Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Pertemuan Hasna dan Anista (Part 1)


__ADS_3

Hasna terdiam dengan tangan saling bertaut. Bertemu dengan laki laki ini selalu saja membuatnya takut. Tatapan mata tajam itu serasa menusuk ke jantungnya.


Pria tampan namun begitu dingin dan keras itu duduk di apartemen yang di tempati oleh Hasna selama seminggu ini.


Jika saja bukan pria di depannya ini yang memberi perintah padanaya. Mungkin Hasna tidak akan meninggalkan adiknya yang masih kecil di kota tempat dia tinggal.


Namun, Hasna juga harus segera menyelesaikan masalah ini. Apalagi saat Bima mengatakan jika gadis yang dulu dia tidak sempat tolong ada di sini.


"Kau harus bertemu dengannya, saat ini dia sedang ada di kota ini bersama calon suaminya"


Itulah yang di katakan Bima padanya, jujur saja Hasna juga ingin bertemu langsung dengannya dan meminta maaf karna tidak bisa menolongnya saat itu.


Semoga saja rasa bersalahnya bisa berkurang jika Hasna bisa langsung meminta maaf pada gadis malang itu.


"Sudah siap?" Tanya Bima begitu dingin dan datar


Hasna mengangguk pelan, menghembuskan nafasnya dengan begitu pelan. Takut jika pria di depannya merasa terganggu dengan suara hembusan nafasnya.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang"


Bima berdiri di ikuti dengan Hasna, pria itu menggandeng tangan Hasna dan membawanya keluar dari apartemen.


Deg Deg Deg


Hasna hanya diam dan mengikuti langkah kaki tegap laki laki di depannya. Sementara jantungnya sudah berdebar dengan kencang.


Ya Allah, Na takut.


Bima menyadari kesalahannya, menggandeng tangan seorang wanita dengan selembut ini adalah hal pertama bagi Bima. Biasanya dia bukan menggandeng, tapi menarik tangan para wanita yang berusaha menggodanya demi bisnis orang tua mereka.


Bodoh, kenapa aku sampai melakukan ini?


"Masuk" Bima membuka pintu mobilnya, menyuruh Hasna untuk segera masuk ke dalamnya "Cepat!"


Hasna terperanjat saat suara Bima yang terdengar dingin dan begitu menakutkan untuknya. Dia segera masuk ke dalam mobil Bima itu.


Ya Allah, Na takut. Ayah, Bunda... lindungi Hasna.


Mobil melaju meninggalkan kawasan apartemen mewah itu. Di dalam mobil mewah ini, Hasna merasa berada di dekat jurang yang begitu dalam.


Bahkan dia sama sekali tidak berani bergerak sedikit pun. Hasna hanya duduk diam seperti patung, tanpa berani bersuara. Bernafas pun dia lakukan dengan begitu pelan.


"Kau kenapa?" Tanya Bima, masih fokus pada jalanan di depannya


Hasna mengerjap "Ti..tidak papa, Tuan"

__ADS_1


"Kenapa diam saja seperti mayat hidup? Aku yakin kau bukan wanita pendiam" kata Bima datar


Meskipun aku bukan wanita pendiam, tapi aku juga masih milih milih buat berbicara. Kalo orangnya seperti dia, mana mungkin aku berani bicara banyak banyak.


Hasna menggeleng pelan "Saya tidak papa, Tuan" kau tahu aku sangat takut denganmu.


Bima tidak lagi menjawab membuat Hasna kembali bernafas lega. Setidaknya di ajak bicara oleh Bima lebih menakutkan dari pada di diamkan seperti ini.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Memangnya siapa yang mau bertemu denganku, Mas?" Tanya Anista begitu penasaran


"Sudahlah kau diam saja, nanti juga kau akan tahu sendiri" kata Yudha tenang


"Ishh.." Anista duduk di samping suaminya di sofa ruang tamu "Aku'kan penasaran"


Yudha menarik lembut kepala Anista dan menciumnya "Nanti juga tau sendiri"


Atau jangan jangan Mas Yudha mau mempertemukan aku dengan mantan istrinya itu. Atau bisa saja kalau dia masih istrinya dan Mas Yudha berbohong sama Nist.


Yudha tersenyum geli melihat calon istrinya yang terlihat berfikir keras. Dia tahu jika kepala mungilnya itu pasti tidak bisa berfikir luas.


"Mikirin apa kamu?" Tanya Yudha


Anista mengerjap lalu menoleh dan tersenyum manis pada Yudha "Enggak kok gak mikirin apa apa"


Anista merangkul tangan Yudha dan menyandarkan kepalanya di bahu Yudha "Hehe, gak kok gak mikirin apa apa"


Yudha mencium puncak kepala Anista "Dasar"


"Oh ya Mas, Evan sama Fira kapan pulang?" Tanya Anista


"Mungkin mereka akan lebih lama tinggal di rumah Omanya. Soalnya kita akan pulang ke kampung besok untuk menjemput Abah" jelas Yudha


Anista menjauhkan tubuhnya dari Yudha, tangannya masih menggenggam tangan besar laki laki itu.


"Mas ini gimana si? Masa kita pulang ke kampung, Evan kita tinggalin disini" kesal Anista


"Sayang, kita pulang ke kampungnya juga gak akan lama. Kita cuma menjemput Abah dan membawa Abah kesini. Kalo Evan ikut, kasihan dia harus bolak balik dengan perjalanan jauh" jelas Yudha


Anista menipiskan bibirnya "Ohh, iya juga ya"


Yudha semakin gemas dengan ekspresi wajah bodoh Anista yang terlihat menggemaskan di matanya.


Kamu itu selalu menggemaskan dengan ekspresi apapun.

__ADS_1


Tak lama kemudian Bima datang dengan seorang gadis di belakangnya. Tatapan Anista langsung tertuju pada gadis di belakang Bima. Sementara Hasna masih menunduk diam karna merasa takut dengan keadaan ini.


Siapa gadis di belakang Tuan Bima?


Anista masih belum bisa melihat wajah gadis itu karna dia menunduk. Apa pacarnya Tuan Bima, ya?


"Duduk Bim" kata Yudha


Bima mengangguk lalu dia duduk di sofa depan Yudha. Sementara Hasna bingung harus bagaiamana sekarang.


Yudha berdecak "Ajak gadis itu duduk, Bimaaa.. Pantas saja kau masih jomblo sampai sekarang, tidak ada perhatian nya sama wanita"


Hah?? Terus kalo Tuan Bima masih jomblo, gadis ini siapa?


Anista masih berperang dengan fikirannya sendiri.


Bima mendengus kesal, dia menoleh ke arah Hasna "Duduk!"


Hasna mengangguk lalu duduk di samping Bima. Hasna juga belum melihat dan sadar jika gadis yang ingin di temuinya sudah berada di sana dan sedang menatapnya.


Detik berikutnya Hasna mendongakan wajahnya. Matanya langsung berkaca kaca melihat gadis di depannya. Gadis malang yang dulu tidak sempat dia tolong. Membuat perasaan bersalah itu menghantuinya.


Anista terkejut melihat gadis di depannya. Dia tentu tidak akan pernah melupakan wajah yang dia anggap sebagai malaikat yang menolongnya malam itu.


Dia??


Keduanya masih diam dengan fikiran masing masing. Dua perempuan dengan latar belakang berbeda yang di pertemukan saat kejadian kelam malam itu terjadi.


Anista berdiri dengan mata yang sudah berkaca kaca, tubuhnya bergetar mengingat kejadian di masa lalunya.


Hasna sudah berderai air mata sedari tadi, bersyukur karna gadis malang yang tidak sempat dia tolong masa depannya itu, masih baik baik saja sampai sekarang.


"Teteh yang nolongin Nist malam itu kan?" Tanya Anista dengan suara bergetar


Hasna mengangguk sambil mengusap air matanya "Kamu baik baik saja kan? Maaf karna aku gak bisa nolongin kamu, maaf karna aku gak bisa berbuat apa apa malam itu. Hiks.."


Anista mendekat dan langsung memeluk Hasna. Tangis keduanya pecah, suara isakan begitu terdengar nyaring di ruangan itu.


"Teteh gak salah, Nist juga tau kalo Teteh sudah berusaha buat nolongin Nist. Tapi, kita tak bisa merubah takdir-Nya.. Hiks.. Mungkin ini takdir yang harus di jalani oleh Nist" kata Anista semakin mengeratkan pelukannya dengan isakan semakin jelas terdengar


Sementara Yudha dan Bima hanya diam dengan fikiran masing masing. Namun, ada rasa hangat di hati Yudha saat mendengar Anista menyebut kejadian masa lalu itu sebagai takdirnya.


Itu artinya Anista sudah menerima semua yang telah terjadi di masa lalu antara dirinya dan Yudha.


Bersambung

__ADS_1


Ayo dong like sama komennya..


__ADS_2