
Setelah hampir satu minggu Anista terus menjauhi Yudha. Tapi, kini dia mulai bisa mengendalikan emosinya, dia mulai kembali lagi ke Anista yang ceria.
Malam nanti, Safira akan pulang. Anista sudah sangat merindukan gadis kecil itu. Anista terlihat sudah kembali ceria, dia menata sarapan yang telah dia masak untuk Tuannya.
"Selamat pagi"
Anista bahkan sampai menghentikan gerakan tangannya saat mendengar sapaan dari orang yang beberapa hari ini dia hindari.
Anista menoleh dan mencoba tersenyum "Se..la..mat pa..gi Tuan"
Yudha terkekeh melihat Anista yang terlihat gugup seperti itu. Menggemaskan sekali si. Aku harus bisa menahannya untuk tidak langsung menciumnya. Jangan sampai dia kembali menghindariku karna kecerobohanku ini.
Anista menarikan kursi untuk di duduki oleh Yudha "Silahkan duduk, Tuan"
Yudha mengangguk lalu dia duduk "Terimakasih"
"Sama sama, kalo begitu Nist mau ke belakang dulu" kata Anista yang sudah berbalik dan melangkahkan kakinya.
Sebuah tangan kekar yang mencekal pergelangan tangannya langsung membuat Anista menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Yudha.
"Duduklah, aku ingin kau menemaniku makan" kata Yudha "Lagian sudah lama sekali kau tidak menemaniku makan"
Anista menghela nafas lalu mengangguk, dia menurut saja dan langsung duduk di dekat Yudha. Mereka pun kembali sarapan bersama setelah beberapa hari tak bertegur sapa.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Safira langsung menempel pada pengasuhnya yang sudah lama tidak bertemu itu. Anista tentu saja tidak keberatan karna dia juga sangat merindukan balita ini.
"Aku sebagai Daddy nya merasa tersisihkan" kata Yudha dengan wajah memelasnya
Anista tertawa "Hahaha. Maaf Tuan, tapi sepertinya Nona Safira lebih memilih saya"
Memang saat ini mereka bertiga sedang berkumpul di ruang keluarga dengan Safira yang terus menempel di pangkuan Anista.
Varinda tadi langsung pulang setelah mengantar Safira karna dia juga ada urusan lainnya.
"Biarlah, supaya nanti dia bisa dekat saat kau sudah menjadi Ibunya"
Deg
Anista langsung menoleh ke arah Yudha yang bahkan terlihat santai setelah membuat jantungnya maraton setelah mendengar ucapannya barusan.
"Mak..maksud Tuan?" Tanya Anista gugup juga bingung
__ADS_1
Yudha turun dari sofa dan ikut duduk di atas karpet bersama Anista dan Safira. Anista menjadi deg degan sendiri saat melihat mimik wajah Yudha yang sangat serius itu.
"Aku gak bisa terus terusan bohongin perasaan ini. Aku udah gak mau terus menunda nunda lagi" kata Yudha menatap kedua bola mata Anista
"Mak..maksudnya?"
"Anista, aku mencintaimu"
Kata itu akhirnya lolos juga dari mulut Yudha yang sudah dari lama dia ingin mengucapkan nya.
Anista diam mematung, apa dia telah salah dengar? Tidak.. Semuanya terasa nyata, ya memang ini nyata. Tapi, sejak kapan Yudha menyukainya? Anista di buat terkejut juga bingung dengan perkataan Yudha barusan.
"Aku tau, kamu pasti kebingungan. Tapi, aku juga gak tau sejak kapan perasaan ini ada di hatiku. Jelasnya aku mencintaimu karna ketulusanmu mengurus dan menyayangi Safira yang bahkan tidak dia dapatkan dari ibunya" lanjut Yudha melihat kebingungan di wajah Anista
Baru kali ini aku mendengar Tuan Yudha menyebut Ibunya Nona Safira.
"Tap..tapi Tuan, Nist teh gak pantes buat Tuan sama jadi Ibunya Nona Safira" kata Anista setelah fikirannya kembali jernih tanpa keterkejutan lagi
Yudha tersenyum dan meraih tangan Anista "Menurutku kamulah yang paling pantas untuk mendampingiku dan juga menjadi Ibunya Safira"
"Tapi, saya mempunyai masa lalu kelam Tuan. Belum tentu Tuan akan menerima masa lalu saya" jelas Anista
Yudha mencium tangan Anista yang berada di genggaman nya "Aku akan menerima apapun masa lalu kamu itu"
Tapi, apa kamu akan masih menerima jika mengetahui soal Evan?
"Tapi, Tuan.."
"Sudahlah, yang aku inginkan hanya kata iya yang keluar dari mulutmu. Aku ingin kau menjadi istri dan Ibu dari Safira dan anak anaku nanti" kata Yudha
"Tapi saya belum siap menikah Tuan"
Jujur saja Anista tidak pernah memikirkan pernikahan. Masa lalunya yang kelam membuatnya tidak pernah memikirkan hal itu. Yang terpenting untuk Anista hanya Evan dan Abahnya.
Bahkan dia tidak pernah lagi memikirkan masa depannya dan kehidupan dia kedepannya. Namun, setelah bertemu Yudha dan mereka mulai dekat. Anista mulai merubah pemikirannya.
Anista mulai merasakan cinta dan rasa nyaman pada seorang pria pada layaknya seorang perempuan lainnya.
"Tenang saja, aku hanya ingin mengikatmu saja agar tidak berani macam macam di belakangku. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk menikah" jawab Yudha santai
Apa apaan dia ini? Kenapa seolah olah aku telah berselingkuh di belakangnya?
"Baiklah Tuan, saya akan mencoba menjalaninya" kata Anista pada akhirnya
__ADS_1
Masalah Evan akan aku jelaskan di lain waktu. Jika dia tidak mau menerima Evan, maka aku akan mundur. Sekarang biarlah aku jalani saja dulu hubungan ini.
Yudha langsung mencium punggung tangan Anista beberapa kali "Aku sangat menyayangimu. Ku mohon jangan pernah meninggalkan aku"
Anista tersenyum dan mengangguk "Insya Allah, Tuan"
Yudha menggeleng "Gak mau di panggil Tuan lagi"
"Terus saya harus panggil apa atuh?" Tanya Anista bingung
"Sayang" kata Yudha santai
Anista membelalakan matanya. Malu banget atuh Anis teh harus panggil sayang. Belum terbiasa banget.
"Belum terbiasa Tuan, malu atuh Nist teh" kata Anista
"Kenapa harus malu??"
Ya ampun dia gak ngerti apa? Lagian Nist kan juga belum pernah pacaran, jadi gak tau rasanya yang namanya sayang sayangan gini.
"Malu aja, kan belum terbiasa. Apalagi nanti di denger sama pelayan yang lain, mereka pasti terkejut dan mikir aneh aneh tentang Nist" jelas Anista
"Gak usah mikirin orang lain, semua pekerja di sini tidak akan ada yang berani mengusik kehidupanku. Dan mulai sekarang kamu adalah hidupku selain dari Safira" kata Yudha tegas
Aduh dinginnya masih sama aja ya.
"Ya udah manggilnya Mas aja ya?" Kata Anista, memberikan penawaran
"Oke, tapi kali kali harus panggil sayang" kata Yudha
Dia teh kenapa mau banget di panggil sayang atuh? Mungkin hidupnya kurang kasih sayang? Ehh.. gak boleh gitu Nist..
"Heem"
Anista hanya mengangguk mengiyakan. Sudah capek jika harus terus memperdebatkan panggilan Sayang itu.
"Kalo gitu saya mau menidurkan Nona Safira dulu. Sepertinya dia sudah mengantuk" kata Anista
"Panggil dia Safira atau Fira, di bukan Nonamu tapi anakmu" kata Yudha
Tapi aku takut di marahin sama Nyonya besar lagi kalo manggil gitu.
"Baik Tuan"
__ADS_1
Pada akhirnya Anista tidak bisa membantah ucapan Yudha. Dia masih merasa takut dengan Tuannya yang sekarang telah menjadi kekasihnya.
Bersambung