
Yudha sedang duduk di sofa sambil menjaga Safira yang masih terlelap. Sementara Bima sudah pergi untuk mengurus kelanjutan kasus Eliana dan Dave. Yudha benar-benar menyerahkan semuanya pada Bima. Dia malas jika harus berurusan lagi dengan dua manusia licik itu.
Hah...
Beberapa kali dia menghembuskan nafas kasar. Wajahnya terlihat lelah dan begitu frustasi, apalagi saat mengingat jika istrinya masih saja mendiamkannya.
Apa yang harus aku lakukan supaya Anistaku kembali seperti dulu lagi. Tidak mendiamkanku seperti ini.
Ceklek
Yudha menoleh ke arah pintu yang terbuka, langsung berdiri saat melihat istrinya yang di papah oleh Bu Nina. Di belakang Anista ada kedua orang tuanya.
"Sayang" panggil Yudha sambil berjalan mendekat ke arah sang istri. Bermaksud ingin membantunya berjalan, tapi langsung mendapat penolakan dari Anista. Sepertinya Anista masih sangat kecewa pada Yudha.
"Kenapa gak pakai kursi roda saja?" Tanya Yudha lembut, mengabaikan penolakan sang istri
Anista berjalan perlahan menuju ranjang pasien. Safira masih terlelap di sana, di usapnya dengan sayang kepala anak itu yang masih mengenakan perban.
"Istrimu tidak mau, padahal Mami juga sudah menawarkan untuk memakai kursi roda karena keadaannya masih lemah" jelas Varinda
Yudha mengangguk mengerti, dia menatap punggung istrinya yang berdiri di samping ranjang Safira.
"Duduk aja sayang" kata Yudha lembut
Anista tidak menjawab, tapi dia menurut dan duduk di kursi samping ranjang pasien. Anista menggenggam lembut tangan mungil itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Maafkan Bunda Nak" lirih Anista, lalu dia mencium tangan mungil itu "Bunda salah sudah tidak bisa menjagamu. Maafkan Bunda, Bunda memang tidak becus menjagamu. Ini salah Bunda, maafkan Bunda.. Hiks...hiks.."
Semuanya terdiam saat memdengar ucapan Anista yang di iringi isakan menyakitkan. Yudha menatap nanar punggung istrinya yang terlihat bergetar itu.
Bodoh! Ini salahmu karena telah menyalahkannya. Padahal ini semua bukanlah kesalahan istriku. Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan.
Ingin sekali rasanya Yudha memeluk tubuh rapuh wanitanya itu. Namun, dia tidak mau jika tindakannya akan membuat Anista emosi dan pada akhirnya akan membahayakan keadaannya dan kandungannya.
Bu Nina menghampiri Anista, dia mengelus punggung Anista dengan lembut "Kamu tidak salah Neng, ini semua kecelakaan"
__ADS_1
Anista melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bu Nina. Wajahnya dia sembunyikan di perut wanita paruh baya itu. Isakan masih terdengar memilukan.
"Nist salah ya Bu, tapi Nist juga gak ingin semua ini terjadi. Nist juga khawatir dengan Safira. Nist juga menyayanginya, tapi apa Nist harus di salahkan atas semua ini? Hiks..."
Anista semakin erat memeluk Bu Nina, dia rapuh saat ini. Ucapan suaminya yang telah memojokkan nya dan juga menyalahkannya benar-benar membuatnya down.
Bu Nina mengelus kepala gadis yang sudah seperti putrinya sendiri. Bahkan Bu Nina sampai meneteskan air mata mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Anista.
"Sudah Nak, jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri. Neng teh gak salah, ini semua kecelakaan. Sekarang ayo kita pulang" kata Bu Nina
Anista melerai pelukannya dan menatap wajah Bu Nina dengan tatapan sendunya "Nist pulang ke rumah Ibu ya"
Deg
Ada beban berat yang menimpa Yudha, seolah kehidupannya akan lebih hancur setelah ini. Ucapan Anista barusan benar-benar membuat Yudha tak mampu berkata-kata ataupun bertindak.
Yudha sadara akan kesalahannya, apa yang dia ucapkan dan lakukan pada wanitanya. Sangatlah keterlaluan, tapi apa harus sampai Anista tidak mau pulang ke rumahnya.
"Sayang"
Yudha menatap sendu dan memohon pada sang istri agar tidak pergi meninggalkannya. Karena jika itu terjadi, Yudha akan benar-benar hancur.
"Plisss.. Jangan tinggalkan aku" lirih Yudha
"Ayo kita pulang Bu, kelamaan disini takutnya malah mengganggu tidur Safira" kata Anista tanpa memperdulikan ucapan suaminya
Bu Nina mengelus kepala Anista "Yaudah ayok kita pulang"
Varinda menepuk bahu anaknya yang terlihat begitu menyedihkan itu "Sudahlah nanti biar Mami yang memberi pengertian pada istrimu. Dia masih membutuhkan waktu untuk sendiri. Mami pastikan istrimu hanya menginap sebentar di rumah Bu Nina dan tidak akan pergi ke mana-mana lagi"
Yudha mengangguk lemah sambil menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu. Anista dan Bu Nina telah keluar dari ruangan Safira.
"Yasudah Mami mau menyusul mereka dulu" kata Varinda yang di jawab anggukan oleh David dan Yudha.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
__ADS_1
Sudah tiga hari Anista berada di rumah Bu Nina. Evan juga dia jemput untuk tinggal di rumah Bu Nina selama beberapa hari. Hanya untuk sekedar menenangkan diri dan pikirannya yang kacau.
"Evan mau ikut Bunda lihat Fira" kata Evan
Anista mengangguk "Iya ayok, kita jenguk adiknya Evan sekarang ya"
"Ayo Bunda"
Keduanya berangkat ke rumah sakit dimana Safira di rawat. Evan juga begitu bahagia saat Anista menceritakan jika dia akan mempunyai adik lagi.
Evan yang sedari kecil jarang mempunyai teman karena latar belakangnya yang tidak jelas membuat dia sangat sulit untyk bergaul.
Mempunyai seorang adik seperti Safira, membuat Evan sedikit bisa merasakan mempunyai teman dan tidak lagi merasa kesepian.
Di sekolah pun Evan hanya berteman seperlunya saja.
Ceklek
Anista membuka pintu ruangan Safira "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Yudha dengan tersenyum senang melihat anak dan istrinya datang, begitupun dengan Safira yang sedang di suapi makan oleh Yudha.
"Daddy"
Evan berlari dan memeluk ayahnya, sementara menyuapi Safira di gantikan oleh Anista.
"Makan yang banyak ya anak pintar, biar bisa cepet sembuh" kata Anista sambil menyuapi anaknya
Dengan telaten Anista menyuapi putrinya ini. Bahkan dia tidak memperdulikan Yudha dan Evan yang sedang duduk di sofa sambil bercanda.
Safira terlihat begitu bahagia dengan kehadiran Bundanya yang sangat dia rindukan. Sungguh Anista juga sangat merindukan putrinya ini.
Namun, saat dia melihat perban yang masih melilit di kepalanya dan keadaan Safira yang masih terbaring di ranjang pesakitan itu. Benar-benar membuat Anista merasa bersalah karena telah membuat putrinya berada di sini dan merasakan ini semua.
Maafkan Bunda, Nak.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa kasih hadiahnya...