari sudah gelap.
Ya Allah lindungi Anis.
Sebenarnya dari kecil Anista sangatlah takut dengan petir. Namun, setelah kejadian masa lalunya yang membuat Anista harus melawan rasa takutnya.
Apalagi saat ini dia harus melawan rasa takutnya untuk bisa kembali bekerja dan memenuhi keinginan anaknya.
Hujan deras yang di sertai angin kencang juga petir bersahutan di hari yang sudah gelap membuat jalanan juga sepi. Anista semakin tidak bisa melawan rasa takutnya saat petir terus bersahutan.
Sialnya payung yang Anista gunakan malah terbang terbawa angin kencang membuatnya menjadi basah kuyup di tambah tidak ada kendaraan yang lewat.
"Ya Allah Anis harus gimana ini teh"
Anista pun berlari menerobos hujan menuju jalan raya. Disana baru Anista akan menemukan kendaraan seperti angkutan umum atau taxi. Karna biasanya Anista akan naik ojek dulu menuju jalan raya. Namun karna hujan, jadi ojek pun tidak ada.
Semuanya demi Evan dan Abah.....
Anista terus berlari menerobos hujan, tanpa sadar air matanya pun ikut berlinang bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
Seorang gadis yang baru berusia 21 tahun harus berjuang di kota demi keluargannya. Wanita tegar ini hanya memikirkan nasib ayahnya dan Evan yang harus dia biayai kehidupan nya.
Anista sampai di jalan raya dan langsung naik taxi menuju perumahan mewah tempatnya bekerja.
Jika tidak hujan mungkin Anista akan memilih naik angkot karna lebih murah. Dan dia akan berjalan kaki untuk memasuki kawasan perumahan elit itu.
Tapi sekarang dia memilih menggunakan taxi agar bisa langsung sampai ke depan rumah Yudha.
__ADS_1
Dingin banget....
Bersambung