
"Sayang"
"Apa Mas? Teriak teriak deh kayak di hutan aja" kata Anista
"Sini" Yudha menepuk ruang kosong di sampingnya "Ada yang mau aku bicarakan sama kamu"
Anista berjalan menghampiri Yudha yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Anak anak sudah tidur karena hari pun sudah malam.
"Ada apa?" Tanya Anista
"Nama Evan itu apa? Dia belum punya akta kelahiran kan?"
Anista menggeleng pelan "Belum. Kan buat akta kelahiran itu harus ada surat nikah"
"Nah itu dia, jadi nama panjang Evan siapa?" Tanya Yudha lagi
"Ya Evan Mas, itu aja Abah yang kasih nama. Aku gak mikirin nama panjangnya" kata Anista santai
Yudha menghela nafas, sudah dia duga jika istrinya ini memang tidak memberi nama anaknya dengan baik dan benar.
"Ya udah kalo gitu biar aku yang kasih dia nama panjangnya ya"
Anista mengangguk saja karena memang Yudha ayah kandungnya dan berhak atas Evan.
"Aku akan kasih dia nama Hervanio Walton. Masih tetap di panggil Evan atau Hervan" kata Yudha
"Wahh. Bagus banget Mas, beda ya kalau Evan udah jadi anaknya kamu emang pantes nama itu. Tapi, kalo masih cuma anak aku aja gak pantes" kata Anista riang
Yudha memutar bola mata malas, istrinya ini memang benar benar polos dan bodoh.
"Hmmm"
Rasanya Yudha juga malas jika menghadapi istrinya yang terlalu polos atau bodoh ini. Memangnya apa bedanya saat Evan masih anaknya dan sekarang jadi anaku? Toh emang Evan itu anak aku dan dia'kan.
"Aku akan melangsungkan resepsi pernikahan kita lusa" kata Yudha
Anista langsung terbelalak kaget "Hah..Gak kecepetan Mas? Kan kamu baru bilang tadi malam, kok malah jadi lusa"
Yudha mencubit gemas pipi istrinya itu "Aku sudah mengurus persiapannya dari sebelum kita menikah. Apa kau lupa? Saat kemarin kita menikah dan menunda acara resepsi itu semuanya sudah setengah persiapan selesai. Jadi, semuanya telah selesai selama seminggu ini"
__ADS_1
Anista menghembuskan nafas "Hmm. Tapi'kan...."
"Tapi apa, Sayang?" Tanya Yudha sebelum Anista menyelesaikan ucapannya
"Aku masih belum siap menerima konsekuensinya" lirih Anista
Yudha memegang kedua bahu Anista dan memutar tubuh Anista agar menghadap ke arahnya "Dengerin aku!"
"Apapun yang orang orang katakan tentangmu. Jangan pernah hiraukan mereka, kamu harus terbiasa dengan mulut mulut orang yang tidak suka dengan kehidupan kita"
"Mereka hanya iri saja dan ingin mencari masalah dengan kita. Pokoknya kamu hanya perlu setia sama aku dan jangan hiraukan apa kata orang"
Begitu Yudha menjelaskan dan memberi pengertian pada sang istri. Yudha tahu apa yang di takutkan oleh istrinya.
Namun, Anista harus terbiasa dengan mulut mulut orang seperti itu.
Karena menjadi pendamping seorang pengusaha muda yang cukup terkenal di publik harus siap menerima semua konsekuensinya. Dan Yudha yakin jika istrinya pasti bisa menghadapi semua cobaan dan rintangan yang mungkin akan mereka hadapi kedepannya.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Acara resepsi di laksanakan dengan begitu megah dan meriah. Tidak pernah terpikir oleh Anista jika dia akan menjadi seorang ratu sehari seperti ini.
Untuknya bisa menghidupi Ayah dan anaknya saja sudah sangat bersyukur. Bahkan saat dulu Anista pernah mempunyai mimpi untuk menikah dan menjadi seorang ratu sehari. Itu pun tidak semewah ini. Sungguh di luar dugaannya.
Rencana-Mu memang yang terbaik untuk hidupku. Terimkasih Ya Allah.
Tesss...
Setetes air mata haru mengalir di pipinya. Segera dia hapus dengan pungung tangannya. Saat ini adalah waktunya bahagia bukan bersedih.
Cukup banyak tamu yang datang silih berganti menyalami pengantin dengan berbagai do'a yang mereka ucapkan. Banyak juga para wanita wanita cantik yang menatap Anista dengan sinis dan seolah tidak rela jika Yudha menikahinya.
Evan dan Safira juga terlihat ceria bersama Neneknya dan juga Isni. Kedua anak kecil itu terlihat begitu menggemaskan dengan pakaian rapi yang mereka kenakan dengan warna yang senada.
Semuanya tampak bahagia, begitu pun dengan Hasna yang baru saja datang bersama adik laki lakinya. Gadis itu terlihat ragu saat akan memasuki gedung tempat resepsi perniakahan Anista dan Yudha di langsungkan.
Melihat bagaimana yang datang kebanyakan dari kalangan atas. Bahkan pakaian yang mereka kenakan juga terlihat begitu mahal. Jika bukan karena Anista yang mengundangnya dan memohon agar dia datang di acara ini. Mungkin Hasna tidak akan datang ke acara ini.
"Ayo Kak, apa tidak jadi masuk?" Tanya Hisyam
__ADS_1
"Bentar Syam, Kakak malu" ucap Hasna
Hisyam menghela nafas "Kalo Kakak gak yakin, yaudah kita kembali saja ke rumah"
Hasna menggeleng pelan "Jangan! Kita udah jauh jauh datang kesini. Masa gak jadi masuk? Lagian kita hanya perlu menebalkan muka untuk masuk ke dalam. Dulu'kan kita juga sering datang ke acara acara berkelas seperti ini"
"Hmmm"
Jika sudah membahas masa lalunya, maka Hisyam akan terlihat dingin dan malas membahas masa kelam itu. Kehidupan dia dan kakaknya bahkan harus berubah seratus delapan puluh derajat.
Ya memang dulu hidupnya tidak semenyedihkan ini. Keluarga yang cukup terpandang dan juga kehidupan yang hampir mendekati sempurna.
Baiklah, hanya perlu mengucapkan selamat pada Anista lalu pergi dari pesta ini.
"Ayo kita masuk"
Hasna menggandeng tangan Hisyam dan berjalan masuk ke aula gedung, tempat acara di laksanakan.
Menghapiri dua mempelai yang terlihat begitu bahagia. Wajah mereka tampak bersinar memancarkan kebahagiaan yang sedang mereka rasakan saat ini.
"Nist, selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga yang selalu bahagia"
Hasna memeluk Anista sambil mengelus punggungnya, seperti seorang kakak perempuan yang memberikan selamat di hari pernikahan adiknya dan itu membuat Anista terharu.
"Terimakasih Na, sampai kapan pun kamu teh tetap malaikat yang di kirim Tuhan untuk menolongku" lirih Anista
Mata keduanya sudah mulai berkaca kaca, perasaan haru menyeruak di hati mereka. Bagaikan dua wanita yang di pertemukan dengan kepribadian yang hampir sama membuat kedunya sudah seperti saudara kandung.
Kedua wanita itu melepaskan pelukan mereka. Hasna juga memberikan selamat pada Yudh. Anista menatap anak laki laki yang berwajah dingin dan datar itu.
Namun, bagi orang yang mengalami hal yang sama dengannya pasti tahu jika anak laki laki itu sudah menanggung beban uang berat dan terlalu banyak luka yang dia hadapi selama ini.
"Selamat Teh Nist" ucapnya sambil mencium punggung tangan Anista dan Yudha secara bergantian.
"Terimakasih Syam"
Bersambung
Kalo bikin novel tentang Bima dan Hasna.. Gimana? Pada mau baca gak ??
__ADS_1