Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Cahaya Hidupku


__ADS_3

"Wahh.. Kamu hebat ya Nist, bisa langsung kaya seperti ini. Langsung jadi Sultan Euyy"


"Iya, apa yang kamu pake Nist? Apa kamu teh pake susuk, atau pake pelet sampe bisa mendapatkan suami kaya dan tampan seperti ini. Padahal mah ya, cantikan anak saya dari pada kamu"


Anista hanya tersenyum masam mendengar setiap celotehan para tetangganya. Saat ini Anista sedang membeli sayuran di penjual sayur yang biasa lewat di depan rumahnya.


"Sabaraha° Mang?" tanya Anista setelah si penjual sayur sudah menghitung belanjaannya


(Berapa°)


"57 ribu Neng"


Anista mengangguk lalu dia mengeluarkan uang berwarna merah dari dompetnya dan menyerahkan pada si penjual sayur.


"Huh.. udah jadi orang kaya sombong. Lupa kali ya, dulu dia sama orang tuanya sudah mencemari nama baik kampung kita. Secara hamidun tanpa suami"


Huh...


Anista lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, seperti nya Ibu-ibu di kampungnya belum juga berubah. Masih suka bergosip dan membicarakan segala kesalahan dan keburukan orang lain.


"Maaf Bu, Nist teh gak pake apa-apa. Suami Nist emang mencintai Nist. Tidak ada pelet atau susuk seperti yang Ibu-ibu bicarakan tadi" kata Anista, masih mencoba tersenyum


"Alah.. Ngaku atuh Nist, kamu teh gak perlu bohong. Mana mungkin pria kasep kitu daek ka kamu°"


(Mana mungkin pria tampan kayak gitu mau sama kamu°)


"Iyeu angsulna Neng°" si penjual sayur memberikan uang kembalian pada Anista.


(Ini kembaliaannya Neng°)


Anista mengambil uang pengembalian itu "Nuhun Mang°"


(Terimakasih Mang°)


"Kalo gitu Nist teh pamit dulu ya Bu-Ibu" kata Anista


"Ehh.. Tunggu atuh, kamu teh kan udah jadi orang kaya. Apa gak mau gitu bagi-bagi rezeki ke tetangga"


Anista terdiam, mencoba mengerti apa maksud dari ucapan Ibu berbaju hijau cerah itu. Hah... Anista menghembuskan nafas kasar saat mengerti apa maksud dari ucapan Ibu itu.


"Iya Nist, sebagai tetangga yang dulu juga pernah di repotkan sama Abah dan Ibu kamu" si berbaju hitam ikut menimpali


"Punten atuh Bu, Nist teh teu tiasa sembarangan nganggo uang caroge Nist. Kedah izin heula°" jawab Anista dengan senyuman yang terpaksa


(Maaf Bu, Nist tidak bisa sembarangan pakai uang suami Nist. Harus izin dulu°)


"Halahh.. Dasar pelit, bilang aja kamu teh lupa diri. Kacang lupa kulitnya ya Ibu-ibu" kata si berbaju hijau cerah yang langsung mendapat sorakan dukungan dari yang lainnya.


"Dasar pelit"

__ADS_1


"Gak tau diri"


"Lupa diri"


"Sudah-sudah atuh Ibu-ibu, ini teh kok malah jadi ribut kayak gini" si penjual sayur mencoba menengahi perdebatan Ibu-ibu itu.


"Yaudah Nist teh bayarin semua belanjaan Ibu-ibu" kata Anista akhirnya setelah cukup lama berpikir


Semoga Mas Yudha tidak marah ya..


"Nah gitu dong, baru tetangga yang baik dan pengertian"


Akhirnya Anista membayar semua belanjaan untuk Ibu-ibu di sana. Ada sekitar 5 orang yang berbelanja dan Anista membayar semua belanjaan mereka.


Anista kembali ke rumahnya setelah membayar semua belanjaan orang-orang itu. Hatinya gelisah, takut jika suaminya akan marah jika dia menggunakan uangnya untuk hal seperti ini tanpa meminta izin nya dulu.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Yudha sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Anista berjalan gontai ke arah suaminya, menyalami tangan suaminya sebelum dia ikut duduk di samping Yudha.


"Ada apa hmmm? Kok lemes gitu wajahnya? Terus tadi aku juga denger ribut-ribut di luar" kata Yudha sambil mengelus kepala istrinya


Anista menghela nafas kasar "Maaf ya Mas, aku tadi terpaksa pakai uang kamu buat bayarin belanjaan Ibu-ibu yang ada di sana. Abisnya mereka teh maksa minta di bayarin. Katanya karena aku sudah punya suami kaya"


"Gak papa Sayang, dari pada kamu harus di hina sama mereka. Bayarin aja semua belanjaan mereka, lagian habis berapa si uang yang kamu pake buat bayarin belanjaan mereka?" kata Yudha lembut


"300 Ribu, maaf ya aku abisin uang kamu untuk hal seperti ini" lirih Anista, merasa tidak enak pada suaminya.


Yudha terkekeh "Kirain habis 300 juta, cuma segitu yaudah ikhlasin aja. Kita anggap saja sedekahnya"


Anista melongo mendengar ucapan Yudha yang terdengar begitu santai. Suamiku ini memang benar-benar sultan ya. Lagian mana mungkin belanja sayuran di tukang gerobak sayur bisa habis 300 juta.


"Yaudah kalo gitu aku mau masak dulu, Mas" kata Anista seraya berdiri dari duduknya


"Iya Sayang, nanti habis makan siang kita langsung ke makam Abah sama Ibu" kata Yudha yang di jawab anggukan oleh Anista.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Dua gundukan tanah dengan batu nisan yang namanya berbeda. Anista berjongkok di antara dua gundukan tanah ini. Suami dan anak-anaknya berada di belakangnya. Yudha menggendong Hervin.


Anista mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas makam kedua orang tuanya. Gadis itu terlihat tenang, tidak menangis ataupun bersedih. Karena menurutnya tidak ada lagi yang perlu di tangisi.


Kedua orang tuanya telah bahagia di atas sana, dia pun telah bahagia di dunia ini bersama keluarga kecilnya.


"Abah, Ibu Neng sekarang datang kesini sama keluarga kecil Neng. Do'ain kami selalu bahagia ya, Abah sama Ibu juga semoga bahagia selalu dan di tempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya" lirih Anista dengan senyuman tipis di bibirnya


Cukup lama mereka berada di sana, membacakan do'a dan beberapa ayat suci. Setelahnya Yudha mengajak keluarga kecilnya untuk jalan-jalan di pedesaan ini.

__ADS_1


"Suasana disini bagus ya, sejuk banget" kata Yudha sambil melirik ke luar jendela mobil, melihat pesawahan yang hijau dan indah.


"Iyalah Mas, namanya juga di kampung. Masih asri banget" kata Anista


Yudha menggenggam tangan istrinya, Hervin masih berada di gendongannya. Sementara anak-anak duduk di kursi paling belakang.


Hanya ada Pak Supir yang ikut, sengaja Yudha tidak membawa Isni. Karena hari ini Yudha hanya ingin menikmati liburannya bersama istri dan anak-anaknya.


Mobil berhenti di kawasan kebun teh, pemandangan di sini begitu sejuk dan menenangkan. Ada beberapa kedai makanan dan warung makan lesehan di sekitar kebun teh.


Yudha mengajak keluarga kecilnya untuk makan di salah satu warung lesehan. Anista tentu begitu bersemangat, sejak dulu dia begitu menginginkan makan dan main ke tempat wisata ini.


Tempat ini termasuk tempat wisata yang terkenal di kampungnya. Namun, karena jarak yang cukup jauh dari kampungnya membuat Anista tidak bisa untuk berkunjung ke tempat ini waktu dulu.


Dia hanya bisa mendengar keindahan tempat wisata ini dari teman-temannya yang pernah datang ke tempat ini.


"Mas kok tahu ada tempat ini di sini?" Tanya Anista, matanya berbinar menatap ke sekelilingnya.


"Tentu saja aku tahu, apa kau senang?" kata Yudha


Anista mengangguk dengan senyuman yang tidak pernah hilang di bibirnya "Dulu itu, aku ingin sekali datang ke sini. Tapi, gak pernah kecapaian"


Yudha mengelus rambut istrinya dengan sayang "Mulai sekarang, apapun yang kamu inginkan bicaralah padaku. Aku akan berusaha mewujudkan semua keinginanmu"


Anista tersenyum dan mengangguk "Terimakasih Sayang"


Makanan pesanan mereka datang, Anista begitu berbinar melihat sajian makanan yang berada di atas meja. Nasi liwet khas makanan Sunda dengan segala teman nasi nya.


"Pak kenapa gak makan di sini aja?" Tanya Anista saat Pak Supir malah memilih tempat yang cukup jauh dari tempat mereka.


"Tidak papa Nona, saya ingin makan di sana biar langsung dekat dengan kebun teh"


Anista mengangguk saja mendengar penjelasan Pak Supir.


"Evan, Safira cuci tangannya dulu sebelum makan" kata Anista yang di jawab anggukan oleh kedua anaknya


Keluarga kecil ini menikmati makan sore mereka dengan tenang dan penuh dengan kebahagiaan.


Tidak pernah terpikirkan oleh Anista, jika hidupnya akan sesempurna ini. Hal menyakitkan yang terjadi di kegelapan kamar hotel beberapa tahun lalu adalah awal dari kebahagiaan ini.


Kegelapan di hidup Yudha telah mendapatkan cahaya hidupnya. Anista adalah wanita yang di kirimkan Tuhan untuk memberikan cahaya dalam hidupnya. Akhir dari setiap rintangan dan cobaan yang telah di lewati oleh keduanya. Kini telah berbuah manis.


Mereka telah menjadi keluarga yang bahagia. Meski tidak memungkiri kemungkinan jika akan ada rintangan lain kedepannya. Namun, mereka akan selalu bersama melewati setiap rintangan dan cobaan ke depannya.


"Aku mencintaimu, Sayang. Terimakasih karena telah menjadi Cahaya Hidupku. Light Of My Life" bisik Yudha setelah mereka menyelesaikan makannya


Anista tersenyum "Nist juga sangat mencintai Mas Yudha"


...END...

__ADS_1


__ADS_2